24. Target Baru

1109 Words

Aku berdiri diam di balik tembok gudang, mengatur napas agar keberadaanku tidak terendus. Dari balik sekat kayu itu, suara Dedi dan Roni terdengar samar namun cukup jelas untuk ditangkap indra pendengaranku. "Kalau Pak Hendra makin percaya sama dia, habis kita semua," bisik salah satu dari mereka. Aku mengenali suara itu sebagai suara Roni, bagian pengiriman barang. "Itu anak baru terlalu cepat naiknya," sahut Dedi dengan nada penuh dengki. Aku tidak bergerak sedikit pun, apalagi berniat menyela. Aku hanya ingin tahu sejauh mana mereka akan bermain. "Kemarin saja dia sudah bikin gue dipanggil ke kantor," geram Dedi lagi. "Ya, itu salah lo juga karena ceroboh," balas Roni pelan, mencoba menenangkan. "Intinya sekarang gimana?" Suasana hening sejenak sebelum suara itu kembali terdengar

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD