Perkenalan

1208 Words
Rey membersihkan tangannya yang terkena percikan darah musuh, dia mengelapnya hingga bersih. Sesekali dia menatap ke arah Alinka, gadis itu tengah sibuk membenarkan pakaiannya yang berantakan akibat pertempuran. Sementara yang lainnya, mereka pun sama membersihkan senjata, membenarkan pakaian, ada juga yang mengipasi tubuhnya dengan tangan, tentu saja mereka gerah setelah bertempur hampir empat jam. "Siapa namamu, Nona?" tanya Rey membuka suara. Alinka menoleh, tatapannya sulit diartikan. Dia tidak berniat untuk menjawab pertanyaan pria di sampingnya. Karena, tentu saja Alinka masih belum mempercayai Rey sepenuhnya, mereka bekerjasama pun akibat terdesaknya kubu Alinka. "Aku sepertinya mengenal dirimu, Sir," ucap Alexander. "Ah, ya? Bagus kalau begitu, kita bisa bekerjasama terus menerus ke depannya," jawab Rey santai. "Maaf, Tuan, Nona. Sepertinya kami harus membersihkan akibat kekacauan ini segera," ucap Bryan. "Kalian sudah tidak lelah?" tanya Alinka pada semuanya. "Tidak, Nona. Lebih cepat lebih baik." "Kalau begitu, cepatlah! Kita akan segera meninggalkan tempat ini." Pasukan gabungan segera berpencar untuk membersihkan kekacauan. Mereka tampak kompak, tidak ada perseturuan sedikit pun, benar-benar menurut atas perintah pemimpinnya, tidak ada yang berani membuat onar satu orang pun. "Mereka kompak sekali." Suara bariton terdengar menghampiri para pemimpin yang sedang beristirahat. "Seperti yang kau lihat," sahut Rey datar. "Aku mengenali suara mereka, Princess," bisik Alexander pada Alinka. "Bagaimana kalau mereka juga mengenali kita?" tanya Alinka yang juga ikut berbisik. "Itu kesempatan bagus, karena kita bisa bekerjasama dengan mereka," sahut Alexander. Rey yang tak jauh dari mereka, melihat kedua orang itu tengah berbisik, secara tak sadar bibirnya sedikit melengkung ke atas, meski tertutup masker hitam. Matanya menyorot tajam ke arah Alinka, dengan tatapan yang sangat sulit diartikan. "Kenapa kau memperlihatkan dia seperti itu, Rey?" tanya pria di sampingnya—Rafael, pria yang baru saja datang menghampiri mereka. "Dia, gadis yang selama ini aku cari, Raf," jawab Rey, sontak membuat Rafael terkejut. "Jangan bercanda di saat seperti ini!" tegas Rafael menekankan kata-katanya. "Ekhem." Alinka berdeham, dia telah berdiri tegak di hadapan Rey dan Rafael. Tampak kedua pria itu terkejut melihat keberadaannya yang tiba-tiba. "Apa yang kau lakukan, Nona?" tanya Rey menatap Alinka tajam. "Hei, kau marah padaku? Aku hanya ingin mengajak kalian untuk menginap di mansion-ku, itung-itung rasa terima kasihku pada klan-mu." Rey tampak menimbang tawaran dari Alinka. Semudah itukah gadisnya memintanya untuk menginap di mansion-nya untuk sekedar berterima kasih? Rey tersenyum smirk, dia lalu mengangguk. "Aku setuju." "Baiklah, terima kasih atas persetujuanmu." "Permisi, Tuan, Nona. Semua sudah selesai. Mayat seluruh orang yang meregang nyawa telah diamankan." Begitulah laporan yang mereka dapatkan, kini mereka semua turun ke lantai paling dasar, mereka sudah tak melihat satu mayat pun yang tersisa. Kedua klan gabungan itu memang layak dipekerjakan. "Kerja bagus," puji Alexander. Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya mereka sampai di lantai paling dasar. Puluhan mobil sudah terparkir rapi di sana, untung saja masih utuh, dan masih layak pakai. Pasukan Black Eagle dan Black Tiger yang tersisa diberikan sebuah note berisi lokasi mansion Alinka, mereka memakai mobil menuju ke sana. Sementara Rey, dia telah bergegas menuju helikopternya yang telah terparkir di samping kanan gedung tersebut, berjajar dengan beberapa helikopter lainnya. "Nona, kau tidak mau bersamaku?" bisik Rey tepat di telinga Alinka. Hal itu membuat Alinka merasakan getaran aneh yang menjalar pada seluruh tubuhnya. "Jangan bermimpi, Sir. Kau tak lihat, helikopterku masih utuh di depan sana?!" tegas Alinka geram. Hal itu membuat Rey terkekeh. "Kalau begitu, kita bisa bersama nanti." Ucapan Rey mampu membuat Alinka bergidik ngeri. Setelah lama di perjalanan, akhirnya mereka semua sampai di tujuan—mansion Alinka di kawasan Rotherdam, Belanda. Bryan tampak sedang mengatur tempat untuk pasukan dari kedua klan beristirahat. Mansion Alinka bukan hanya megah, tetapi juga luas, terdapat ratusan kamar terjajar rapi, dan banyak ruangan yang lainnya. "Nona, di mana kamarku? Aku ingin beristirahat!" Rey meregangkan otot-ototnya, dia hampir saja memeluk Alinka. Dia sengaja melakukan itu untuk mengerjai Alinka. "s**t, singkirkan tanganmu!" Alinka mendelik tajam, membuat Rey terkekeh. "Kita perlu berbincang terlebih dahulu," ucap Alexander yang telah duduk di sofa ruang tamu. Di sofa sudah ada Bryan, Rafael dan Demian yang turut hadir. Alinka segera berjalan, dan mendudukkan dirinya di sofa dekat Alexander. Mereka masih menutup wajahnya dengan ciri khas masing-masing, belum ada satu pun yang membukanya. "Terima kasih telah mengizinkan aku dan klanku menginap di sini. Suatu kehormatan bagi kami," ucap Rey membuka pembicaraan. "Terima kasih juga untukmu dan klanmu yang telah membantu kami," jawab Alinka. "Ya. Namun, tidak lengkap jika kita sudah saling membantu, tetapi masih tidak mengetahui satu sama lain, bukan?" Rey menatap Alinka, Alexander, dan Bryan. "Benar sekali, Sir," sahut Alexander. "Bagaimana jika kita memperlihatkan wajah masing-masing, dan memperkenalkan diri satu sama lain?" usul Rafael. Mereka semua mengangguk setuju, tetapi tidak untuk Alinka, dia masih sangat ragu. Masing-masing dari mereka telah membuka penutup wajahnya, terpampanglah wajah tampan dari kelima pria yang ada di dalam sofa ruang tamu tersebut. Dugaan Alexander benar, ternyata dia mengenali pria itu. Mereka saling pandang, lalu tertawa, seolah mereka memikirkan hal yang sama. Pasalnya, Alexander, Rey, dan Rafael adalah sesama kolega bisnis. Bahkan, salah satu cabang perusahaan Rey, bekerja sama dengan perusahaan milik Alexander. Rafael juga pernah beberapa kali bertemu dengan Alexander. Sedangkan Demian dan Bryan masih tak mengerti apa-apa. Meskipun Demian beberapa kali melihat Alexander bertemu dengan Rey dan Rafael. Rey menatap Alinka yang masih tak bergeming. Sejak tadi Alinka menatap lurus tepat pada mata Rey, pria itu tersenyum lalu berbicara pada Alinka. "Apa kau mengagumiku, Nona?" tanyanya, dengan nada arogan. "Cepat buka topengmu itu!" Alinka mulai melepaskan kaitan pada topeng, lalu membukanya secara perlahan. Rey gemas dengan tingkah Alinka, dia ingin segera menyaksikan sang princess-nya di depan mata. Oh, ayolah. Lama sekali. Gerutu Rey dalam batinnya. Gotcha! Topeng yang Alinka gunakan berhasil terbuka. Rey menelan salivanya kasar, betapa indahnya pemandangan di hadapannya itu. Sementara Rafael dan Demian terpaku menatap wajah Alinka, benar-benar sempurna. "Ah, mari kita perkenalkan diri masing-masing!" Alexander memecah kecanggungan di antara mereka. Mereka akhirnya mengangguk, perkenalan akan dimulai, yang pertama memperkenalkan diri adalah Alexander. Dia tengah mengatur napasnya, seperti anak sekolah yang baru saja pindah ke sekolah baru. "Namaku, Alexander Abraham Rolando. Usia 24 tahun, kelahiran New York, Amerika Serikat. Wakil Leader Black Tiger." "Namaku, Bryan, usia 23 tahun. Kapten Black Tiger." "Namaku, Rafael Gionino Immanuel, 25 tahun. Sahabat, sekaligus wakil Black Eagle." "Namaku, Demian. Asisten pribadi Tuan Rey, sekaligus kapten Black Eagle. Umur baru menginjak 20 tahun." Mereka sudah memperkenalkan namanya, tinggal dua orang saja, yaitu Rey dan Alinka. Bukannya memperkenalkan diri, mereka malah sibuk saling melempar tatapan tajam. "Hei, ayo cepat perkenalkan diri kalian!" tegur Rafael mendengus kasar. Rey tak melihat ke arah Rafael. Dia menatap Alinka tajam. "Kau terlebih dahulu, Nona." "Kau saja, aku terakhir," ketus Alinka. "Astaga. Kalian seperti anak kecil!" Alexander geram dengan keduanya. Rey dan Alinka mendelik ke arah Alexander, mereka mengatur napasnya masing-masing. "Namaku—" Gotcha! Mereka berucap bersamaan, membuat keempat pria yang ada di sana terkikik menertawakannya. Mereka sungguh lucu, dari awal tidak ada yang mau mengalah. Namun, kali ini sepertinya Rey akan mengalah, sebagai jiwa laki-lakinya keluar. "Rey Sturback Wilson, 26 tahun, Sisilia," ucap Rey datar. "Leader Black Eagle," lanjutnya. Sekarang giliran Alinka, Rey sudah bersiap untuk mendengarkan perkenalan dari gadisnya. "Alinka Grethania Rolando. Leader Black Tiger." Rey tampak tak puas mendengarnya. "Berapa umurmu, Nona?" tanya Rafael mewakilkan pertanyaan Rey. "Umurku, bukan urusanmu!" tegas Alinka, lalu dia bergegas menuju lift untuk menuju lantai atas—kamarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD