Pulang

1004 Words
Malam harinya, sebagian anggota Black Eagle melakukan perjalanan pulang menuju negaranya, Italia. Sebagiannya lagi, yaitu besok paginya bersamaan dengan sebagian anggota Black Tiger yang juga pulang ke London. Sementara Rey dan Rafael belum pulang, mereka masih berada di mansion ketua Black Tiger yang tak lain adalah Alinka. Mereka tengah berbincang dengan Alinka dan Alexander. "Princess, sebaiknya kau ikut ke Italia saja bersamaku," ujar Rey seraya mengedipkan sebelahmatanya. Alinka mencebikan bibirnya. "Maaf, Sir, aku tidak kekurangan tempat untuk tinggal." Alexander dan Rafael tertawa terbahak-bahak. Respon yang diberikan oleh Alinka memang mengundang tawa. Lagi pula, sepertinya Rey pun tak bosan untuk terus mengusik Alinka. "Rey ada benarnya juga, Alin. Bukankah kau merindukan liburan ke Roma untuk melihat kota indah itu?" Alexander menatap ke arah Alinka. "Kalau begitu, kebetulansekali. Kau biberlibhr berlibur bersama kami!" timpal Rafael. "Mereka saja mendukung, kenapa kau masih diam?" Rey bertanya pada Alinka. "Its your dream, not me! Your dream!" ujar Alinka penuh penekanan. Alinka memilih meninggalkan ketiga pria itu. Dia merasa bahwa ketiganya memang bermasalah. Apalagi jika Bryan ikut bergabung bersama mereka, bisa-bisa Alinka semakin terpojokkan. Tak terasa, waktu sudah menunjukkan malam kembali. Seluruh anggota klan mafia dari kubu Black Tiger dan Black Eagle telah pulang ke negaranya masing-masing. Sedangkan, atasan mereka kini tengah membereskan barang-barang untuk kepulangannya juga. Awalnya, Rey dan Rafael akan menginap satu malam lagi, tetapi niat itu diurungkan karena ada hal penting. Rey telah selesai membereskan barangnya, dia tersenyum ke arah Alinka yang sejak tadi menatapnya tanpa henti. Rey menghampiri Alinka, dengan gemas dia mencubit pipi Alinka pelan. Alinka kaget dibuatnya, dia memekik meminta dilepaskan. "Kau menyebalkan sekali!" ujar Alinka. "Kau sejak tadi menatapku, Princess," cibir Rey. "Tidak, kau terlalu percaya diri," timpal Alinka. "Mataku masih berfungsi dengan baik," ujar Rey disertai kekehan. Cukup, Alinka sebal. Dia meninju perut Rey lumayan kencang, sehingga pria itu mengaduh kesakitan seraya menatapnya tak percaya. Sementara Alinka menatapnya garang. "Hei, kau melukaiku!" ujar Rey tak terima. "Aku rasa kau perlu merasakannya kembali." Alinka mengepalkan tangannya bersiap untuk meninju kembali Rey. Rey telah siap untuk menerima pukulan itu. Jujur saja dia suka, Rey akui bahwa kekuatan Alinka memang cukup besar. Rafael datang menggagalkan Alinka yang akan meninju sahabatnya itu. "Astaga, Nona! Kau terlalu bar-bar," ujar Rafael. "Bukan urusanmu!" ketus Alinka. "Tapi, aku tak suka jika kau melukai sahabatku, " ujar Rafael. Alinka menatap Rafael lekat. Kini, dia mengepalkan tangannya erat, tanpa berpikir panjang kepalan tangan itu melayang ke arah perut Rafael. Pria itu yang tidak mempunyai keseimbangan langsung tersungkur. "Karena kau melindungi sahabatmu, maka aku memukulmu, " ujar Alinka santai. Rey tertawa terbahak-bahak melihatnya, para pelayan mansion yang mendengar langsung berbisik-bisik. Mereka memang mengagumi Rey, bahkan tak sedikit yang menyebut Alinka dan Rey cocok jika disandingkan. "Kau mengerikan sekali," ujar Rafael dengan nada dibuat-buat. "Kii mingirikin sikili." Alinka menirukan gaya berbicara Rafael dengan mengubah huruf vokalnya menjadi "i". "Jika kau belum puas, kau bisa memukulku lagi," ujar Rey. "Sudah cukup. Lebih baik kita segera ke meja makan," timpal Alinka. "Ayo!" anaknya pada Rey dan Rafael. Mereka langsung berbegas ke meja makan yang terletak di dapur bersih. Alinka menatap sekeliling, Alexander masih belum menampakkan batang hidungnya lagi. "Hei!" panggil Alinka pada pelayan. "Ya, ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya pelayan itu dengan ramah. "Tolong panggilkan Xander, untuk segera kemari untuk makan malam bersama!" perintah Alinka yang langsung diangguki oleh pelayan tersebut. "Baik, Nona. Akan saya laksanakan, permisi." Alinka mengangguk. Dia langsung duduk di kursi, tanpa disadari di hadapannya adalah Rey yang kini tersenyum jahil. Rafael yang di samping Rey menyikunya pelan. Rey langsung beralih menatap ke samping. "Kau menggangguku," ujar Rey dengan tatapan tajam. Rafael terkekeh. "Aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalian jika menikah. Kelakuan kau dan dia sama bar-barnya, aku merasa kasihan dengan anak kalian nanti." Rafael berbisik dengan nada jahilnya. Rey kembali menatap Rafael dengan sangat tajam, rasanya dia ingin menerkam sahabatnya itu hidup-hidup. Baru saja Rey akan membuka suaranya, suara lain sudah masuk ke dalam indra pendengarannya. "Apa yang kalian bicarakan sehingga berbisik-bisik seperti itu?" sindir Alinka. "Ah, kami sedang memuji kecantikanmu, Rey mengatakan bahwa kau sangat cantik, Nona," jawab Rafael. Alinka memilih untuk diam, daripada melayani orang-orang tidak waras itu. Sementara di bawah sana, kaki Rafael sedang diinjak kuat oleh Rey hingga pria itu memekik. "Arghh." "Ada apa dengan kau Mr. Rafael?" Suara bariton milik Alexander menggema. Alinka langsung menoleh ke arah Alexander yang kini sudah duduk di sampingnya. Di seberangnya terdapat Rey dan Rafael dengan wajah anehnya. Rey yang memasang wajah santai, dan Rafael yang memasang wajah sebal. "Kau tidak apa-apa, Mr. Rafael?" tanya Alexander. "Ah, tidak apa-apa," jawab Rafael dengan sopan. Makan malam pun segera dilaksanakan, mereka mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya masing-masing. Tidak ada yang berbicara lagi, mereka kini fokus ke dalam makanan yang tersaji dalam piringnya masing-masing. Selang beberapa menit, mereka telah selesai menghabiskan makan malamnya. Kini, mereka bergegas membawa barang-barang ngakak menuju halaman belakang mansion yang sangat luas. Tampak dua helikopter berada di sana. Kendaraan itu yang akan mengantarkan pimpinan dua klan mafia ke negaranya masing-masing. Alinka bergegas masuk ke dalam helikopternya untuk menyimpan barang yang dibawa, begitupun dengan Alexander, Rey, dan Rafael. Mereka keluar kembali dari helikopter dan berkumpul untuk mengucapkan salam perpisahan. Kini, terlihat mereka tengah serius berbincang tentang perjanjian untuk saling menutup rapat rahasia. "Terima kasih telah menjamu kami semua dengan baik, Nona Alinka, Mr. Alexander," ujar Rey disertai senyuman. "Semoga kita dapat bekerja sama terus untuk ke depannya," timpal Rafael. "Ya, sama-sama. Terima kasih juga pada kalian yang sudah membantu kami," ujar Alinka. "Kita pasti akan bekerja sama kembali," sahut Alexander. "Ah, bolehkah aku meminta nomor telepon kalian berdua?" tanya Rey. Alinka dan Alexander mengangguk, lalu menjawabnya bersamaan. "Tentu saja." Seusai saling bertukar nomor telepon, mereka langsung masuk ke dalam helikopternya masing-masing. Rey dan Rafael akan pulang ke Italia, sedangkan Alinka dan Alexander akan pulang ke London. Dua helikopter itu perlahan mulai mengudara. Alinka menarik napasnya dalam, lalu menyenderkan kepalanya di bahu Alexander. Namun, bunyi notifikasi masuk mengganggunya. Alinka langsung merogoh ponselnya yang belum dia matikan itu. [Hati-hati, Princess. Aku pastikan akan kembali untuk mengajakmu berhubungan yang serius.]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD