Ashana duduk di sebuah single arm chair di ruang tengah rumah kedua orang tuanya. Ia bagai seorang pesakitan yang siap menerima hukuman mati. Kini, kedua orang tuanya, Akbar dan Hanan tengah menatapnya dengan tatapan penuh khawatir yang diselipkan dengan sedikit perasaan tragis di dalamnya. Semua orang sudah tahu masalah yang terjadi dengan rumah tangganya dan Rakyan. Ia tak bisa mengelak lagi. Berita sudah tersebar. Bahkan, ia diminta untuk cuti sementara sampai masalahnya dinyatakan selesai. Pekerjaan akan diambil alih Robi untuk sementara waktu. “Kenapa hal seserius ini nggak pernah kamu sampaikan ke kami, Dek?” tanya Hendrawan. Ada nada kekecewaan di dalam suara laki-laki itu. “Kenapa kamu pendam semuanya sendirian? Kami semua kelaurga kamu, lho. Kenapa kami harus tau dari berita?”

