Sebenarnya Samuel tak terlalu familiar dengan pria berjuluk Christian. Mereka hanya pernah bertemu sekelebat di pesta dan peresmian milik kolega papanya, tak lebih.
Beberapa baristanya bilang bahwa Chris pernah mengunjungi gerai mereka untuk memonitor kerja—kebetulan pada waktu itu Sam sedang tak ada di tempat, makanya ia samar dengan sosok pria bermarga Rahardja itu.
Minggu pagi, ketika kedai baru buka tiga puluh menit—ia mendapati sosok Farisma yang duduk di bangku ujung dengan muka tertekuk. Awalnya ia ingin mengejutkan sosok teman ngampusnya itu, namun batal karena Risma justru menegur lebih dulu untuk menanyakan password wi-fi.
Mereka mengobrol hingga berujung ke sesi curhat Risma yang habis dikecewakan si bos tadi malam.
Namun entah bagaimana, seolah mendapat sinyal, Chris justru datang ke coffee shop itu.
Apalagi setelah Sam bilang, “Dan kalo mau masalah lo cepet clear, buruan ngomong sama orangnya. Noh, di depan!”
Risma terkejut bukan main. Netranya menangkap sesosok pria berkulit pucat dengan polo shirt dan celana selutut yang baru saja melewati pintu kaca. Di telinga kirinya terselip Airpods putih dan handbag mini, seperti Chindo pada umumnya.
Namun, bukan itu yang menjadi konsennya. Melainkan bagaimana Christian hadir di sini saat ia punya urgent di Bandung?
“Pak Chris,” Risma spontan.
“Risma?”
“Bukannya di Bandung?”
Selama dua insan itu masih beradaptasi dengan keterkejutannya, Sam melirik dari meja kasir, terkikik.
“Iya, tadi malam saya memang di Bandung.” ucapnya sambil menggeser kursi yang baru ditempati Sam. “Baru pulang jam 2 tadi.”
Ooh. Kepala Risma mengangguk kecil. Wajah mereka sama-sama linglung.
Ya ampun, awkward sekali.
“Kamu sendiri, biasa ke sini?”
Risma menggeleng, ia bingung merespon. Sebenarnya ada banyak hal yang berkecamuk di otaknya, soal mengapa pria itu bisa di sini sepagi ini, bagaimana pertemuan mereka yang tak sengaja batal, dan urgensi apa yang ada di Bandung—namun mulutnya memilih diam. Mengisap Frappe dengan sangat canggung.
“Kamu sudah terima kartu nama saya?”
Ah, itu lagi.
“Sudah, pak.” Risma tersenyum.
“Kamu terima email saya, nggak?”
Risma mengangguk lagi.
“Kenapa nggak direspon?”
Gadis itu terdiam, jari lentiknya merapikan anak rambut yang terjatuh ke pipi. “Maaf pak, karena emailnya masuk pas udah malem, jadi saya keburu ngantuk. Niatnya mau balas hari ini, tapi kelupaan, hehe…”
“Uhm…” Chris tersenyum menjeda. “Maafin saya ya, bikin kamu nunggu lama tadi malem.”
Risma menatap kedua mata sipit itu.
“Sebenernya tadi malem nggak urgent banget sih. Karyawan di Bandung ngasih kabar simpang siur yang bikin saya mau nggak mau harus ke sana. Malemnya pas udah nyampe, saya justru kena prank. Ruangan saya full sama confetti dan balon-balon. Ternyata mereka cuma mau ngasih surprise ultah, jadi pas acaranya selesai saya bisa langsung pulang.”
Karyawan sialan. “Oh, haha. Bapak ulangtahun?”
Risma menyesali pertanyaan retorisnya.
“Iya, makanya saya planning interview-nya tadi malem, sekalian mau traktir kamu menu yang simpel dan selebrasi kecil-kecilan.”
Diam-diam Risma menahan senyumnya. Rasa kecewa yang bekas semalam seolah hilang terbawa air. Pipinya semakin memerah ketika Chris bilang ingin membawanya ke rooftop gedung perusahaan yang memiliki view paling indah di malam hari. Namun sayang, rencana terstruktur itu harus gagal karena kekonyolan karyawannya.
“Jadi, sekali lagi maaf ya, kalau bikin kamu nunggu. Soalnya kita sama-sama lupa nggak minta nomor kontak.”
“It’s fine, Pak Chris. Saya ngerti,” tukas Risma. “Lalu, untuk interview apa sebaiknya dilanjutkan?”
***
“Udah pasang seatbelt?”
Risma mengangguk. Ia menyamankan tubuh sambil menunggu pria di sampingnya menginjak pedal gas. Hawa dingin menyeruak tipis dari AC mobil diikuti aroma lavender yang lembut.
