_ sumpah ya, ribet kalau bos dan kacung sama – sama jomblo_
Mbak Talita dan Mas Ardi terbahak – bahak, aku menyelesaikan cerita panjang mengenai Arkan yang menanyakan perihal resign langsung, walau agenda makan malam dan nonton masih tetap privasi.
" Gila, lo secara enggak langsung mau didepak beneran dari kantor." Mbak Talita menakuti, aku menggeser kursi ke kubikelnya.
" Nah, itu dia Mbak. Sesak napas ditanyain begitu, kenapa sih hidup Mas Ardi enak benar. Naik jabatan saja mesti disayangi Arkan." Aku mendadak lemas, menatap sendu pada dua teman di ruangan.
Mas Ardi berdehem, sok bijak memang bijak kok orangnya.
" Arkan nggak sekejam itu lah, dia basa – basi doang."
" Basa – basi apanya Mas, ngomong sendiri kok kalau enggak rela Mas pindah Divisi sebelah." Aku menghela napas panjang, mengambil makanan yang biasa mbak Talita bawa setiap pagi.
" Jangan sampai deh An lo didepak perusahaan, walaupun persaingan para kacung di sini ketat, setidaknya lo nguntit Mas Ardi, lumayan." Mbak Talita memberi wejangan," makanya lo jangan ngeluh kalau diminta lembur sama si Arkan."
" Mbak, walaupun gue ngeluh lembur kerjaan tetap rampung. Nah, si orang hutan terima rapi. Kemarin proposal yang Mbak bawa meeting, hasil lemburan gue." Semprotku pada Mbak Talita, kalau bicara tidak sesuai realita.
Mbak Talita terkekeh." Misteri little girl belum terpecahkan ya Mas?"
" Belum, sepertinya Arkan sedang melirik orang baru untuk naik jabatan." Mas Ardi sibuk membaca grub." Nih, grub sebelah minta nama – nama untuk gantiin gue di sini."
Aku dan Mbak Talita langsung kepo, maklum grub yang dimaksud Mas Ardi adalah grub petinggi. Hanya orang – orang tertentu isinya, kalau kami berdua? Meringis bagai kuda, bukan hanya kerja bagai kuda saja istilahnya.
" Lo mau gue promosiin An?"
Tiba – tiba Mas Ardi menanyakan hal langka padaku, duh siapa sih yang tidak mau naik jabatan, tapi tunggu?
" Gue sering ketemu Arkan dong kalau gantiin Mas Ardi, enggak deh." Ingatanku melupakan dolar yang bertumpuk banyak direkening jika menggantikan posisi Mas Ardi." Mbak Talita saja."Usulku cepat.
" Gue udah tiga puluh, bulan depan tiga satu, sudah expired Andini." Sela Mbak Talita padaku, oh iya lupa.
" Lo saja deh An, walaupun sering didamprat Arkan abis – abisan, lo bisa kok lemburan proposal gue. Bisa tuh, sayangkan daripada diganti dari Divisi lain, mending orang dalam."
Aku menggeleng." Gue kacung biasa aja deh Mas, kasihan gendang telinga dan hati gue. Kayak bedug magrib, setiap Arkan mengomel."
" Andini, masukin ke grub Negara ya Mas."
Kalian dengar, itu suara Arkan dari arah belakang. Padahal kami bertiga tengah merumpi, hampir berbisik – bisik tapi memang dasarnya jelangkung. Tiba – tiba saja sudah menongol, aku membuka dokumen di atas meja, Mbak Talita langsung menghidupkan komputer dan Mas Ardi menghadapi Arkan. Hal biasa, buat Mas Ardi dan tidak ada apa – apanya.
" Andini yang mana nih, Ar?" tanya Mas Ardi, di Divisi barunya ada nama Andini juga.
" Andini Sahara, dia gantiin Mas Ardi di sini." Jawaban Arkan seperti petir di siang bolong.
Aku memutar kursi hingga menatap Arkan, mata kami bertemu dan dia masih bersikap santai. Kadang aku suka tidak mengerti, kenapa ada orang yang hidupnya tidak ada beban sama sekali seperti dia.
" Aku, pak?" tanyaku sedikit linglung.
Arkan mengangguk." Gantiin Mas Ardi, saya enggak mau dengar penolakan."
Aku menahan napas, masih berpikir panjang untuk menerima kenyataan.
"Oke Ar, gue masukkan kontak Andini ke grub." Mas Ardi terlihat mencari nama aku dikontak, aku berharap tidak tersimpan atau tiba –tiba error time.
Si – bos datang ke ruangan seenak dan semaunya, tidak pernah benar – benar mau membaur sebab kami bukan satu level.. Sudah masuk ke ruangan, kami melanjutkan gosipan yang tertunda.
" Gue?" aku menunjuk diri sendiri pada Mas Ardi dan Mbak Talita secara bergantian.
" Siap – siap deh, lo bakal masuk ke persaingan kacung di kantor ini." Mbak Talita menatap kasihan," but, congrats for your promotion. Setidaknya lo dan si mantan enggak kalah saing."
" Ada benarnya juga kata si Talita, lo bisa lebih daripada Bagas." Walau tidak yakin, mereka tetap menyemangatiku." Berjuang dong An, Arkan dan lo sama – sama jomblo, kenapa mesti ditakutin?"
" Hah?" tatapanku pada Mas Ardi sudah sinis." Mas Ardi jangan buat gue emosi deh, dia dan gue jomblo berbeda."
