Dari dapur kos Nova, menguar aroma nasi goreng pedas yang baru diangkat dari wajan. Bermodal tikar plastik di lantai, gadis ber-pony tail itu dengan lahap menyendokkan nasi yang mengepul. Di sebelahnya ada Risma yang mengaduk jus alpukat.
Dua sejoli ini baru saja melakukan lari pagi yang sudah berbulan-bulan menjadi wacana. Keduanya pulang usai memutari alun-alun kota—mumpung hari minggu, katanya.
“Enak nggak, Ris?” Nova menyeletuk.
“Enak lah, pake micin dua bungkus.”
Kalau boleh jujur, sarapan kali ini memang dibuat sekilat mungkin. Bodo amat dengan micin dua bungkus, itu lebih baik daripada menggeprek bawang sambil menahan lapar.
Sarapan keduanya berjalan dengan khidmat sebelum notifikasi pesan di ponsel Nova menyala kecil. Risma melirik, membaca nama pengirim pesan itu; Mas Pacar ❤
Ewh.
Ia bergidik melihat sohibnya yang ternyata bucin.
Sementara Nova sibuk membalas pesan itu, Risma melanjutkan makan. Sesekali menyeruput jus alpukat sambil membuka ikon kotak email di ponsel.
Ah, benar. Ia belum membalas pesan dari Chris. Sudah beberapa jam sejak pesan elektronik itu masuk dan membuat hatinya bimbang.
Risma sadar kalau ia tak berhak marah usai Chris absen ke pertemuan mereka. Sebenarnya ia masih berterimakasih karena beliau mengutus Asna dan melakukan tanggung jawabnya. Namun, entahlah.
Ia merasa sedikit, kecewa?
Ia dikecewakan oleh ekspektasinya yang terlalu tinggi. Risma menutup ikon aplikasi email dan menonaktifkan ponsel. Ia menghembus dengan kasar.
“Coy!” Nova mendorong bahunya. “Kesambet apa sih, lo? Diem bae dari tadi.”
Risma tersenyum kikuk. “Nggak apa-apa.”
“Belum bayar tagihan pay later, lo? Nggak usah stress, bentar lagi gajian.”
Risma hanya mendelik. Tak habis pikir dengan Nova yang mulutnya tak terkondisikan itu. Meski beberapa saat kemudian sesi sarapan berlanjut, notifikasi ponsel si pemilik kamar kos tak juga berhenti. Nama Mas Pacar terus muncul di notification bar milik Nova. Gadis itu berkali-kali mengetikkan balasan usai menyuapkan sesendok nasi goreng.
Multitasking di situasi seperti ini sangat tak efisien.
“Lo telpon aja gimana, Nov? Capek gue liat lo makan-ngetik-makan-ngetik mulu dari tadi.”
Nova menyahut, “Iye-iye. Nggak usah lo omongin juga mau ke depan gue.”
Akhirnya si pemilik kamar melangkah ke dapur selagi menerima panggilan. Seperginya Nova, Risma melanjutkan makan paginya yang tinggal setengah porsi. Ia merogoh pouch bag untuk mengambil tisu basah. Namun bukannya kemasan tisu, justru kartu nama berlogo Rahardja yang tangannya raih.
Kertas tebal berukuran kecil itu cukup membuatnya mematung sepersekian detik—sempat terbesit ide untuk menyimpan nomor milik bos besar itu kalau hatinya tak kembali bimbang.
Apa gue nunggu file interview dari Pak Chris aja, ya?
Risma berpikir sejenak.
Tapi, nanti nggak sopan dong kalau dateng pas terima jadi doang? Apa gue basa-basi dulu aja ya, di chat?
Hati kecilnya memutuskan untuk meraih kartu itu. Berniat untuk menginput deretan nomor Christian. Risma mengaktifkan ponselnya beberapa saat, bertepatan dengan kembalinya Nova yang perlahan masuk ke dalam kamar.
Ia berceletuk, “Nov, minta pendapat, dong. Kalo seumpama gue chat—”
“Ris, maaf nih, sebelumnya. Gue lupa kalo hari ini mau jalan. Sebenernya dari tadi gue udah nolak karena lo masih di sini, tapi doi malah maksa.”
…
“Lo nggak apa-apa kan, kalau gue tinggal? Paling dua jam-an. Lo rebahan di sini juga nggak apa-apa. Kalo laper tinggal ngambil snack di laci.”
“Nggak apa-apa, Nov. Santai. Gue juga mau pulang.”
“Beneran?”
Risma mengangguk sambil tersenyum.
“Padahal lo udah pesen mau curhat. Sori ya, mendadak gue batalin. Besok deh, atau nanti malem kalo mau curhat, tinggal kesini aja.”
Risma hanya mengucap kata tak apa-apa. Ia menampilkan gestur santai untuk menetralisir rasa bersalah kawannya. Beberapa suapan terakhir nasi goreng, dan mereka pun mengemasi kekacauan di kamar itu ke wastafel cuci.
08.25
Risma selesai memulas lipstik, pula dengan aroma manis yang ia semprotkan dari Forest Breeze-nya. Meskipun rencana untuk stay di kosan seharian harus batal, ia tetap berterimakasih karena Nova telah menjadi tempat mengungsinya pagi ini.
Mereka berpisah ketika Risma mulai menstarter motornya—menjauhi area kost.
Matic putih itu ia setir perlahan di jalanan minggu yang cukup padat, melewati beberapa lampu merah, lalu menepi di sebuah coffee shop seberang mall. Risma menenteng sling bag putihnya sambil mencabut kunci motor. Ia masuk dengan langkah ringan lalu mendorong pintu kaca yang menimbulkan denting lonceng nyaring. Usai memesan segelas Frappe di counter, gadis berambut sebahu itu mendudukkan dirinya di bangku paling ujung—ditemani tanaman kaktus yang menghiasi kusen jendela.