Senyum gadis itu mengembang, diam-diam mengagumi figur Christian dari samping yang menonjolkan rahang tegas. Wajah pucatnya tampak kontras dengan comma hair miliknya yang gelap.
Usai Chris memutar musik di playlist, mobil hitam itu menjauh dari zona parkir. Keduanya hanyut dalam atmosfir pagi yang hangat dan si pengemudi yang bersenandung ringan. Audi hitam yang mengangkut dua insan itu membaur di jalan aspal.
Setelah perbincangan intens di kedai kopi tadi, mereka sepakat untuk re-schedule jadwal interview tadi malam. Risma menyetujui ajakan Chris untuk pergi ke gedung perusahaan miliknya. Ia titipkan motornya di garasi khusus karyawan coffee shop milik Sam untuk sementara.
Di dalam Audi, ia duduk menjadi passanger princess-nya Chris.
“Perusahaan bapak tetap beroperasi kalo weekend?”
Chris mengangguk. “Kalo sewaktu-waktu ada urgensi, saya nggak perlu repot. Makanya ada security khusus yang shift-nya malam sekaligus weekend.” jelasnya, sambil memutar stir.
Gadis yang duduk di jok samping manggut-manggut. “Di perusahaan sering ada masalah urgent ya, Pak?”
“Not really, tapi kalo lembur sering. Beberapa karyawan di departemen tertentu ada yang masuk pas weekend kalo emang company lagi repot banget, pas mau launch produk baru misalnya…”
Risma menyimak dengan seksama.
Dengan inisiatif yang muncul terlambat, ia merogoh buku saku dari dalam tas untuk mencatat poin-poin penting dari penjelasan bosnya. Atmosfir yang menyelimuti mereka persis seperti kuliah umum di kampus.
Sembari memandang aspal, Risma sesekali menorehkan penanya ke catatan untuk menulis kalimat yang lebih mirip resep dokter—hampir tak terbaca.
“Kamu ngapain nyatat?”
“Untuk bahan makalah saya.”
“Padahal saya nge-record loh, dari tadi.”
Oh, ya?
Risma hanya tersenyum sambil menghembuskan nafas kesal. Ia kembali menyimpan buku kecilnya ke dalam tas, cukup membuat pria bermata minimalis itu terkekeh.
“Saya tau kamu bakal tanya-tanya soal perusahaan, jadi saya siapin hape buat ngerekam. Kalu mau, nanti saya kirim.”
Risma mengucap terimakasih.
“Tapi saya belum tahu nomor kamu, loh. Apa mau saya kirim lewat email aja rekamannya?”
Dasar modus.
“Bentar. Saya save dulu aja nomor Pak Chris, nanti saya miscall.”
“Nih,” Chris mengulurkan ponselnya. “Ketik aja nomor hape kamu di sini, nanti saya duluan yang contact.”
Risma menerima uluran ponsel itu. Entah perasaannya saja atau bagaimana, namun wajah Chris nampak bersemu setelah membaca nama Risma yang tertulis di ponselnya. Bibirnya nampak tertahan untuk tidak tersenyum. Dengan satu tangan memegang stir, dia mencoba untuk mengirim audio rekaman ke nomor Risma.
“Bapak fokus aja nyetirnya, biar saya.”
Risma kembali mengambil alih ponsel itu, mengirim file audio dengan cekatan. Usai notifikasi pesan di ponselnya masuk, Risma buru-buru mengecek nomor milik pria itu. Agak mengernyit ketika ia menyadari sesuatu yang berbeda.
Risma meraih kartu nama Christian pemberian asistennya semalam. Berbeda dengan nomor di kontaknya.
“Maaf tapi, nomor di kartu nama dengan yang di hape kok beda ya, Pak?”
“Contact person di kartu nama itu buat bisnis, sedangkan yang saya pake buat ngirim audio tadi nomor pribadi.” jelasnya. “Khusus buat kontak orang-orang terdekat aja.”
Risma mematung.
“Bahkan, Asna yang sekretaris saya aja, nggak tau kalau saya punya nomor lain.” Chris terkekeh, tak menghiraukan gelagat gadis di sampingnya yang berubah gugup. “Biasanya yang tau nomor pribadi saya ya, paling temen-temen, cici sama koko, dan orangtua saya aja, sih.”
Risma berdeham, masih dengan muka yang memerah—ia mengembalikan ponsel berlogo apel milik pria di sampingnya. Ia tak tahan untuk menahan senyum. Lesung pipinya muncul. Perasaannya tak mampu berbohong, ada rasa senang yang membuncah dari hatinya.
Ia semakin memerah tatkala Chris tiba-tiba berceletuk, “Kamu lucu kalo salting.”