Pintu terbuka dengan lebar, Alexander kembali masuk ke dalam ruangan mengagetkan Rey dan Alinka. Senyum terbit dari bibir Alexander, dia berjalan tanpa berbicara. Tujuannya memang untuk mengambil ponselnya yang tertinggal. Alexander langsung keluar setelah ponselnya berhasil diambil, dia kembali memberikan ruang bagi kedua insan tersebut.
"Apa yang kau sembunyikan dariku?" Alinka kembali menatap Rey dengan mata tajamnya.
"Ah, sebenarnya tidak ada yang aku sembunyikan darimu," ujar Rey dengan tampang tak berdosa.
Wajah menyebalkan itu kembali, Alinka merutuk di dalam hatinya. Pria itu sepertinya tidak tahu, bahwa Alinka tengah dilanda rasa penasaran yang sangat besar.
"Astaga, kau benar-benar menyebalkan, Sir."
Alinka memijat pelipisnya secara perlahan. Pria di hadapannya benar-benar mampu menaikkan tensi darahnya. Rey yang melihat hal itu tersenyum iblis, seraya menatap Alinka lekat.
"Sebegitu ingin tahunya kau tentang hal itu, Princess?" tanya Rey dengan menaikturunkan alisnya.
"Jangan bertindak seolah kau mengenalku sejak lama!" geram Alinka.
"Aku memang mengenalmu sejak lama. Hanya saja, kita baru dipertemukan kembali saat ini ...." Rey menjeda ucapannya.
"Ah, aku jadi senang kau memasang wajah penasaran seperti itu, Princess," ujar Rey.
"Sudahi omong kosongmu itu, Sir!"
Alinka hendak meninggalkan ruangan khusus tersebut, tetapi Rey segera menahannya. Pria itu menarik Alinka hingga menabrak d**a bidangnya. Kini, Rey dan Alinka refleks berpelukan.
Rey tersenyum ketika Alinka tak berkutik di dalam pelukannya. Pria itu memberanikan diri mengecup puncak kepala Alinka dalam. Di situlah Alinka mulai tersadar, dan mendorong Rey kuat.
"Astaga, kau lancang sekali!" pekik Alinka.
"Kau juga nyaman di dalam pelukanku, 'kan?" tanya Rey dengan nada mengejek.
"Terserah kau saja," ujar Alinka pasrah.
"Kau lebih baik duduk, aku akan menceritakannya padamu," ucap Rey.
"Kali ini tidak berbohong," lanjutnya.
Alinka menatap Rey, meneliti indra penglihatannya. Berniat mencari kebohongan, tetapi hasilnya nihil. Rey tampak lebih serius sekarang. Alinka berdeham, sebagai isyarat bahwa dia setuju.
"Apa kau pernah membantai sebuah rumah di kawasan Italia?" tanya Rey.
Alinka sempat berpikir, lalu dia mengangguk. "Ya, dua tahun lalu."
"Saat itulah, aku mulai tertarik padamu," ujar Rey.
Alinka sontak kaget, bola matanya seperti tak percaya. Bagaimana bisa Rey telah tertarik padanya dari dua tahun lalu? Alinka tak percaya, pria di hadapannya pasti berbohong!
"Kau pasti bohong," ujar Alinka pelan.
Rey tersenyum. "Bolehkah aku bercerita banyak?" tanyanya.
Alinka mengangguk. Jujur saja, dia memang penasaran. Mungkinkah ada orang yang menyukainya sejak lama? Sementara, dia sendiri hanya sibuk urusan pekerjaan, selama ini menyampingkan urusan hatinya.
"Waktu itu, aku hendak pulang ke mansion setelah rapat penting bersama kolega bisnis di luar kota. Aku melintasi jalanan sepi di kawasan Roma, hanya ada satu rumah besar di sana. Aku mengawasi rumah tersebut, karena mendengar teriakan-teriakan kesakitan. Namun, aku tak mau ikut campur, karena itu bukan urusanku. Aku menepikan mobil di seberang kanan, sedikit jauh dari rumah itu. Tak lama kemudian, aku melihat perempuan keluar memakai topeng harimaunya," ujar Rey.
"Lalu?" tanya Alinka penasaran.
"Kau ceroboh," jawab Rey terkekeh.
Alinka menaikkan alisnya sebelah. Dia tak mengerti, kecerobohan apa yang telah dibuatnya, sehingga menimbulkan Rey ke dalam kehidupannya itu?
"Kau---"
***
Di sisi lain, Alexander dan Bryan sedang duduk bersampingan di dekat kolam renang. Mereka memilih tempat itu, karena sepi tidak ada orang lain. Akan lebih rileks untuk menghindari banyak orang.
"Apa kau merasakan hal yang sama?" tanya Bryan.
Alexander melirik ke arah Bryan. Dia menaikkan dagunya seolah bertanya apa yang dimaksud oleh Bryan. Namun, Bryan tak menyadari kode itu, dia akhirnya mendengus kasar.
"Aku sedang berbicara padamu, Mr. Alexander!" tegas Bryan.
"Kau tinggal berbicara, apa susahnya? Lagi pula, kau tak mengerti di saat aku memberikan kode agar kau melanjutkan pembicaraanmu itu," ujar Alexander.
"Aku ini bukan komputer yang memerlukan kode etik," timpal Bryan.
Kini, keduanya saling menatap berang. Memang, terkadang dua pria itu tak akur. Ralat, memang jarang sekali akurnya. Mereka terlihat seperti Tom and Jerry dalam film kartun yang ramai disukai anak-anak itu.
"Astaga, kau terlalu banyak berbicara," keluh Alexander seraya memijat pelipisnya.
"Kau sendiri yang tak menggubrisku," sahut Bryan.
"Kau seperti perempuan sedang dalam masa menstruasi, Bry!"
Apa katanya? Bryan seperti perempuan yang sedang menstruasi? Memang, mulut Alexander itu sudah keterlaluan. Sepertinya, Bryan yang masih disisakan kewarasannya, akan mengalah. Daripada, pembahasan mereka semakin tak terarah.
"Begini, maksudku ... apa kau merasakan hal sama ketika melihat interaksi Rey dan Alinka?" Bryan bertanya ulang dengan kalimat yang lebih jelas.
Alexander berdeham. Dia baru paham arah pembicaraan Bryan sekarang. Ternyata, pria itu sedang mengakurkan pendapat tentang sepupu kesayangannya.
"Kau merasakan apa?" tanya Alexander.
"Aku rasa, Mr. Rey menyukai Alinka," jawab Bryan.
"Ya, memang seperti itu konsepnya," sahut Alexander.
Bryan menepuk jidatnya kasar. Memang, Alexander tipe pria menyebalkan. Konsep? Bahkan ini perasaan hati seseorang, bukan tata letak pasukan yang akan bertarung. Bukan juga mengarah pada teori. Pantaskah disebut konsep?
"Astaga, kau kenapa lagi?" tanya Alexander seraya melotot tajam.
"Tidak, apa yang kau maksud konsep itu?" tanya Bryan.
"Malam tadi aku berbicara dengan Rey, dan dia memang menyukai Alinka. Yang masih menjadi misteri, Rey menyebutkan bahwa dia telah menyukai Alinka sejak lama," jawab Alexander.
***
"Kau membuka topengmu itu, sehingga aku mengagumi paras cantikmu. Namun sayang, Paman Rico meneleponku karena ada urusan penting. Jadi aku tak sempat menemuimu waktu itu," ujar Rey.
"Lalu, apa yang kau lakukan?" tanya Alinka dengan polosnya.
"Sejak saat itu, aku selalu memimpikanmu setiap malam, sampai aku merasakan stres dibuatnya. Paman Rico mengusulkan untuk mencari tahu tentangmu. Jujur saja, itu sulit," ujar Rey lirih.
Alinka menatap dalam sorot mata Rey, di sana menandakan adanya kesedihan. Entah kenapa, hati Alinka serasa ikut merasakan derita yang dialami pria di hadapannya itu.
"Bagaimana kau bisa tahu, bahwa itu adalah aku?" tanya Alinka.
