“Yah, aku pulang.” Rumahnya kosong. Tuan Haris—ayah Risma sedang tak di tempat. Sementara ibunya sibuk memetik kangkung di dapur. “Ayah kemana?” Risna menenggak air mineral. “Buk?” “...” “Ibuk!” “Ke bengkel.” wanita itu akhirnya menyahut. Masih dengan tumpukan kangkungnya. Mereka terdiam sejenak. Setelah peristiwa beberapa waktu lalu, saat Risma pulang pagi diantar oleh Sam, hubungan mereka memang berjarak. Wanita yang ia panggil ibu itu tak lagi menceramahinya dengan emosi berapi-api, namun memilih diam seperti tak tinggal di rumah yang sama. Banyak omongan yang ia terima usai malam itu, dan Risma paham seberapa terlukanya ibu. Ibu pasti tambah terluka kalau tahu dirinya hampir bertindak asusila dengan Sam. “Aku nanti malem nggak ikut ke rumah tante, aku ada kuliah.” tukas Risma

