Mereka berciuman. Intens. Suatu hal yang lumrah bagi Chris untuk melakukan morning kiss semacam itu. Namun Farisma? Jangan tanya. Jantungnya bergejolak tak karuan. Ia sedikit melenguh saat merasakan lidah pria itu masuk ke mulutnya. Di detik ke-7, mereka sama-sama melepas tautan. Mengambil napas. Mengusap sisa-sisa di mulutnya, Risma tak berani menatap netra pria berwajah teduh itu. Keduanya terdiam. “See?” ucap Chris. “I’m still good at kissing, right?” Ucapnya yang ternyata tertuju pada Januar. Sohib yang merangkap menjadi asisten itu telah berdiri di balik dinding. Dengan tubuh bersandar, Januar ternyata menonton kegiatan intens itu; tanpa sepengetahuan si gadis. “Not bad lah, dari sebelumnya.” Kedua pria ini tertawa. Seolah menganggap Farisma ikut dalam jokes mereka. Dengan sant