Mbak Talita dan Mas Ardi tidak peduli, tetap saja menertawakan nasibku yang apes. Manalagi Mama sudah minta menantu, belum lagi minggu depan sepupu, anak dari Adiknya Mama akan menikah. Padahal masih muda, baru juga lulus kuliah dan kerja tiga bulan ketemu jodoh di kantor. Merasa cocok, langsung nikah kilat. Kadang aku tidak habis pikir, masih muda dan fokus karir daripada mengurus suami. Tapi terserah lah, daripada jagain jodohan orang lebih menyakitkan, misalnya aku nih, korban janji lelaki kardus.
BIGBOSS
" Eh, Andini kan?" sapa Tante Nadia di sebelah, kami tengah menghadiri acara resepsi keluarga. Ambil cuti dua hari, aku balik ke Bandung.
" Iya, Tante." Aku menyalami adik Mama, yang punya acara resepsi nikahan.
" Duh, kamu kapan nih nyusul Alisa? Sudah cukup umur, nanti keburu susah punya anak. Kapan si Bagas rencananya mau melamar?" Tante memelukku," kalian kan sudah sukses dikarir masing – masing, jangan ditunda lagi dong."
Aku menahan tangis, pipis dan sesak napas. Betapa tersiksanya, diantara empat beradik Mama yang belum menikah hanya aku. Bayangin hanya aku? Menyedihkan.
Mama sampai tidak enak hati, aku yang dulunya tidak pernah mau ambil peduli jika Bagas mengulur – ngulur waktu diajak menikah. Sekarang? Semua akibat aku tanggung sendiri, padahal keluarga sudah kenal Bagas siapa. Delapan tahun pacaran, tidak mungkin aku masih main umpet – umpetan.
" Nah bener tuh An, Tante Nadia saja bakal punya mantu baru masa kamu masih asik ngantoran mulu." Sambung sepupuku yang lain.
" Tahun depan deh Teh, biar genap dua Sembilan." Aku menyengir, menatap Mama yang geleng – geleng kepala, kasihan anaknya diputusin.
" Sudah diputusin Bagas, belum dapat yang baru." Mama tanpa pikir akibat, mengeluarkan aib yang patutnya ditutup.
Seluruh keluarga besar terlihat kaget, aku hampir menangis namun berusaha baik – baik saja. Mama suka gitu.
" Bagas selingkuh?" Mbak Tari, sepupuku dari anak Kakaknya Mama mencoba memberi kekuatan.
Aku menggeleng," enggak Teh. Katanya mau fokus diposisi barunya sebagai Direktur."
" Jelas ada yang baru tuh An, Tante nggak percaya kalau dia fokus ke karir, sudah cari yang baru saja." Kata – kata Tante Nadia sama persis seperti Mas Ardi, tapi aku belum bisa percaya.
Aku kenal Bagas lebih dari delapan tahun, sifatnya tidak mudah mencari orang baru dalam waktu cepat, kecuali memang sudah memiliki hubungan ketika masih menjadi pasanganku.
Mereka semua membenarkan, dan aku memilih diam.
" Itu keluarga besar pemilik perusahaan tempat Om kamu bekerja." Tante Nadia menunjukkan deretan kursi VIP yang diduduki beberapa orang, mereka baru saja tiba.
Aku mengangguk, mengikuti arah jari telunjuk Tante Nadia.
" Anak terakhir mereka masih single, sudah tiga puluh tahun dan kabarnya sedang mencari pasangan hidup." Tante masih terus mengoceh," mau Tante jodohin?"
Aku paling tidak suka soal perjodohan, seperti pilihan menggantungkan diri setelah tidak ada jalan keluar. Toh, aku masih cukup dibilang muda sebagai perempuan karir dan perihal pernikahan juga bukan masalah besar.
Aku meneguk air liur, ketika mendapati anak dari pemilik perusahaan tempat suami Tante Nadia bekerja.
" Aduh, masa sih orang hutan." Gumamku sebal, yang dimaksud Tante Nadia adalah Arkan Putra. Pemilik perusahaan di mana aku bekerja juga, dan orang yang berkali – kali mendampratku tanpa ampun.
Kesialan macam apa ini.
Aku berjalan membelakangi Mama, kami akan menyalami keluarga ' YANG MULIA' sebagai apresiasi tanpa batas sebab sudah mendatangi resepsi, maklumin orang sibuk. Datang kondangan saja, yang ribet satu keluarga besar.
Kebaya pilihan keluarga, aku kenakan seperti layaknya putri Jawa. Sebenarnya pilihan pengantin, latarbelakang suami sepupuku asli Semarang.
" Cantik kamu An, anggun." Pujinya padaku.
Aku berusaha tersenyum walau hambar, dia orang terakhir yang aku salami dan setelahnya sibuk masing – masing.
" Orang tua kamu?" dia menunjuk Ayah dan Mama, aku mengangguk cepat.
" Di keluarga besar, keluargaku yang sederhana, Pak. Walau begitu kami bahagia kok." Aku masih sibuk memainkan handphone," karena itu aku mau bahagiakan mereka. Setidaknya meringankan beban Ayah dengan bekerja di perusahaan Bapak."
" Malah curhat." Katanya berlalu.
Aku mendengus, ditinggalkan begitu saja oleh Arkan dan benar – benar sumpah – serapah meluncur bebas dari lisan.
" Gue enggak akan pernah mau punya suami kayak lo, manusia hutan!"
TBC