Pekerjaan selesai, akhirnya aku bisa pulang.
Aku mengusap kursi yang diduduki hampir empat jam lamanya, sudah larut malam. Aku melihat jam dipergelangan tangan, lebih cepat daripada lemburan lalu. Setidaknya, ada kemajuan dari orang sepayah aku kan?
Aku siap, Arkan keluar ruangan. Mata kami sempat bertemu sampai akhirnya aku memilih pura – pura merapikan isi tas. Arkan berjalan mendekati kubikel, sepertinya akan mengucapkan terima kasih, harapan kosong dari seorang kacung.
" Thanks An, sudah bantu saya malam ini."
Oke, menjadi sebuah kebenaran. Aku sampai mengorek telinga, benar tidak bos menyebalkan itu mengeluarkan kata – kata terima kasih.
Aku mengangguk." Sama – sama Pak," merasa tidak enak sebab tadi sudah bersikap berlebihan.
" Pulang bareng saja, kita searah kan?"
" Eh, enggak pak, " aku menggeleng cepat." Saya balik sendiri, ada urusan juga sih malam ini." Sengaja menghindar, aku paling tidak suka merepotkan oranglain kecuali Bagas.
" Urusan apa malam – malam begini?" Arkan memastikan angka jam ditangannya.
" Tidak harus kan bapak tahu privasi orang lain," aku mematikan lampu ruangan, tersisa satu saja sebelum kami keluar.
Arkan menghela napas, menatap datar padaku." Kamu sakit?"
" Bapak lagi perhatian?" Aku terkekeh, melangkah keluar dan dibarengi Arkan." Sepertinya kebanyakan diajak lembur, masuk angin gitu."
Arkan manggut – manggut." Masuk angin enggak buat kamu bunting kan?"
Aku nyaris melempar botol minuman yang masih terisi setengah kearah wajah Arkan.
" Kalau masuk angin ya minum obat, percuma perusahaan memberi kamu jaminan kesehatan." Lanjut Arkan menyelesaikan ucapan yang sempat tertunda.
Aku malas menjawab, memilih diam dan memperlebar langkah." Bapak balik sendiri saja, saya biasa naik taksi kok."
" Bahaya perempuan malam – malam naik taksi, An." Arkan menahan lenganku," saya antar balik."
Aku tertawa, pelan – pelan melepaskan tangan Arkan." Ini Kota Pak, sekalipun mabuk bisa pulang dengan selamat sampai rumah."
" Itu kan mereka, bukan kamu." Jawabnya tanpa ekspresi.
Oke, aku hanya berdehem. Malas berdebat juga setelah lelah menghadapi pekerjaan yang memeras otak, aku ikut masuk kedalam mobil seperti yang Arkan inginkan.
Wangi, rapi dan bersih.
" Ya, saya memang tipe orang yang perfeksionis." Ujarnya mengerti apa yang sedang aku pikirkan setelah duduk manis di sebelah Arkan.
Bodo amat, aku tidak menanggapi apapun ucapan tadi dan memilih memejamkan mata. Hingga tangan Arkan melingkar di pinggang, aku terkejut setengah mati.
" Pasang seatbelt." Ujarnya, padahal wajah kami hampir tidak berjarak. Aku menahan nafas, jangan sampai tingkah Arkan membuat aku seperti orang bodoh yang tidak pernah mendapatkan perhatian.
Ingat An, lo jomblo baru sehari!
*****
Arkan putra : Andini
Hampir saja mataku copot membaca pesan masuk dari Arkan, kegiatan sebelum tidur membaca ulang pesan – pesan bersama Bagas sebelum dia memblokir semua media sosial milikku. Segera aku buka pesan dari Arkan, kerasukan setan apa mengirim pesan seperti tadi.
Andini: Ya, ada apa Pak?
Arkan Putra : Malam minggu besok senggang tidak?
Andini : Jelas enggak, saya masih memikirkan caranya kembali pada mantan lagi. Sibuk sekali, maaf Pak, enggak bisa diajak lembur terus.
Arkan Putra : Makan malam bareng di luar yuk?
Andini : Bapak ngajak saya ngedate?
Arkan Putra : Makan malam biasa, bukan ngedate kok. Jangan dilebihin deh An.
Aku tersedak, bisa –bisanya manusia hutan itu berpikir aku yang yang terlalu percaya diri. Tapi kesempatan makan gratis tidak akan terulang ke – dua kali, kejadian langka Arkan memberi hal cuma –cuma pada kacungnya, tidak baik kan menolak rezeki. Right?
Andini : Boleh, atur saja tempatnya ya bos ganteng. Kirim lokasi kalau sudah pas, selamat malam.
Aku mengakhiri percakapan di Line, sudah Arkan baca dan sepertinya tidak berniat membalas juga. Ya biarlah, aku memilih memejamkan mata, rasanya seluruh tubuh remuk, seperti keadaan hati malam ini.
BIGBOSS
Arkan : Saya sudah tidak ganteng, sudah pernah laku sih. Beda sama kamu, cukup ya penjelasan saya.
Aku terkikik tiada henti, membaca berkali – kali balasan Arkan tadi malam. Tapi tunggu, ada yang cukup aneh dari isi pesan Arkan. Pernah laku, apa – apaan dia. Statusnya sudah menikah atau sedang dalam pernikahan. Jangan – jangan Arkan duda, anak berapa ya?
" Gimana dong, Mama pasti bakal nolak misal gue sodorin duda sebagai calon suami." Aku menarik diri dari posisi bersandar. Mengerucutkan bibir sambil menimbang – nimbang." Mama kan paling enggak bolehin aku deketin duda, katanya tidak memiliki jaminan kehidupan rumah tangga."
Aneh, tapi itulah yang selalu Mama katakan. Sekalipun delapan tahun waktuku habis menemani Bagas, tanpa kata bosan. Mama selalu memberi wejangan yang sama berulang – ulang, memang aneh.
Mungkin Mama menyadari kalau aku dan Bagas nggak akan naik pelaminan, aku masih menerka mengapa lelaki sialan itu bosan tanpa alasan. Kalau Bagas berselingkuh dengan rekan kerjanya di kantor, tuhkan. Aku mulai menangis memikirkan hal aneh lagi. Aku tidak siap kalau benar Bagas akan menikahi perempuan selain aku, meninggalkanku sendirian dengan berjuta – juta kenangan.
" An, lo tau nggak sih." Mbak Talita menyadarkan lamunan, aku buru – buru menghapus air mata." Tuh kan, malah nangis."
Aku terkekeh, berusaha baik – baik saja." Ada kabar apa lagi Mbak?"
" Arkan, punya doi baru." Mbak Talita menunjukkan foto yang didapatkan dari teman beda Divisi.
Awalnya aku berusaha tidak peduli, terserah siapapun doi baru Arkan asal bukan aku orangnya, sudahlah lebih dari kata cukup.
Namun dadaku mendadak tersentak ketika melihat jemari yang digenggam Arkan, difoto tersebut adalah jemari milikku sendiri, cincin yang menjadi bukti nyata. Nasib baik cincin pemberian Bagas sudah tidak dikenakan lagi, bisa mampus kalau sampai ketahuan.
" Gila, beruntung banget nih doi Arkan." Mbak Talita masih memuji." Lo jangan ngeselin si bos enggak laku, bakal soldout duluan dong daripada lo."
Ya, tadi malam aku ketiduran saat Arkan mengantarkan pulang. Sadar – sadar sudah dihalaman kost dan Arkan membangunkanku berkali – kali.
" Apaan nih?" Mas Ardi ikut nimbrung.
" Arkan dong, captionnya little girl dengan pose jari cantik cewek begini. Mas kenal enggak sih?" Mbak Talita mengubah arah handphone pada Mas Ardi dan aku berdebar tidak karuan.
" Eh, gue kayak kenal deh ini cincin." Mas Ardi berusaha mengingat dan aku semakin pucat pasi." Ngeliat di mana ya?" diam – diam aku buka IG, menghapus foto cincin yang pernah aku jadikan feed dengan caption hiperbola pemberian Bagas, Mas Ardi suka buka IG aku soalnya.
" Coba ingat – ingat lagi Mas, teman kuliah Arkan mungkin?"
" Nggak Ta, disekitaran kantor sini kok."
Aku memilih diam, pura – pura tidak asik pada perbincangan mereka padahal sekujur tubuh sudah berkeringat, bayangkan saja, masih pagi sudah keringetan padahal bukan marathon.
" Mirip punya lo ya,An?" mendadak ingatan Mas Ardi normal, duh sialan.
" Enggak ah." Aku menggeleng, menunjukkan jari kosong dua – duanya." Sejak kapan aku pakai cincin, Mas."
Mas Ardi masih tidak percaya, menatap tajam seperti menilai dan aku berusaha meminimalisir keadaan." Kenapa Mas tidak tanya langsung ke Arkan, gue cuma kacung korban lemburan loh. Ya ampun." Aku pura – pura kesal, apa sih maunya Arkan sampai pasang foto tanganku segala, mencari perhatian?
" Talita, ikut saya meeting ya." Ajak Arkan tiba – tiba pada perempuan di sebelahku," bawa juga laporan yang sudah Andini siapkan tadi malam."
Mbak Talita buru – buru menyimpan handphone, menyambar tas dan menyusul Arkan.
" Bye – bye all." Ia melambai – lambaikan tangan, aku dan Mas Ardi terkekeh penuh kemenangan.
Selamat Mbak Talita, pusing sendirian di sana. Tuh kan, akibat terlalu sering kepoin Arkan sih, makanya jadi korban.
Sedangkan aku? Tidak pernah ambil peduli tentang Arkan Putra, tetap saja menjadi korban kok.
Memang orangnya yang senggak, nge – bos pada kacung seperti kami berdua. Mas Ardi main zona aman, IQ nya tinggi, enggak seimbang sama potongan buncis sepertiku dan Mbak Talita.
" Lo masih nggak penasaran An, siapa yang Arkan maksud dari little girl itu?"
Aku menaikkan bahu, menjawab pertanyaan Mas Bagas." Ada gue penasaran sama orang kayak Arkan gitu, Mas?" Tak lama terkekeh." Gue nih kacung terluka."
TBC