"Setelah berbulan-bulan, bahkan hampir setahun, paman Rico memotretmu dan Alexander yang baru saja keluar dari toko topeng di London. Waktu itu, aku memang sedang ada urusan di sana, dan mengutus paman Rico yang menghadiri beberapa acara," ujar Rey.
"Hm, sepertinya aku tertarik dengan dongengmu itu. Bisa saja aku tertidur di sini." Alinka terkekeh seraya menirukan orang mengantuk.
"Damn, ini bukan dongeng, Princess," ujar Rey kesal.
"Aku tahu, ayo lanjutkan!"
Rey kembali pada ekspresi awalnya. Namun, bukannya melanjutkan ceritanya, dia malah mencubit pipi Alinka gemas. Sebenarnya, dia ingin melakukan itu sejak tadi, tetapi nyalinya di hadapan Alinka, benar-benar diuji terus menerus.
"Hei, lepas! Cepat lanjutkan ceritanya!" perintah Alinka.
"Ah, sorry. Kau terlalu gemas," kekeh Rey.
"Lalu, bagaimana lagi?" tanya Alinka.
"Aku mengirimkan mata-mata untuk melihat setiap gerak-gerik kau dan Alexander. Namun, yang terungkap jelas hanyalah perusahaan legal yang kalian jalankan. Tidak dengan klan mafia-mu itu. Benar-benar sulit mencari identitas aslimu itu."
"Bagaimana kau mengetahui bahwa aku perempuan itu, pada saat malam tadi pertempuran?" tanya Alinka penasaran.
"Sorot matamu itu. Jika di dalam foto, aku tak mengenalinya, karena kau menggunakan lensa," ujar Rey.
Alinka terkekeh. Baru kali ini dia merasa ada orang yang sebegitu menyukainya. Dia menarik tangan Rey, lalu berjalan keluar dari ruangan khusus. Alinka berbalik menatap Rey, yang ternyata tengah menatapnya. Tanpa disadari, tangan mereka kini tengah bertautan.
"Aku rasa, cukup dongengmu kali ini, Sir. Aku benar-benar mengantuk, dan akan kembali tidur sampai nanti malam. See you!"
Alinka melepaskan tautan tangannya, lalu berlalu menuju kamar. Dia tidak berbohong saat mengatakan dia mengantuk. Sementara Rey, tengah geram menatap kepergian pujaan hatinya yang menyebalkan itu.
"Kalau tidak cinta, sudah aku habisi kau, Princess," ujar Rey seraya terkekeh.
Rey mendudukkan bokongnya di sofa. Dia memanggil satu orang pelayan untuk membuatkannya minuman. Bercerita banyak pada Alinka, ternyata menguras tenaga dan kesabarannya. Benar-benar menyebalkan. Kenapa bisa Rey menyukai perempuan spesies langka seperti Alinka?
Tak selang lama, pelayan membawakan satu gelas berisi jus jeruk yang diminta oleh Rey. Pelayan tersebut melayaninya dengan sangat ramah. Meski, pelayan itu sebenarnya sedang curi-curi pandang, karena Rey memang sangat tampan.
"Saya permisi, Tuan," ujar pelayan itu ramah.
Rey hanya menatapnya malas. Dia sudah tahu tipikal perempuan muda yang menjadi pelayan, rata-rata berkelakuan sama. Rey tak ambil pusing, dia segera meminum jus jeruk itu. Rasa asam, manis, dan dingin bercampur menyebabkan rasa nikmat dalam tenggorokannya.
"Kau terlihat kacau sekali," cibir Rafael yang baru saja datang seraya menepuk pundak Rey.
Selanjutnya, Rafael duduk di sofa yang berhadapan dengan sahabatnya itu. Dia menelisik Rey dari atas sampai bawah. Tampilan yang sangat buruk, Rey tampak kusut sekarang.
"Ada masalah?" tanya Rafael.
Rey mengendikkan bahunya acuh. Dia tak ingin bercerita pada siapa pun untuk sekarang. Rasa sebalnya pada Alinka masih belum berkurang.
"Sepertinya, kau akan semakin dimabuk asmara," ujar Rafael seraya terkekeh.
"Diam kau!"