Di sofa ruang tamu, menyisakan Rey dan Alexander yang masih terus berbincang. Sepertinya mereka tidak mengenal kata lelah, obrolah mereka terus mengalir, mereka tampak sangat akrab.
"Ah, aku jadi penasaran dengan Alinka," ucap Rey.
"Apa kau menyukainya?" tanya Alexander terkekeh ketika Rey penasaran dengan sepupunya. Rey yang sadar tentang godaan Alexander hanya mengendikan bahunya acuh.
"Dia siapamu?" tanya Rey.
"Tenang saja, dia hanya sepupuku. Jadi, kau bisa mendekatinya leluasa," jawab Alexander.
"Hei, aku tidak bilang bahwa aku menyukai Alinka, Mr. Alexander!" elak Rey.
"Kau mengatakannya," cibir Alexander.
"Ya, ya, ya, aku menyukainya sejak lama." Final Rey, akhirnya mengakui di hadapan Alexander.
Alexander sontak membulatkan matanya. "Are you seriously?"
"Nope," jawab Rey, dia bangkit untuk pergi ke kamar yang telah disiapkan. Lebih baik menghindari pertanyaan yang akan terlontar dari Alexander, biarlah dia penasaran.
"Sir, aku belum selesai bicara denganmu!" teriak Alexander membuat Rey terkekeh.
Rey memasuki kamarnya, menghirup dalam-dalam aroma kamar itu. Rasa lelahnya tiba-tiba hilang, ketika tebakannya tentang sang Princess ternyata benar. Rey tak tahu jika takdir Tuhan berkata bahwa inilah saatnya.
Pria itu merebahkan tubuhnya di kingsize, dia memejamkan matanya perlahan. Waktu sebenarnya menjelang pagi, tetapi pertempuran dan perbincangan hangat dengan rekan kerja samanya membuatnya tertidur di saat-saat waktu yang seharusnya dia bangun. Hanya dalam hitungan detik, Rey sudah terlelap di alam mimpinya.
Beberapa jam kemudian ....
Alinka mulai membuka matanya secara perlahan, dia mengedarkan seluruh pandangannya, matanya tertuju untuk mencari jam dinding. Betapa kagetnya dia, bahwa waktu telah menunjukan pukul 11 siang.
"Ya, Tuhan!" pekik Alinka.
Dia menepuk dahinya, pantas saja dia kesiangan, malam adalah pertempuran yang menguras tenaganya. Dia berlari ke arah cermin, ternyata ada beberapa goresan di wajah, dan tangannya. Alinka tidak ambil pusing, dia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai mandi, Alinka langsung megenakan pakaian santainya. Dia segera bergegas ke luar kamar untuk menuju dapur. Para pelayan tengah sibuk memasak, tentunya mereka masak dengan jumlah yang sangat banyak. Karena penghuninya bukan satu dua orang sekarang, tetapi dalam jumlah ratusan.
"Apa semua itu cukup untuk jumlah orang-orangnya?" tanya Alinka membuat mereka kaget, karena tidak mengetahui kedatangannya.
"Diperkirakan cukup, Nona. Kami memasak dari pukul 9 tadi, karena jumlahnya sangat banyak. Tuan Alexander yang memerintahkan kami tadi pagi," ucap salah satu pelayan.
"Bagus, kalau begitu lanjutkan. Aku akan memberikan bonus untuk kalian nanti." Alena langsung melenggang pergi.
Para pelayan sumringah ketika mendengar kata bonus. Mereka menjadi lebih giat untuk bekerja, majikannya itu sangat jarang berkunjung ke mansion yang ini, tetapi saat datang dan memberikan perintah, pasti memberikan bonus dalam jumlah yang tak sedikit. Rasanya sangat nikmat sekali ketika bekerja pada sultan.
"Xander!" teriak Alinka di depan kamar Alexander, seraya mengetuk pintunya berulang kali.
"s**t, apa dia mati?" gumam Alinka.
Tak lama kemudian, Alexander membukakan pintu, wajahnya masih kusut. Alinka mengganggu tidurnya, dia baru saja tidur satu jam yang lalu, sudah dibangunkan. Kepalanya terasa pusing sekarang.
"Kau menggangguku, Alin. Aku baru satu jam tidur." Alexander langsung menutup kembali pintunya, dia jengah ingin tidur kembali.
"Huft, menyebalkan sekali," ucap Alinka seraya pergi dari depan kamar Alexander.
Aha!
Alinka mempunyai ide untuk mengganggu pria menyebalkan itu. Siapa lagi kalau bukan Rey Sturback Wilson? Alinka kini telah berada di depan kamar yang ditempati oleh Rey. Dia mencoba untuk membuka pintu kamar, dan berhasil! Pintu tidak dikunci sama sekali.
Rey masih terlelap dalam tidurnya, kesempatan bagus untuk Alinka. Dia tak memperdulikan tubuh atletis pria itu, Alinka bergegas menuju kamar mandi. Alinka mengambil air pada ember kecil, dan membawa sebuah gayung. Alinka segera ke luar dari kamar mandi, dan mendekat ke arah Rey. Alinka akan menyiram pria itu. Seringai tajam terbit begitu saja pada raut wajahnya.
Byur!
Air itu mengguyur seluruh tubuh Rey dari wajah hingga kaki. Rey, pria yang sedang terlelap itu langsung terbangun, refleks duduk dengan mengusap-usap wajahnya, tubuhnya basah kuyup akibat guyuran itu. "Siapa yang berani mengganggu tidurku, sialan?!" umpat Rey tak terima.
Alinka terkikik melihat kemarahan yang tercetak dalam raut wajah Rey. Mendengar suara tawa seorang perempuan, Rey menoleh ke arah samping, Alinka-gadisnya ada di sana, dengan tangan yang masih memegang sebuah gayung, dan ember kecil.
"Kau-"
Rey langsung berdiri menghampiri Alinka, dia memeluk tubuh gadis itu. Alinka berontak mengumpat pada Rey yang berani memeluknya seenak jidat. Rey menggesekan tubuhnya yang basah pada Alinka.
"Hei, kau basah! Aku sudah mandi!" kesal Alinka.
"Kau harus merasakan dinginnya juga, Nona," ucap Rey.
"Kau berhasil membangunkan sisi liarku, hm," lanjut Rey membuat Alinka bergidik.
Alinka yang berontak, Rey yang gencar menggoda gadis itu membuat keduanya tak bisa diam. Hingga mereka terjatuh secara bersamaan, Alinka menindih tubuh Rey. Mereka diam, saling tatap, mengagumi keindahan yang diciptakan Tuhan dalam paras mereka. Katakan saja, keduanya sama-sama kagum.
"Kau cantik, Princess," ucap Rey menatap Alinka lekat.
Alinka langsung tersadar, dia bangkit dari tubuh Rey, jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Perasaan aneh itu timbul kembali.
"Kau seolah telah mengenalku sejak lama," ucap Alinka menatap Rey tajam.
"Memang seperti itu kenyataannya," jawab Rey jujur.
"Apa maksudmu? Apa kau memata-mataiku?" tanya Alinka semakin menatap Rey lebih tajam lagi.
"Jangan memandangku seperti itu. Aku akan mandi terlebih dahulu, dan kau ... gantilah bajumu, karena itu ikut basah!"
"Basah karenamu!" cibir Alinka.
"Hei, kau yang memulainya, Princess!" Rey berteriak, karena Alinka telah menghilang di balik pintu.
Rey tersenyum melihat kelakuan Alinka, gadis itu memang unik, ternyata mengaguminya selama ini tidak salah. Tuhan mempertemukannya dalam bentuk nyata.
"Ah, Tuhan. Aku berterima kasih padamu," ucap Rey langsung melenggang ke dalam kamar mandi.
Gadis itu berhasil menarik perhatian Rey walau hanya melihatnya sekejap mata. Waktu dulu, saat Rey pulang kerja, dia melihat sosok gadis yang cantik, tengah berdiri di depan mobil seraya memegang topeng Harimau. Namun, waktu itu dia gagal untuk berkenalan, karena Rico-sang asisten meneleponnya.
Sejak saat itu, Rey mencari tahu tentang sosok gadis itu, bermodalkan ciri-cirinya saja. Ternyata sangat susah, karena gadis itu hanya berkunjung sebentar ke sebuah rumah yang tak berpenghuni di sana. Pada akhirnya, mulai tercium bau keberadaannya saat Rey mengunjungi London, Rico melihat Alexander dan seorang gadis keluar dari toko topeng, dan Rico menebak bahwa topeng itu bermotif Harimau.
Sejak saat itu, Alexander dan Alinka menjadi sasaran utama pencariannya. Sosok Alinka yang mirip dengan sosok gadis yang dulu ditemuinya, semakin membuat Rey yakin. Namun, lagi-lagi dia tidak menemukan fakta bahwa Alinka adalah seorang mafia di Britania Raya, begitupun dengan Alexander. Sedangkan, Rey waktu itu melihat tanda-tanda gadisnya adalah seorang mafia.
Tuhan mengabulkannya sekarang, ternyata dugaannya benar. Alinka-gadis yang dicarinya adalah seorang mafia, pantas saja dia sulit menemukan identitas aslinya. Karena tentunya, Alinka bukan gadis sembarangan.
"Rey, ayo kita sarapan! Mereka sudah menunggu!" teriakan Rafael terdengar.
Rey yang sedang merapikan baju sembari melamun menjadi tersadar. "Aku segera ke sana!"