Mengumpulkan Keberanian

1033 Words
[Kau juga hati-hati.] Rey tersenyum lebar ketika melihat notifikasi masuk pada ponselnya. Itu adalah balasan dari Alinka. Rafael yang melihatnya hanya bisa geleng kepala. Di dalam perjalanan, Rey dan Rafael membahas tentang perkembangan Black Eagle selama satu tahun terakhir. Bisnis illegal-nya itu memang sangat menguntungkan di tahun ini. "Di tahun ini, senjata api rakitan laris manis melebihi target penjualan di tahun sebelumnya," ujar Rafael. "Ya, kau benar. Bahkan, melebihi prediksi yang aku pikirkan. Memang benar-benar menguntungkan jika ada peperangan di negara lain, jika mereka memesan senjatanya pada kita," sahut Rey. "Jika ada peperangan setiap hari, sepertinya kita akan lebih kaya," kekeh Rafael. "Tidak. Paling juga kau akan ikut mati," timpal Rey. "Hm, kau ada benarnya juga." Perbincangan berlanjut terus menerus hingga mereka merasakan kantuk datang. Setelahnya, tidak ada lagi perbincangan di antara mereka, karena keduanya memilih untuk tidur. *** Hari telah berganti, Alinka kini tengah berada di ruangan tempat menonton televisi. Dia tidak pergi ke kantor hari ini, karena menginginkan rehat sejenak di mansion-nya. Biasanya, Alinka tak ada waktu untuk sekedar menonton. Apalagi tayangan televisi yang sebenarnya kurang menarik. Berita-berita selebriti papan atas yang selalu menjadi perbincangan hangat, dan terus diulang beberapa hari di beberapa chanel selama berita itu masih panas. Memuakkan bukan? Satu kasus yang Alinka akhir-akhir ini dengar adalah selebriti yang menikah secara diam-diam tanpa dipublikasikan beberapa bulan lalu, dan baru dipublikasikan bulan ini. Banyak netizen yang menyerbu akun sosial media dari artis tersebut dengan berbagai hujatan. "Hah, membosankan," ujar Alinka. Wanita cantik itu menekan remot untuk memindahkan saluran televisi. Alinka melotot tajam, rupanya ada kasus pembunuhan sepasang suami-istri, diduga pelakunya adalah orang terdekatnya. "Cukup menarik," gumamnya pelan. Alinka memperhatikan berita untuk mengetahui di mana kasus pembunuhan itu terjadi. Setelah mengetahuinya, Alinka segera bergegas menuju kamarnya untuk berganti pakaian tertutup. Dia akan melihat langsung ke TKP pembunuhan tersebut. "Mau ke mana, Princess?" tanya Alexander yang baru saja pulang dari supermarket terdekat. "Jalan-jalan," ujar Alinka seraya tersenyum tipis. "Pakaianmu tidak menyebutkannya," ujar Alexander menatap Alinka dari atas sampai bawah. "Sudahlah, Xander, aku ingin menikmati angin sendirian. Aku pergi dulu!" Alinka segera bergegas keluar, menuju salah satu motornya yang terparkir rapi. Dia menaikki motor, lalu menyalakan mesinnya. Alexander rupanya masih mengawasi Alinka, sebelum wanita itu benar-benar menghilang dari pandangannya. "Mau ke mana dia?" tanya Alexander. Pria itu mengendikkan bahunya, dia memilih untuk segera ke kamar. Saat baru saja sampai di ambang pintu, sepertinya Alexander melupakan sesuatu. "Pelayan!" panggilnya dengan suara bariton yang khas. Salah satu pelayan langsung menghampiri Alexander dan menunduk dengan hormat menunggu perintah. Alexander memberikan satu kantong belanjaan yang dia beli dari supermarket. "Tolong buatkan aku mi instan dan es teh manis, nanti bawa ke kamarku!" perintahnya. "Mi instan?" tanya pelayan tersebut heran. "Ya, cepat kau buatkan, aku sudah lapar!" Pelayan itu langsung mengangguk, dan pamit untuk membuatkannya terlebih dahulu. Di dalam hatinya dia bertanya-tanya, sejak kapan Alexander menyukai mi instan? Selama bekerja di mansion ini, dia belum pernah melihat Alexander atau pun Alinka memakan makanan itu. "Aku penasaran bagaimana rasanya mi tersebut? Banyak selebgram yang di-endors untuk mengiklankan mi itu. Ekspresinya terlalu berlebihan, awas saja kalau mi-nya tidak