Satu hal yang ia lupa minta; password wi-fi.
“Mas, mas. Permisi, boleh tanya—”
Salah satu barista menoleh. Kalimat Risma terhenti. “Kak Sam?”
“Loh, Farisma?”
“Lo kerja di sini ternyata?”
“Iya,” jawab Sam. “Lo tumben ke sini? Biasanya kalo minggu masih molor.”
Sam menarik kursi di depan Risma. Keduanya lantas melanjutkan percakapan seperti kerabat jauh yang sedekade tak bertemu. Samuel atau yang Risma panggil Kak Sam ini adalah kawan sekelasnya di kuliah malam. Mereka terpaut tiga tahun dengan Risma yang lebih muda.
Sebenarnya si Sam ini sempat ngampus di Universitas bergengsi di Yogyakarta, namun terpaksa drop-out karena alasan yang tak terlalu jelas.
Pria dengan style rambut curtains ini sudah Risma anggap seperti abang karena cara berbicaranya yang dewasa. Dalam satu semester, Sam juga sudah beberapa kali menjadi partner kelompok Risma—ia cerdas, juga supel. Berbicaranya selancar penyiar radio yang membuat siapapun nyaman berkomunikasi.
“Gue nggak tau kalo lo ternyata kerja di sini,” ucap Risma sambil menyeruput kopinya yang tiba dua menit lalu. “Dulu pas perkenalan bilangnya cuma kerja jadi barista, ternyata barista di sini, toh?”
Sam hanya terkekeh. “Kalo gue bilang, jatuhnya malah promosi, dong. Lagian gue nggak terlalu nyaman kalo ada temen sekampus ke sini.”
“Oh, berarti gue ganggu, dong?”
“Khusus lo nggak,” jawab Sam disertai senyum. “Nggak salah.”
Rese’ lo!
Sam tergelak diiringi kekehan kecil Risma. Mereka memandangi frappe dan tahu s**u yang tersaji di mangkok kecil, sebelum yang lebih tua mulai berceletuk.
“Makalah lo gimana kabar? Dah kelar?”
Risma mengisap minumannya. “Boro-boro, narasumbernya aja suka ngaret.”
“Siapa emang yang lo interview?”
“Ada.” Risma mendadak malas melanjutkan. “Someone.”
“Bos lo?”
Mata Risma membulat. “Kok lo tau?”
“Nebak aja sih, temen-temen sekelas juga gitu. Lagian gimana ceritanya lo bisa interview tuh orang?”
Sebenarnya Risma malas menjelaskan, namun kekesalan di hatinya seolah meletup dan sukar dibendung. Tak butuh waktu lama baginya untuk melepas uneg-uneg itu. Mulai dari Chris yang indirectly membatalkan janji temu—mengirim asistennya, serta puncaknya pagi ini ketika Nova membatalkan jadwal stay in kostan karena harus meladeni Mas Pacar. Ia kesal karena kesialan datang bertubi-tubi.
Risma kembali menenggak frappe karamelnya, lalu mencomot camilan lembut itu. Masih ditemani Sam yang perlahan ikut ngemil juga.
“Sebenernya kekecewaan itu nggak bakal seberapa kalo lo nggak naruh hati sama si Pak Bos.”
“Pak Chris?” Risma terkekeh. “Naruh hati paan si, gue nggak—”
“Nggak nyangkal?”
“Beneran enggak, anjir.”
“Terus kenapa kecewa?”
Sam benar. Risma sadar ia tak akan seterluka ini kalau perasaannya pada Chris tak tersulut. Karena sekali lagi, ekspektasilah yang mengecewakannya. Christian adalah seorang eksekutif, urgensi di perusahaan jauh lebih penting daripada meeting tak ber-benefit dengannya.
“Chris Rahardja, hmm…” Sam menggumam.
Beberapa saat kemudian, orang itu meng-unlock ponselnya. Menggeser-geser sebentar sebelum menunjukkan foto pria berkulit pucat berjas abu pastel di tengah-tengah ball room.
Gadis ini kontan tersedak, “Kok lo punya foto Pak Chris?”
“Iyalah, dia temen papa gue.”
Ia melotot.
“Gue yang motoin mereka di acara launching, or whatever lah. Nah, sebelahnya ini papa.”
“Hah, gimana ceritanya sih, kak? Kok lo kok bisa se-party sama bos gue.”
“Jadi, papa itu—”
“Bos!”
Sam menoleh, menatap seorang barista bercelemek hitam yang memanggilnya. “Iya, Rin?”
Kok, bos?
“Jangan bilang lo ownernya…” Risma menyipit pada Sam yang hanya memandang datar.
“Santai aja kali, jangan horror gitu liatnya.”
“Mas-nya baru aja manggil lo, bos. Kok lo nggak pernah ngomong kalo punya kafe, sih? What the hell?!”
Sam terkekeh sambil menggeleng. “Gue emang yang punya tempat ini, tapi secara tertulis papa pemiliknya. Ini beliau beli franchise coffee shop dari bos lo itu, si Chris.”
Sebentar, Risma masih memproses.
“Makanya mereka pernah se-frame di pesta tadi. Udah ye, gue tinggal. Kalo habis, pesen lagi aja nanti gue bayarin.” tukas Sam sambil berjalan menjauh.
“Oh iya, kalo mau masalah lo cepet clear,” telunjuk Sam mengarah ke pintu depan, “Buruan ngomong sama orangnya noh, di depan!”