07. Ambang Batas

1117 Words
Hari kedua ternyata jauh lebih b******n daripada hari pertama. Tubuhku belum benar-benar pulih. Begitu kelopak mataku terbuka di pagi buta, rasa nyeri langsung menyergap dari segala arah. Punggungku terasa kaku seperti papan, bahuku seolah ditarik paksa oleh beban yang tak terlihat, dan telapak tanganku perih bukan main—kulitnya mulai mengelupas, meninggalkan daging kemerahan yang sensitif. Aku terduduk lesu di tepi kasur losmen yang keras. Menunduk, menatap lantai semen yang dingin, sambil mencoba mengatur napas yang masih terasa sesak. "Masih bisa... Gue masih bisa," gumamku, lebih kepada meyakinkan diri sendiri daripada sekadar bicara. Aku memaksa diri untuk berdiri. Rasa sakit menusuk persendian kakiku, tapi aku terus memaksanya bergerak. Di dunia baruku ini, berhenti berarti mati kelaparan. Di gudang, ritmenya sama sekali tidak mengenal ampun. Cepat, keras, dan tanpa jeda sedetik pun. Udara pengap bercampur debu kembali memenuhi paru-paruku. "Reza! Kiriman baru datang, cepat bongkar!" teriak Pak Hendra dari kejauhan, suaranya menggelegar di antara bising mesin forklift. "Iya, Pak!" sahutku, mencoba mengabaikan rasa lemas di lutut. Aku berlari kecil menuju bak truk yang baru saja parkir. Karung-karung goni besar diturunkan satu per satu. Beratnya mungkin sama dengan kemarin, tapi hari ini tubuhku terasa seperti sedang disiksa. Setiap kali aku mengangkat beban itu ke pundak, otot punggungku seolah menjerit, dipaksa meregang melampaui batasnya. Setiap langkah yang kuambil terasa goyah. Keringat asin mengalir deras ke mataku, perih, membuat pandanganku sedikit kabur. Napas pun sudah tersengal-sengal di tenggorokan. "Baru hari kedua sudah kayak mayat hidup begitu?" suara itu muncul lagi. Pria yang kemarin. Orang yang sama yang meremehkanku. Dia sedang bersantai sambil menenggak air mineral, menatapku dengan tatapan merendahkan. Aku tidak menoleh. Fokusku hanya satu—karung di depanku. "Biasanya anak baru cuma kuat tiga hari di sini," lanjutnya dengan nada mengejek. "Hari keempat sudah kabur, nangis-nangis di rumah." Beberapa pekerja di dekatnya tertawa kecil, suara tawa mereka terasa seperti tamparan di wajahku. Aku tetap diam. Mengangkat. Menurunkan. Mengangkat lagi. Namun di dalam kepala, kata-katanya mulai bergema. Cuma kuat tiga hari. Aku mengepalkan rahang kuat-kuat hingga sendinya terasa nyeri. Tidak. Aku tidak akan menjadi bagian dari statistik biasanya itu. Menjelang siang, segalanya mulai terasa tidak nyata. Pandanganku mulai berkunang-kunang, dan telingaku berdenging pelan. Aku berhenti sejenak, menjatuhkan karung ke lantai dengan suara berdebam, lalu menunduk dalam-dalam untuk mengatur oksigen yang mulai menipis di kepalaku. "Oi, jangan lelet! Kerjaan nggak nungguin kamu!" teriak Pak Hendra lagi. "Iya, Pak..." jawabku serak. Suaraku hampir hilang. Aku memaksa tubuhku untuk tegak kembali, memanggul karung berikutnya. Tapi kali ini, tanganku gemetar hebat. Langkahku goyah seperti orang mabuk. Dan tepat saat aku hendak menumpuk karung itu—keseimbanganku lenyap. Bruk! Aku jatuh berlutut. Karung itu terlepas dari genggamanku dan menghantam lantai. Beberapa orang langsung berhenti bekerja dan menoleh. "Buset, tumbang juga akhirnya si anak baru," suara sinis itu terdengar lagi. Tawa kecil yang hambar menyusul, cukup untuk membakar sisa-sisa harga diriku. Aku tetap menunduk, menatap lantai gudang yang kotor. Keringat menetes dari ujung hidungku. Napas beratku menderu, dadaku naik turun tak beraturan. "Bangun!" suara berat Pak Hendra mendekat. Bayangannya menutupi tubuhku. Aku mencoba berdiri, tapi kakiku terasa seperti jeli. Lemas luar biasa. "Kalau nggak kuat, bilang! Jangan nyusahin ritme kerjaan!" katanya tegas, tanpa ada sedikit pun empati di matanya. Aku menggigit bibir bawahku hingga berdarah, rasa asin besi di mulutku mendadak memberiku dorongan liar. "Aku kuat, Pak..." Aku berdiri lagi. Meski goyah, meski setiap serat di tubuhku menjerit