enak!" gumam Alexander. Di sisi lain, Alinka memberhentikan motornya di depan sebuah warung kopi. Di seberangnya terdapat banyak orang dan anggota kepolisian yang sedang memasang garis polisi. "Ah, itu dia rumah korbannya," ujar Alinka seraya melepas helm. Wanita itu memakai masker berwarna hitam, tidak kelihatan mencolok. Karena, sekarang orang-orang yang keluar lebih nyaman memakai masker daripada polos. Itu sangat menyenangkan bagi Alinka. Alinka menyeberang jalan, lalu ikut berdesak-desakan dengan banyak orang di sana. Mayat pasangan suami-istri tersebut masih tergeletak di teras rumahnya. Sepertinya, polisi belum bertindak jauh. "Apa korban mempunyai musuh?" tanya polisi pada keluarga korban. "Saudara saya ini orang baik, Pak, mereka tidak mempunyai musuh satu pun," jawab pria yang diduga keluarga korban. "Mungkin sebelumnya terjadi perselisihan dengan orang?" tanya polisi. "Setahu saya mereka mempunyai hutang yang banyak. Bisa saja, saudara saya dibunuh oleh perampok atau rentenir penagih hutang. Di dalam bukannya berantakan waktu kita lihat?" Dari gerak-gerik pria yang mengaku saudaranya itu, Alinka melihat adanya kejanggalan. Alinka paham betul bahwa pria itu sebenarnya tengah menyembunyikan identitasnya sebagai pembunuh menjadi pembela. "Menarik," ujarnya. Alinka langsung keluar dari kerumunan itu, bergegas menuju motornya. Pria tadi akan menjadi targetnya di malam hari. Itu akan sangat menarik, Alinka tak sabar untuk melakukan sesuatu nanti malam. *** Rey memetik gitar seraya bernyanyi, suasana hatinya sedang baik-baik saja sekarang. Rey tampak lebih ceria di hari ini. Rafael menghampirinya dengan senyuman mengembang. "Kau tampak bahagia," ujar Rafael. "Tentu saja, aku sangat bahagia sekarang," jawab Rey seraya tersenyum. Rafael mengetahui hal apa yang menyebabkan sahabatnya itu lebih sering tersenyum. Apalagi jika bukan disebabkan oleh Alinka? Wanita cantik yang menjadi pujaan hatinya itu telah membuat Rey merasa bahagia. "Bagaimana rencanamu selanjutnya, Rey?" tanya Rafael. "Aku akan mendatangi ayahnya agar segera bisa melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius," jawab Rey menatap mantap. "Bagaimana kalau Alinka menolaknya, Rey? Aku rasa, dia membutuhkan waktu untuk itu." "Aku akan berpikir keras untuk meyakinkannya, jika tidak direspon dengan cara halus, aku akan mencari cara lain. Yang terpenting sekarang adalah mendapatkan hati ayahnya." "Ya, kau benar. Semoga berhasil, aku selalu mendukungmu," ujar Rafael. "Thank you, Raf!" Rafael beranjak pergi karena disuruh Rey untuk mengecek keadaan markas Black Eagle. Sementara Rey beranjak untuk mengumpulkan seluruh pelayan dan penjaga keamanan mansion. Hari ini mereka gajian. "Ini gaji kalian bulan ini, dan di dalamnya ada bonus tambahan," ujar Rey di depan para pegawainya. Mereka mengangguk antusias. "Silakan berbaris, dan ambil dengan tertib!" Rey membagi dua bagian, yaitu gaji pelayan di sebelah kiri, dan gaji penjaga keamanan di sebelah kanan. Mereka semua mengucapkan terima kasih pada Rey, karena telah sangat baik. Setelah selesai, Rey langsung masuk ke dalam kamarnya. Senyum tipisnya terbit, dia langsung mengambil benda pipih yang berada di atas nakas. [Apa kesibukanmu hari ini, Princess? Sudahkah kau membunuh orang di hari yang cerah ini?] Rey mengirim pesan yang menyebalkan pada nomor Alinka. Hanya selang dua menit, ternyata balasan datang, Rey tersenyum di saat membukanya. [Aku ada target nanti malam, mungkin selanjutnya kau yang akan aku bunuh, Sir.] Rey mengirim kembali pesan. [Coba saja kalau bisa. By the way, aku sudah mengumpulkan keberanian, aku pastikan di minggu ini akan menemui ayahmu. Aku akan mengajakmu berhubungan yang serius.]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD