(Un)Perfect Night

1228 Words
Usai tiga puluh menit memilih pakaian demi pertemuannya dengan Chris, akhirnya Risma mengakhiri persiapan itu dengan pulasan liptint pink lembut dan semprotan parfum Forest Breeze yang agak terlalu menusuk. Ia memungut ponselnya yang—entah bagaiman terjepit antara dinding dan kasur, lalu segera tancap gas menuju lokasi yang dimaksud bosnya. Kalau boleh jujur, sekarang jantungnya berdetak dengan kecepatan yang tak normal. Ia berusaha menetralisir rasa gugup dengan membuang nafas berkali-kali. Angin malam membelai lehernya lembut, namun keringat dingin masih saja meluncur. Lima belas menit melaju dengan matic putih, gadis itu pun sampai. Selembar kertas berisi pertanyaan telah ia siapkan di meja bersama dengan ponsel yang telah membuka ikon recorder. Risma mengambil kaca kecil sembari menatap penampilannya yang terpoles bedak tipis sekali lagi. Liptint yang memoles kedua belah ranumnya nampak samar. Sebentar lagi dirinya akan bertatap muka dengan Chris. Pertemuan malam ini bahkan lebih mendebarkan daripada panggilan interview kerja. Ia masih diselimuti getaran abnormal, pikirannya jadi setengah waras ketika membayangkan sosok pria bertubuh tegap memandangnya dengan mata sipit yang tajam. Christian—pria itu telah merusak fokusnya. Seketika terlintas di benak Risma, sebuah scene di mana Anastasia Steel mewawancarai CEO besar—Mr. Grey, yang ternyata mengawali kisah mereka dengan cara klise yang romantis. Love journey mereka dimulai dengan cara yang sama, yakni wawancara. Meskipun yah, itu hanya fiksi, ia tak mampu menghindari pikiran bahwa otaknya sedang mengharapkan hal yang sama. Argh, ide itu sangat gila. Bibirnya menyudut secara tak sadar, Risma sudah termakan khayalan. Gadis itu membuyarkan lamunan untuk mengecek sekali lagi lembar pertanyaan dan ponselnya untuk sesi interview mereka. Ia menoleh ke arah pintu kafe, belum ia dapati batang hidung pria berwajah tionghoa itu. Mungkin akan sedikit molor, it’s okay. Risma dengan santai membuka aplikasi chatting untuk pamer pada Nova sekaligus mengucap terimakasih. Sohibnya yang agak geser itu hanya membalas, besok traktir gue bakso beranak dua puluh rebu. Yang ia respon dengan stiker konyol. Namun, meski waktu telah berlalu dan jarum pendek telah menunjuk angka delapan, Chris belum juga datang. Segelas kopi dingin dan tiramisu telah ia habiskan setengah jam yang lalu. Musik jazz yang mengalun membuatnya sedikit ngantuk, Risma bahkan telah memesan kopi yang kedua—sambil berharap bahwa sosok atasannya itu akan datang terburu-buru, mengucap maaf dan memulai inti pertemuan mereka. Debaran gugupnya telah terganti rasa cemas, resah tak karuan karena miskomunikasi antara keduanya. Risma merasa bodoh karena ia lupa bertukar kontak dengan Chris. Ia menaruh ekspektasi yang terlalu tinggi hanya karena mereka pernah tidur serumah. Berpikir bahwa pria sesibuk itu akan on time adalah putusan terbodoh. Risma membuang nafasnya lemas. Seharusnya ia tak terlalu bersemangat sejak awal. “Farisma?” Risma mendongak, mendapati seorang wanita berbalut cardigan yang mendadak muncul di mejanya. “...” Kenapa dia yang muncul? “Boleh saya duduk?” Wanita itu adalah Asna—sekretaris Christian di perusahaan garmen tempatnya bekerja. Sosok cantik berlipstik merah itu datang di tengah penantian Risma yang mulai kehilangan harapan. Ia bilang, Pak Christian sedang sibuk, beliau mendapat panggilan dari anak perusahaannya di Bandung dan harus berangkat malam ini juga. Tak lupa Asna sampaikan kalimat maaf dari pria itu karena telah membuatnya menunggu dan kecewa. Risma mengangguk kecil, “Iya nggak apa-apa.” “Lalu, untuk pertanyaan interview-nya apakah sudah siap?” Gadis itu mengerutkan kening. “Maksudnya gimana ya, Bu?” “Pak Chris tadi pesan, kalau jawaban interview akan dikirim melalui email. Jadi saya datang menggantikan beliau untuk meminta pertanyaan.” jelas Asna dengan satu tarikan senyum. “Sekalian Farisma tulis ya, nama emailnya untuk menerima jawaban nanti.” Semua ini terlalu tiba-tiba. Apa Chris sesibuk itu sampai harus mengutus asistennya? “Yang ini, ya?” tanya Asna sembari menunjuk kertas berentet pertanyaan. Tangan lentik itu menarik kertas miliknya—mengabaikan raut bingung yang masih tercetak di wajah Risma. “Maaf, tapi untuk rekaman wawancaranya?” ia menatap dengan kerutan di dahi. “Untuk itu akan Pak Chris sendiri yang tangani. Farisma tenang aja ya, nanti kalau sudah siap akan kami kasih file-nya. Dan kalau nanti ada yang…” Risma menutup rungu untuk Asna. Netranya mengarah lurus pada iris hitam wanita dua puluhan itu dengan pikiran kosong. Tidak, ia bukan kesal dengan sekretaris sang bos di depannya. Ia hanya jengah karena dibuat menunggu dan berharap terlalu tinggi. Chris adalah pebisnis besar yang diselimuti jadwal padat, seharusnya Risma tak berekspektasi terlalu tinggi. Seharusnya ia marah pada dirinya sendiri. “Farisma? Masih dengar saya?” “Oh, err…, iya.” Risma mengulum bibirnya. “Kalau begitu, saya izin pulang aja kalau begitu.” “Emailnya?” Oh, iya. Risma buru-buru meraih bolpoin dan secarik kertas. “Ini, Bu Asna. Tolong sampaikan ke Pak Christian, terimakasih atas bantuannya. Maaf juga kalau merepotkan.” “Nggak masalah, Farisma. Oh iya,” Asna mengeluarkan secarik kertas kecil. Sebuah kartu nama. Bertuliskan nama Christian Rahardja yang disertai nomor pribadinya—yang tentu untuk urusan bisnis. Ada sebuah logo perusahaan yang tercetak di ujung kartu. “Pak Chris juga titip ini, kalau sewaktu-waktu mau Risma ingin menghubungi beliau. Diterima, ya?” Risma meraihnya. “Terimakasih.” Usai menutup pertemuan, mereka berpisah di area parkir—dengan Asna yang menghampiri mobil berwarna cherry dan Risma yang menghampiri matic putihnya. Sekali lagi, sungguh perbedaan yang kontras, wanita itu jauh lebih mapan, kendaraannya bagus, dan juga cantik. Seketika ia body shaming pada diri sendiri karena bertubuh seperti triplek dibanding Asna yang tampak seperti jam pasir. Kalau Chris normal, ia tentu akan memilih wanita sekelas itu dibanding dirinya. Lagipula benar dugaannya di awal—ia bukan klien penting, tak juga memberi benefit bagi Chris dengan pertemuan ini. Ia rasa ia perlu menghapus semua khayalan fiksi yang tersimpan di otaknya. F*ck. Usai menstarter beberapa kali, akhirnya gadis berstatus mahasiswi itu melajukan motor ke jalan raya. Membaur dengan padatnya kendaraan di waktu yang semakin larut. Ia mengarahkan stang ke beberapa arah sebelum memutuskan untuk pergi ke kost milik Nova. Risma tak berminat pulang, hatinya tak kuat kalau harus menelan kecewa sambil menahan tangis. Jadi, ia putuskan untuk menangis di pundak sahabatnya. Meskipun sebulir dua bulir air telah merembes melalui mata, Risma tetap memfokuskan mata ke jalan. Sayang seribu sayang, gerbang kost Nova telah terkunci. Tak mungkin ia menelpon sahabatnya selarut ini cuma untuk numpang menangis. Meski Nova rela keluar kamar pun, mereka tetap tak akan bertemu karena terhalang gerbang. Risma mengalah—ia mengalah pada dirinya sendiri. Motor matic putih itu akhirnya bergerak menuju rumah. Dengan kecepatan 30 km/jam, Farisma melewati jalur terpanjang menuju kediamannya. Untuk malam ini ia ingin tenggelam di situasi melankolis. Membiarkan kekecewaannya terbang terbawa angin malam. Air matanya masih mengalir. Bersyukurlah ia dengan kaca helm yang menutup muka, tak seorang pun akan tahu bahwa ada gadis pengendara yang tengah menangis. 21.30 “Kok baru pulang? Emang ada kuliah?” Risma menatap ibunya, “Nggak ada. Tadi cuma ngopi.” “Sama Nova?” Risma tak menjawab, gadis itu justru melangkah ke kamarnya dengan gontai disertai debuman pintu yang cukup keras. Nah, sekarang lamat-lamat ia dengar omelan sang ibu yang tak terima dengan sikapnya. Bagus sekali. Drrt. Risma meraih ponsel, mendapati pop-up notifikasi email dari orang tak dikenal. Username orang itu adalah christianrhj— Ia sontak bangun. Membulatkan matanya tak percaya usai membaca sebaris nama itu. Namun yang lebih mengejutkan adalah pesan di badan email yang kira-kira seperti ini, “Kamu udah terima kartu nama dari Asna, kan? Kenapa saya belum terima panggilan masuk apapun dari kamu?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD