Kecurigaan Alinka

1015 Words
Selepas sarapan bersama, Rey memilih untuk pergi ke taman belakang mengumpulkan para anggota klan mafianya. Dia memberikan arahan untuk nanti kembali ke Italia, tepatnya pada malam hari, dan besok pagi. "Demian, kau bisa atur mereka secara berkelompok!" perintah Rey. Demian mengangguk. "Siap, Tuan," jawabnya secara tersenyum. Demian mengajak para anggota Black Eagle kembali ke halaman depan mansion, setelah membaginya menjadi beberapa kelompok sesuai arahan Rey. Kini, meninggalkan Rey seorang diri di taman belakang, menghirup dalam-dalam udara segar. Bibir tipisnya membentuk sebuah lengkungan garis, menandakan Rey sedang tersenyum. Tentu saja dia merasa senang, karena telah dipertemukan dengan pujaan hatinya. Di sisi lain, Alinka tengah berbincang dengan Alexander dan Bryan. Mereka bertiga merencanakan kepulangan ke London yang akan dibuat berpencar. Karena Alinka membawa pasukan yang banyak, maka akan membuat kecurigaan banyak orang, jika tidak menggunakan strategi yang tepat. Mereka bersepakat untuk menyebar para anggota Black Tiger di saat pulang ke London ke beberapa bandara, juga dibagi tiga waktu. Ada yang bagian pagi, siang, dan malam agar tetap kondusif. "Bagaimana dengan Black Eagle?" tanya Bryan. "Ah, ya, kita harus membicarakannya juga dengan Rey," sahut Alexander. "Benar," jawab Alinka. Bryan berinisiatif untuk memanggil Rey yang berada di taman belakang. Mereka memang perlu diskusi. Meski kepulangan mereka berbeda negara, tetap saja perlu menjaga keamanan untuk bersama. "Tuan!" panggil Bryan. Rey menoleh ke arah Bryan, dia mengangkat sebelah alisnya. Bryan tersenyum seraya menghampiri Rey. "Ada yang ingin dibicarakan oleh nona Alinka dan tuan Alexander," ujar Bryan. "Ah, ya?" Rey menatap Bryan masih dengan tampang datarnya. "Ya, mari ikut aku ke ruangan khusus!" ajak Bryan. Rey berdiri, dia membenarkan bajunya yang sedikit kusut. Pria tampan itu mengekor di belakang Bryan, menuju sebuah ruangan, yang dikatakan 'ruangan khusus' oleh Bryan. "Mari, Tuan," ujar Bryan. Alinka menatap kedatangan Rey dan Bryan. Tatapannya lebih fokus pada Rey, yang memasang wajah datar, ingin rasanya Alinka menampar wajah tampan itu. Alangkah terkejutnya, di saat Rey memilih duduk di samping Alinka. "Apa kau rindu padaku? Sehingga memanggilku kemari, Nona?" bisik Rey dengan suara tertahan. Alinka langsung menatap ke arah Rey dengan tajam. Sementara Rey terkekeh dibuatnya. Alexander merasa ada yang tidak beres di antara kedua insan itu. "Ekhem." Alexander berdeham. Aksi saling tatap tajam di antara kedua insan itu teralihkan. Mereka langsung menatap ke arah Alexander. "Begini, Mr. Rey, kami ingin mengetahui tentang jadwal keberangkatan anggota Black Eagle ke Italia. Kapan mereka akan pulang?" Alexander memulai pembicaraan. "Aku telah menyuruh Demian untuk mengaturnya, rencana akan nanti malam dan besok pagi, karena akan dilakukan secara bertahap," jawab Rey. "Okey, kalau begitu berarti aman. Karena untuk kepulangan Black Tiger akan dilakukan besok pagi, siang, dan malam, dibagi tiga jadwal dengan penerbangan di beberapa bandara. Untuk helikopter dan pesawat pribadi, akan digunakan untuk mengangkut barang dan senjata," ujar Alexander. "Ya, aku rasa itu akan aman. Kita tak perlu mengeluarkan banyak uang untuk menyogok pemerintah di sini," timpal Rey. "Kau benar, pemerintah sini memang selalu meminta banyak uang," sahut Alinka. "Apa kau akan pulang bersama klan-mu?" tanya Alexander. "Tidak. Aku akan menyusul nanti bersama Rafael," jawab Rey. "Apa kau tidak keberatan menampungku di sini, Nona?" Rey bertanya pada Alinka yang berada di sampingnya. "Apa kau tidak punya uang untuk menyewa hotel penginapan?" Alinka bertanya balik. "Ah, aku merasa lebih nyaman di sini," jawab Rey seraya mengedipkan matanya sebelah. Bryan sejak tadi masih menyimak pembicaraan mereka. Jujur saja, Bryan merasa bahwa Rey menyukai Alinka. Sejak tadi, Bryan melihat interaksi kedua insan itu. Jika memang benar, itu sangat bagus dan menyenangkan, karena Bryan menganggap Alinka sebagai saudaranya sendiri. Dia sudah bosan melihat Alinka tak kunjung memberi ruang untuk pria di hatinya. "Maaf, Princess, apa aku di sini untuk melihat adegan romatis kau dengan Mr. Rey?" tanya Bryan dengan nada menggoda. Alexander yang mendengar pertanyaan Bryan langsung tertawa terbahak-bahak. Alinka langsung berdiri menghampiri Bryan. "Adegan romantis itu seperti apa?" tanya Alinka dengan raut wajah garang. Bryan berdiri, menyejajarkan tubuhnya dengan Alinka. Dia menyuruh Alinka untuk kembali melihat Rey. Secara pelan-pelan, Bryan mundur beberapa langkah, saat di ujung pintu dia berteriak. "Seperti kau menatap Mr. Rey, Princess!" Wajah Alinka langsung berubah menjadi merah. Antara kesal, malu, dan perasaan aneh muncul dalam hatinya. Bryan benar-benar keterlaluan, dia mempermalukan Alinka di depan pria asing yang menyebalkan! "Awas saja kau, Bry!" geram Alinka. Alexander menepuk bahu Rey, lalu menyusul Bryan pergi meninggalkan ruangan tersebut. Kini, menyisakan Alinka dan Rey berdua di sana. Rey kembali duduk di sofa, seraya menatap Alinka yang masih berdiri. "Apa kau akan terus berdiri di sana, Nona?" tanya Rey setengah mengejek. Alinka langsung tersadar, akhirnya dia duduk di sofa yang semula diduduki oleh Alexander. Dia langsung menatap Rey dengan tajam, hampir saja Alinka melupakan itu. "Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Rey santai. "Ada sesuatu yang perlu kau jelaskan padaku," ujar Alinka dingin. Rey mengerutkan dahinya. "Apa itu?" "Mengapa kau memanggilku dengan sebutan 'Princess' saat pertama kali bertemu?" Deg. Rey terdiam. Dia menelan salivanya kasar, perlukah pria itu mengatakannya sekarang? Mengatakan, jika Alinka adalah pujaan hatinya yang telah dicari keberadaannya sejak dua tahun lalu. "Kau juga mengatakan, bahwa kau mengenaliku sejak lama. Apa kau memata-mataiku?" Alinka kembali bertanya. Rey masih diam, matanya menatap lekat wajah Alinka. Wajah yang selalu dimimpikannya, membayangi harinya, kini terpampang jelas secara nyata. "Apa itu benar, Rey?" Alinka mendesak Rey untuk menjawab. Rey tiba-tiba tertawa, membuat Alinka semakin heran. Jujur saja, hal itu menjadi pertanyaan besar dalam benak Alinka. Siapa sosok Rey sebenarnya? "Aku banyak pekerjaan, bahkan sangat banyak. Waktu istirahat pun hanya sedikit. Apakah masuk akal jika aku menjadi mata-matamu?" tanya Rey, menatap Alinka semakin lekat. "Kau mempunyai banyak orang yang bekerja di bawahmu, Sir," ujar Alinka. "Aku rasa, itu pertanyaan konyol yang tak perlu dijawab." Rey berdiri, lalu melangkahkan kakinya menuju pintu, tetapi Alinka menahannya. Rey menatap tangannya yang dicekal oleh Alinka, gelenyar hangat menjalar pada hatinya. "Kenapa?" tanya Rey lembut. "Kau bisa mengelabui banyak orang, tapi itu tidak berlaku untukku. Katakan yang sebenarnya!" "Aku tidak sedang mengelabui orang lain," elak Rey. "Memang tidak ada orang lain lagi di sini, hanya aku. Cepat jelaskan, kenapa kau seolah mengetahui banyak tentangku?!" Rey menarik napas panjang. Dia menggenggam tangan Alinka, membawanya kembali ke tempat duduk. "Sebenarnya---" "Apa yang kau sembunyikan dariku?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD