01. Kejujuran Yang Menyakitkan
Keramik murah itu pecah tepat di depan kakiku. Satu serpihannya yang tajam meluncur, menyayat punggung kaki hingga darah segar merembes di antara sisa sabun cuci piring.
Aku tidak berani bergerak. Napasku tertahan di tenggorokan.
"Ibu..."
"Jangan panggil aku Ibu! Kamu itu beban."
Bentakan itu lebih menyakitkan daripada sayatan di kakiku. Perempuan yang rambutnya mulai memutih itu berdiri gemetar. Bukan karena takut, tapi karena amarah yang sudah mengerak bertahun-tahun. Matanya merah, menatapku seolah aku adalah noda minyak yang tidak bisa hilang dari lantai dapurnya.
"Aku sudah muak lihat mukamu di rumah ini! Makan, tidur, mandi. Kamu pikir ini panti asuhan?"
Tanganku yang masih basah bergetar. "Aku baru pulang tes di pabrik, Bu. Tinggal nunggu pengumuman..."
"Halah! Dari zaman bapakmu masih hidup sampai dia mati, alasanmu cuma menunggu! Hidup tidak pakai harapan, Reza! Hidup ini pakai uang!"
Dia melangkah maju, mengabaikan pecahan beling yang nyaris menggores sandalnya. Telunjuknya menghujam dadaku, keras dan menyakitkan.
"Lihat Anton! Dia bawa uang tiap bulan. Dia cicil motor sendiri. Sedangkan kamu? Kamu cuma bisa bikin tagihan listrik bengkak!"
Aku melirik ke ambang pintu dapur. Anton bersandar santai sambil mengunyah gorengan. Matanya tidak lepas dari layar ponsel, tapi sudut bibirnya terangkat—senyum sinis yang selalu dia simpan untukku tiap kali aku dihajar makian.
"Anton punya motor, Bu. Lebih gampang cari kerja," bisikku, berusaha membela diri yang sudah runtuh.
"Oalah! Jadi sekarang kamu nyalahin Ibu karena nggak kasih kamu motor?" Suaranya melengking, menembus gendang telingaku. "Kurang ajar!"
"Bukan gitu, maksudku..."
"Sudahlah, Bu," potong Anton tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. "Memang dasarnya dia malas. Benalu tetap saja benalu. Buang saja, bikin sumpek rumah."
Darahku mendidih. Aku menoleh padanya. "Aku bukan benalu, Nton. Aku bersihin rumah, aku bantu angkat dagangan Ibu di pasar tiap subuh.."
"Itu kewajibanmu sebagai pembantu gratisan di sini!" sahut Ibu cepat. "Aku tiap lihat kamu... aku ingat berapa banyak nasi yang terbuang sia-sia cuma buat kasih makan orang macam kamu."
Suasana mendadak hening dan dingin.
Ria—adik bungsuku, muncul dari balik pintu kamar. Wajahnya pucat, matanya berkaca-kaca melihat pecahan piring dan darah di kakiku.
"Sudah, Bu... malu didengar tetangga..."
"Kamu diam! Mau jajanmu dipotong juga?" bentak Ibu.
Ria tersentak, lalu menunduk dalam-dalam. Dia tidak berani membela. Tidak ada yang pernah membelaku di sini.
Aku menelan ludah yang terasa pahit. "Aku ini... anak Ibu, kan? Kenapa Ibu perlakukan aku kayak musuh?"
Pertanyaan itu sudah tertahan di ujung lidahku selama bertahun-tahun. Hari ini, di depan piring pecah dan kaki yang berdarah, aku melepaskannya. Aku hanya butuh satu kata lembut. Satu pengakuan bahwa aku berharga.
Tapi, yang kudengar justru tawa. Tawa kering yang membuat bulu kudukku berdiri.
"Anak?" Ibu mengulang kata itu dengan nada paling menjijikkan yang pernah kudengar. "Jangan mimpi terlalu tinggi, Reza."
Jantungku berdegup kencang, menghantam rusukku. "Apa maksud Ibu?"
Dia mendekat, hingga aku bisa mencium aroma bawang dan minyak goreng dari pakaiannya. Dia menatapku lurus, tanpa ada sisa kasih sayang sedikit pun di matanya.
"Kamu itu cuma anak pungut."
Dunia seolah berhenti berputar. Suara bising di luar rumah mendadak hilang.
"Apa?" bisikku.
"Kamu bukan darah dagingku," lanjutnya dingin, setiap katanya seperti belati yang dihunus ke jantungku. "Kamu cuma sampah yang dibawa suamiku dari pinggir jalan dua puluh empat tahun lalu. Bayi dekil yang dia paksa aku rawat."
Aku menggeleng kuat-kuat. "Nggak mungkin... Ibu cuma marah..."
"Buat apa aku bohong? Jijik aku tiap kamu panggil aku Ibu. Ayahmu yang bodoh itu bilang kamu anugerah. Tapi bagiku? Kamu itu kutukan yang menghisap umurku!"
Aku menoleh ke Anton. Berharap dia tertawa dan bilang ini semua bercanda.
Tapi Anton malah memasukkan ponselnya ke saku, lalu menatapku dengan tatapan kasihan yang dibuat-buat.
"Ternyata lo emang t***l ya? Lihat muka lo, lihat muka gue sama Ria. Nggak ada mirip-miripnya. Kita semua sudah tahu dari dulu, cuma lo yang terlalu bego buat sadar."
Aku beralih ke Ria. Dia menangis sesenggukan, tapi tetap diam. Diamnya adalah konfirmasi paling menyakitkan.
"Ayah..." suaraku tercekat.
"Jangan sebut nama dia!" bentak Ibu. "Dia sudah mati. Dan tugasku pura-pura jadi ibumu sudah selesai. Dua puluh empat tahun aku tahan jijik melihat mukamu. Sekarang? Aku bebas."
Dia menunjuk ke arah pintu depan.
"Pergi dari sini. Sekarang. Kalau masih punya harga diri, cari orang tua aslimu yang sudah buang kamu itu. Jangan jadi beban di sini lagi. Aku mau hidup tenang sama anak-anak kandungku."
Aku mundur selangkah. Hampir terjatuh karena menginjak pecahan piring yang lebih besar.
Semuanya terasa asing. Rumah ini, aroma kopi di meja, hingga wajah orang-orang yang selama ini kusebut keluarga. Semuanya bohong.
"Siapa... siapa orang tua asliku?" tanyaku dengan suara yang pecah.
"Nggak tahu. Mungkin mereka buang kamu karena kamu memang nggak layak dipelihara."
Kalimat itu menjadi penutup. Ibu berbalik, mengambil sapu, dan mulai membersihkan pecahan piring—seolah aku sudah tidak ada lagi di sana.
Aku tidak menangis di depan mereka. Aku hanya berjalan ke kamar dengan langkah goyah. Aku masih mendengar Anton mengejek soal drama anak jalanan di belakangku.
Aku menutup pintu kamarku yang sempit. Lalu duduk di lantai, membiarkan punggungku bersandar pada kayu pintu yang rapuh. Napasku tersengal.
Dua puluh empat tahun. Dua puluh empat tahun aku berusaha menjadi anak terbaik agar mereka mencintaiku. Ternyata, aku hanya membuang waktu untuk orang-orang yang menganggapku sampah.
Aku berdiri dengan sisa tenaga yang ada. Kemudian menarik tas ransel tua dari bawah kasur. Tanpa ragu, kumasukkan beberapa potong baju. Tidak ada lagi yang berharga di sini. Tidak ada yang layak dibawa selain harga diriku yang tersisa sedikit.
Saat tanganku meraih bagian dalam laci meja kecil untuk memastikan tidak ada yang tertinggal, jemariku menyentuh sesuatu.
Sebuah amplop cokelat tua. Kumal dan berdebu. Ada tulisan tangan yang sangat kukenal di atasnya. Tulisan tangan Ayah.
Untuk Reza, saat aku sudah tidak ada.
Jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Aku tidak pernah melihat ini sebelumnya. Kenapa Ayah menyembunyikannya di sini?
Dengan tangan bergetar, aku merobek ujung amplop itu.