protes, aku tetap berdiri tegak. Pak Hendra menatapku beberapa detik, mencari titik lemah di mataku, lalu membuang muka. "Jangan lama-lama istirahat. Kerjaan numpuk di belakang." Dia pergi begitu saja. Sesederhana itu. Tidak ada simpati, tidak ada uluran tangan. Dan anehnya, aku tidak marah. Justru ini yang aku butuhkan. Kenyataan pahit bahwa di sini, kalau kamu jatuh, tidak ada yang akan mengangkatmu kecuali dirimu sendiri. Jam istirahat tiba, aku menyeret kakiku menuju sudut yang sama. Nasi bungkus sudah di tangan, tapi aku tidak langsung membukanya. Tanganku masih gemetar, sulit untuk dikendalikan. Aku menatap telapak tanganku yang kini hancur. Kulit yang melepuh, lecet kemerahan, dan rasa perih yang menusuk-nusuk. Aku tertawa kecil, sebuah tawa pahit yang terselip di antara napas lelah. "Pantas saja banyak yang kabur..." bisikku. Aku menyandarkan kepala ke dinding beton yang dingin, memejamkan mata sebentar. Capek. Bukan cuma fisikku yang remuk, tapi pikiranku mulai digerogoti keraguan. Tiba-tiba bayangan Ibu kembali muncul di kegelapan mataku. "Dasar nggak berguna." Lalu suara Anton menyusul, "Benalu." Tanganku mengepal keras, mengabaikan rasa perih di telapak. "Kalau gue berhenti sekarang..." napasku memburu, "...berarti semua yang mereka bilang itu benar." Kalimat itu menusuk tepat di jantungku. Aku langsung membuka mata, menatap nasi bungkus di tanganku seolah itu adalah obat paling berharga. Aku mulai makan. Pelan, dipaksakan, karena aku tahu jika aku tidak memasukkan energi sekarang, aku tidak akan sanggup bertahan di shift berikutnya. Sore hari tenagaku sudah berada di titik nol. Setiap langkah terasa seperti menyeret beban berton-ton. Punggungku seolah mau patah setiap kali harus membungkuk. "Reza!" Aku menoleh. Pak Hendra menunjuk tumpukan kardus besar di pojok. "Bantu pindahin itu ke belakang!" Aku melihat tumpukan itu. Tinggi dan terlihat sangat padat. Tubuhku sudah menolak mentah-mentah, tapi mulutku berucap lain. "Iya, Pak." Aku melangkah maju. Mengangkat. Satu. Dua. Tiga. Di angkatan keempat, genggamanku hampir lepas. Kardus itu miring, hampir menimpa kakiku. Aku cepat-cepat menahannya dengan sisa tenaga yang ada. Napasku tersengal, dunia di sekitarku terasa berputar perlahan. "Sudah lah, berhenti aja kalau memang nggak sanggup!" suara orang yang tadi terdengar lagi. Kali ini dia berdiri sangat dekat. Aku menoleh perlahan, menatapnya. Dia berdiri bersedekap, menatapku dengan sorot mata meremehkan. "Banyak orang yang lebih kuat dari lo di luar sana. Nggak usah sok maksa jadi pahlawan kuli." Aku menatapnya lama, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kewarasanku. Untuk pertama kalinya, aku menjawabnya. "Bukan soal kuat atau nggak," kataku pelan. Suaraku parau dan lelah, tapi penuh keyakinan. "Gue cuma... nggak punya pilihan lain." Dia terdiam. Mungkin tidak menyangka anak baru yang pendiam ini punya nyali untuk menyahut. Aku tidak menunggu reaksinya. Langsung kuangkat kardus itu lagi, memeluknya kuat-kuat di dadaku, dan kali ini aku tidak menjatuhkannya. Saat jam kerja akhirnya selesai, aku hampir tidak bisa merasakan kakiku lagi. Aku berjalan keluar dari gudang dengan langkah yang diseret. Bajuku basah kuyup, wajahku coreng-moreng oleh debu dan keringat, tapi aku masih bergerak. Saat melewati pos gerbang, satpam yang kemarin memperhatikanku. "Baru hari kedua, ya? Gimana rasanya?" Aku hanya mengangguk lemah, tidak punya energi untuk bersuara. Dia tersenyum tipis, sorot matanya sedikit berubah, seperti ada rasa hormat yang tipis. "Masih balik lagi besok?" Aku berhenti sebentar. Pertanyaan itu menggantung di udara malam yang dingin. Sebuah pertanyaan sederhana yang jawabannya akan menentukan apakah aku akan tetap menjadi sampah atau menjadi sesuatu yang lebih besar. Aku menarik napas dalam, membusungkan dadaku yang sesak. "Iya, Pak. Besok saya datang lagi." Aku kembali melangkah keluar dari area pabrik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD