Ashana kembali ke rumah. Namun, ia tak mendapati sang suami di sana. Hanya ada Budhe Darsih yang masih setia duduk di ruang tengah sambil menonton televisi. Wanita itu menyusul Budhe Darsih. Emosinya sudah jauh lebih stabil dari sebelumnya. Ia sudah bisa sedikit tersenyum, walaupun tak menampik kalau rasa sakit hati itu masih tersisa. “Mbak Shana ketemu Mas Kian?” ucap Budhe Darsih. Ashana spontan menggeleng. “Tadi Mas Kian kayaknya nyusulin Mbak Shana.” “Sekarang orangnya di mana, Budhe?” Budhe Darsih mengendikkan bahunya. “Belum pulang lagi sejak ngejar Mbak Shana. Apa perlu Budhe tengokin mobilnya di parkiran?” “Apa nggak terlalu ngerepotin Budhe?” tanya Ashana. Wanita tua itu menggeleng. “Boleh, Budhe. Kalau mobilnya ada, berarti dia masih ada di sekitar apartemen. Biar nanti aku

