Usai dua puluh menit, Audi hitam milik Chris tiba di depan gedung besar berukir huruf C’s di depannya. Bangunan yang nampak seperti batangan logam raksasa itu berhasil membuat Risma tercenung dengan mulut menganga. Ia pernah sekilas melewati lokasi itu, namun tak menyangka bahwa ukurannya semegah ini.
“Risma?” Chris menepuk bahunya pelan. “Ayo, kenapa diem aja?”
Gadis itu tersenyum kikuk, lalu mulai mengekori bosnya dari belakang. Keduanya melewati revolving door yang dijaga oleh pria berjas rapi.
Momen di kala ia masuk dan menginjak lantai marmer gedung itu, hawa dingin langsung menyeruak dan menembus kulit. Ia memandang tiap sudut ruangan yang ditempati furnitur mewah. Ada sofa tunggu khusus klien yang disertai meja panjang tembus pandang—cukup untuk beberapa orang. Meja berbentuk balok itu nampak indah karena diisi beberapa ekor ikan, berkonsep akuarium.
“Apa hari ini ada yang lembur?” tanya gadis itu sambil menatap punggung Chris.
“Hari ini nggak, soalnya produk baru udah di-launch minggu lalu.”
Pria bermata sipit itu memencet tombol lift. Ia masuk diikuti Risma untuk naik ke lantai duapuluh satu—tempat di mana ruang pribadinya berada.
Chris berdiri santai tanpa mengetahi Risma yang sudah berpegangan pada dinding lift. Gadis yang mematung di belakangnya itu berkeringat dingin, tangannya terkepal sambil melafalkan kalimat acak. Beberapa kali ia hembuskan nafas dari mulut, menetralisir rasa takut.
“Risma?” Chris mengernyit. “You okay?”
Gadis itu mengangguk patah-patah. “Saya…, nggak apa-apa. Pak Chris,”
Bohong.
Kedua iris cantik itu berkata sebaliknya, Chris bahkan bisa melihat tangannya yang tremor. Entah apa yang pernah dialami gadis itu dulu, namun ia tak terlihat baik-baik saja.
Chris mensejajarkan tubuhnya. “It’s okay.” lalu menggenggam tangan Risma lembut.
Telapak besar itu meremat tangannya—seolah berusaha mengambil alih ketakutan yang menggerayang. Pria pemilik gedung sebesar ini bahkan tak ragu untuk mengelus punggung tangan Risma beberapa kali, menatap matanya dan memberikan senyum.
“Better?” Chris berucap dengan suara terdalam, disertai segaris senyum tipis.
“…Ya.”
Tak pernah Risma bayangkan momen klise di seperti ini akan datang juga. Hatinya bahkan merasa lebih tremor sekarang, beralih dari gugup ke perasaan berdebar. Ia merasa waktu berpusat pada mereka dan detik berhenti saat itu juga.
Atensinya tersedot ke mata sipit milik Chris, mengeksplor lebih dalam pandangan itu.
Kamu punya trauma?
Risma mengangguk. “Sudah lama, sepuluh tahun lalu mungkin.”
Chris mendengarkan rentetan kalimat gadis di sampingnya dengan seksama, menyimak cerita Risma yang pernah terjebak dalam lift macet di sebuah mall. Waktu masih sembilan tahun, Risma bilang, ia pergi ke sebuah mall yang baru selesai dibangun bersama bibinya.
Semua berjalan baik-baik saja sampai ketika mereka pulang, lift yang ditumpangi macet dan menimbulkan deritan keras. Lampu lift berkedip cepat dan hingga saat ini menimbulkan kenangan pahit di otaknya.
“Makanya waktu Bapak bilang ke lantai dua puluh satu, saya langsung keinget.”
Chris memandang prihatin, “Kamu selalu seperti ini kalau naik lift?”
“Nggak selalu. Awalnya memang takut, tapi kalau sekedar ke lantai dua, masih bisa saya tolerir.”
Keduanya sibuk mendiskusikan trauma masa kecil Risma, hingga tak sadar bahwa lift telah berdenting. Pintunya terbuka dan tangan Chris yang tadinya tergenggam di milik Risma, terlepas begitu saja.
“Maaf, tangan saya keringetan, ya?”
Nggak, pak. Justru saya yang keringet dingin dipegang Bapak, batin Risma menjerit.
Gadis itu hanya menggeleng sambil tersenyum tipis. Ia mengikuti si bos menuju ruangan super megah yang selama ini menjadi tempat kerjanya.
Ruangan pribadi milik Chris nampak amat sangat indah—dikelilingi dinding kaca yang memperlihatkan view kota metropolis secara langsung. Di sana ada satu set meja kerja beserta detail peralatan kantor dan map berkas.
Sebuah bingkai kecil berisi foto Chris dan orangtuanya di acara wisuda turut mempercantik area itu. Di sisi kiri ruangan, tersedia sofa empuk berwarna beige yang serasi dengan lantai. Pula satu rak besar berisi buku bacaan berat yang dirawat oleh si empunya seorang.
“Kita mulai interview-nya?”
Risma mengangguki pertanyaan Chris, namun matanya masih jelalatan ke seisi ruangan.
“Kalau mau lihat-lihat dulu, silakan. Saya nggak buru-buru, kok.” ucap pria itu usai terkekeh.
“Ehe, nggak usah, Pak. Kita langsung mulai aja, mempersingkat durasi.”
“Oke.” Chris mengambil jas, membalut tubuhnya dengan kilat dan duduk di kursi kerja.
Sebuah kamera telah di-set dengan baik untuk merekam. Risma memberikan serentetan pertanyaan untuk Chris selama interview. Meski suara pria itu telah masuk recorder, sesekali ia mengambil poin penting untuk dicatat. Sengaja dirinya tulis untuk dikembangkan kembali di bagian isi makalah.
Kegiatan mereka berlangsung selama enam puluh menit, termasuk transfer file ke komputer. Tangan berurat milik Chris bergerak cepat mengerjakan video singkat itu, dan memberikannya pada Risma dalam USB. Keduanya pun sepakat untuk turun dan memesan makanan cepat saji di aplikasi. Sang gadis hanya berkata, “Saya ngikut bapak aja menunya.” yang langsung diangguki oleh Chris.
Risma menyeletuk lagi, “Di ruang kerja seluas tadi, bapak pernah nggak merasa jenuh?”
“Sering,” jawab Chris cepat. “Saya bahkan pernah punya plan untuk melebur ruang kerja saya dan manajer.”
Ia menyimak.
“Tapi setiap muncul pikiran jenuh, saya berusaha untuk cepat fokus lagi, atau keluar beli kopi dan nyapa karyawan. Jadi saya bisa ngerasa ‘hidup’, dan tahu bahwa di gedung sebesar ini ada ratusan orang lain yang berusaha bareng saya.”
“Ternyata kerja di ruangan berfasilitas lengkap seperti bapak masih bisa jenuh juga, ya?”
“Tentu, dong.” Chris merapikan anak rambut di dahi Risma yang terjatuh. “Faktor jenuh muncul karena kegiatan yang diulang-ulang.”
Gadis itu menggigit bibir dalamnya—menahan napas. “Hu’m, k-kadang saya juga gitu.”
Chris membuat jantungnya berdetak di kecepatan yang tak normal. Risma meneguk air di depannya hingga tersisa sepertiga. Mengabaikan pria di depannya yang terkekeh, membentuk mata bulan sabit, “Pipi kamu merah, tuh.”
Risma buru-buru memundurkan tubuh, memegangi pipinya dengan punggung tangan. Sekian detik kemudian, gadis itu mendadak berbalik dan berlari kecil.
“Saya mau ke kamar mandi dulu.” ucapnya setengah menciut.
Chris tertawa. “Kamu salah arah! Toiletnya di belakang, kamu mah ke resepsionis itu.”
Gadis yang menjadi karyawan garmennya itu tersenyum malu, ia meringis kecil sambil memutar tubtuh ke arah yang berlawanan. Kaki-kaki mungilnya berlari seperti itik.
Drrt.
Ponsel di sakunya bergetar, muncul notifikasi pesan dari Januar; asisten pribadinya.
Message : Urgent
“Akal-akalan siapa lagi, nih?” Chris menelpon asistennya.
Januar mendengus dari seberang telepon, “Ini urgent beneran, Chris. Kalo bisa lo ke Bandung sekarang.”
Usai menyampaikan masalah di resto Bandung miliknya, Januar hanya bilang ia akan menunggu secepatnya. Chris tak mampu mengelak kalau ia sampai harus turun tangan.
“Pak Chris?”
Pria itu menoleh pada Risma yang muncul dari belakang.
“Makanannya belum datang?”
“Risma, sori banget. Saya ada urusan mendadak, jadi harus ke Bandung sekarang juga.”
“Oh, silakan. Sekalian saya pamit mau pulang.”
“Oke, saya anter.”
“Nggak, nggak usah. Saya pesen ojek aja nggak apa-apa.” Risma mengambil sling bag-nya. “Bandung pasti lebih penting, saya pulang sendiri nggak apa-apa, kok.”
Meski tak ada rasa sesal di wajah Risma, Chris tetap merasa tindakannya kurang tepat. Ia merasa tak enak hati kalau membiarkan gadis ini kembali ke tempat Sam dengan ojek.
Bukannya apa-apa, ia cuma merasa harus bertanggung jawab setelah ‘menyeret’ gadis itu ke tempatnya.
“Beneran?” yang langsung diangguki oleh si gadis.
Usai mengucap salam singkat, Risma berbalik. Ia bergegas menuju revolving door,
tanpa menyadari sosok Chris yang mengikutinya.
“Lho,” tangan Risma dicekal. “Ada apa, Pak Chris?”
…
Pria sipit itu membasahi kedua belah bibirnya, “Saya ingin kamu ikut saya.”