Andara: Panik Gak?

1298 Words
Kesibukan jadi ketua memang sudah terasa bagi gue, ketika acara berjalan, semuanya ok-ok saja. Asalkan rekan-rekan lo yang mengurus acara dapat bertanggung jawab, jadi gue cuma mondar mandir sambil bantu Riri selaku sekretaris kegiatan untuk membuat Laporan Penanggung Jawab untuk selesai acara. Kami membiasakan membuat LPJ jauh-jauh hari sembari menyicil hari ke hari dari pada nanti ketika selesai acara kita uring-uringan mengumpulkan bukti. Selesai membantu acara membuat LPJ gue mendapatkan chat w******p dari Bu Indah untuk mengambil hasil ulangan di kantor.  Bu Indah: Andara, tolong ke sini sebentar ya, ambil ulangan. Nanti yang remedial suruh ke ruangan saya besok jam 9. Terima kasih. Begitu isi pesan dari Bu Indah, gue membalas singkat namun sopan.  Siap bu, saya ke sana. Bukan cuma balasan, gue segera ke sana karena memang gue juga enggak ada kesibukan. Hidupnya cuma mondar-mandir aja memang. Sesampai di meja Bu Indah gue segera mengambil tumpukan kertas itu.  "Jangan lupa ya, sampaikan ke teman-teman." Bu Indah yang duduk di bangkunya . "Baik bu, nilai saya aman kan bu?" tanya gue basa-basi, sebenernya gue juga kepo si sama hasil ulangan gue. "Aman." Bu Indah memberikan jempol ke gue. Bu Indah memang termasuk guru yang asik dan mudah diajak membaur dengan siswanya. "Baik kalau begitu bu, saya permisi." Gue undur diri. Keluar dari ruang guru dengan membawa kertas hasil ulangan. Gue berjalan santai menuju kelas, suasana class meeting begitu terasa dengan banyaknya siswa yang berseliweran dengan baju bebas maupun baju seragam. Biasanya yang menggunakan baju bebas adalah siswa yang ikut lomba atau memang sedang malas menggunakan seragam. Namun untuk gue, gue tetap memakai seragam, ya karena gue ketua kegiatan, bahkan kemana-mana pun gue tetap mengalungkan kartu identitas gue di kegiatan. Gue enggak peduli dikata pansos, yang terpenting gue bangga dengan apa yang gue punya sekarang. Lagian mereka juga tidak ada urusannya sama gue. Untuk apa peduli? Sembari jalan, gue melihat satu persatu nilai kelas, gue melihat hasil ulangan gue. Ada nilai 88 di sana, ditulis dengan pulpen merah dan besar di samping identitas gue.  Gue bangga dengan hasil nilai gue. Namun gue juga kepo dengan nilai Viona, si rangking satu di kelas. Viona mendapatkan 92, gue kaget. Bisa-bisanya Viona selalu dapat nilai tinggi. Gue juga melihat nilai Romeo, dia remedial enggak ya? Ah, Romeo dapat 80, itu angka yang bagus untuk nilainya Bahasa Inggris. Romeo memang cukup pandai dalam pelajaran ini, wajar saja ia juga jadi kesayangan Bu Indah.  Bruk! Kertas ulangan Romeo jatuh, karena gue menabrak seseorang dengan keras. Gue mendengus. "Sorry ya And." ucap seseorang, sepertinya itu teman sekelas gue. Tapi stop. Tunggu? Itu kan suara Romeo. Mendengar itu gue segera mengambil kertas itu dan segera menumpuk jadi satu dengan kertas lainnya. "Iya gapapa, kok." jawab gue cepat. Gue enggak mau kalau gue lagi liatin nilainya Romeo. Gue memang berharap bisa ngobrol sama Romeo, tapi enggak di kondisi yang seperti ini. Gue kan jadi canggung banget kalau memang moment-nya kayak gini. Mana ada tabrakan lagi, kayak di film-film aja. Tapi tabrakan ini enggak romantis, lebih ke sakit sih. Soalnya Romeo kan lari tadi "Naaah, mau lari kemana lo!" tiba-tiba Maura datang  dan memegang lengan Romeo. Gue kaget dengan kondisi ini. Romeo lari menabrak gue dan kini Maura datang menangkap Romeo. Di kelas lagi ada game ya? "Ada apa sih?" tanya gue akhirnya. "Inii, Romeo nolak jadi pangeran," adu Maura. Mimik muka Romeo langsung berubah, bola matanya langsung membesar saat Maura mengatakan itu "Kenapa nolak?" padahal gue juga pengen tahu gimana kalau Romeo pakai baju adat, pasti kan keren. "Katanya dia tuh enggak pede, juga dia mau kalau bukan lo pasangannya." Gue kaget dengan pernyataan Maura. "HEH GUE CABEIN YA MULUT LO." Ucap Romeo dengan keras. Gue cekikikan. Lucu banget lihat dia gusar. "Jadii, Romeo pengen gue jadi putrinya?" Gue mencoba terlibat dalam permainan ini, sepertinya seru. "Iyaaa." jawab Maura mantab. "Ra, lo mending enggak usah ngarang deh." sepertinya Romeo semakin senewen.  "Gue sebenernya sih oke-oke aja, kalau harus jadi putri." "Serius?" Bola mata Romeo membesar, kali ini bukan marah, namun lebih ke berharap. "Tapi sayangnya, gue ketua panitia. Gue enggak bisa ikut serta jadi perwakilan kelas. Maaf ya teman-teman." kemudian gue berjalan menuju ke dalam kelas. Meninggalkan mereka yang sedang  huru-hara.  "Apaan tuh And?" sambut teman sekelas gue ketika mendapati gue membawa tumpukan kertas. Gue menaruh kertas itu di meja Viona, meja kelas paling depan. "Hasil ulangan Bu Indah, yang remedial besok jam 9 ya." Semua orang langsung menuju meja Viona, gue mengambil hasil ulangan gue sendiri. "Yahhh gue remedial." seru Haikal.  "Yang sabar ya bro, memang nasib lo jadi orang Indonesia aja." Rohman menepuk pundak sahabatnya. "Lo remedial?" tanya Haikal sembari menatap mata Rohman. "Iya nih Bro." Seperti manusia yang ditakdirkan bersama, Haikal dan Rohman memang manusia se spesies yang selalu kompak. Melihat pertemanan  mereka gue jadi teringat Romeo. "Eh, Man, tadi sohib lo ngapain kejar-kejaran sama Maura?"  Rohman yang sedang rangkul-rangkulan dengan Haikal langsung menoleh. "Eh Romeo?" "Dia lagi pdkt sama Maura." jawab Rohman kemudian. Gue tertawa, "Serius anjir."  "Rohman enggak boleh gitu, lihat Andara cemburu." Haikal memotong. Gue kaget. Rohman tertawa, "Begini, Ibunda. Romeo itu dimintain jadi Pangeran buat lusa, tapi Romeo enggak mau." jelasnya kemudian. "Kenapa nolak?"  "Katanya dia enggak mau gandengan sama orang lain, maunya gandengan sama lo." jawab Haikal yang membuat gue terhenyak. Namun kemudian gue tertawa keras. Gue kenapa jadi suka banget sih dipasang-pasangin sama Romeo. ••• Gue malam ini sedang membaca novel, karena tidak ada tugas selama seminggu jadi gue bisa bernapas lega. Malam-malam santai gue benar-benar nikmat. Gue memang rajin dalam ngerjain tugas, tapi bukan berarti gue juga enggak suka dengan santai-santai. Memangnya siapa sih di dunia ini orang yang enggak suka berleha-leha. Asal ada porsinya pasti bakal nikmat kok. Kalau selamanya leha-leha ya capek juga. Kling. Ada pesan masuk di hp gue, gue segera meraih hp yang ada di samping gue. Ada pesan dari Maura, ada apa? Maura: And, Bantu gue dong, tolong bujukin Romeo. Dia kan deket tuh sama lo. Gue kaget membaca pesannya, ternyata belum selesai juga urusan Romeo. Gue jadi membayangkan kalau Romeo benar-benar jadi Pangeran. Rasanya benar-benar lucu ya, namanya saja sudah menjadi nama salah satu pasangan terkenal, dan sekarang dia menjadi pangeran. Makin keren kan. Kling. Maura mengirimi pesan lagi. Maura: Pliss, bantuin ya, demi nama kelas. Gue enggak tahu lagi gimana membujuk Romeo. Masalahnya gue juga enggak mau kalau duit kas kelas keambil 100 ribu gara-gara didiskualifikasi.  Sekarang gue paham, kenapa sengotot itu Maura menunjuk Romeo sebagai Pangeran, soalnya kalau Bimo dia sudah menjadi Pangeran tahun lalu bersama Viona. Dan peraturannya memang selalu menunjuk perwakilan yang beda orang. Dan menurut gue cuma Romeo yang cocok dalam ini. Sebenernya Rohman cocok, tapi kenapa ia memilih Romeo? Karena , gue yang tidak fast respon. Maura geregetan. Ia langsung menelpon gue. "Hallo, And. Kok Lo read doang si." seru Maura di seberang telepon. "Baru juga mau gue bales." "Bantuin gue ya, bujuk tuh bocah." "Gimana cara bujuknya?" tanya gue. Jujur memang gue bingung harus membujuk Romeo dengan metode seperti apa. "Ya pokoknya bantuin gue aja. Daaah." setelah itu telepon mati sepihak. Maura memang anak yang cerewet, wajar saja dia cocok menjadi bendahara kelas. Semua orang akan malas mendengar cerewetnya. Gue menggaruk-garuk kepala gue. Gimana ya cara membujuk Romeo, apa gue chat aja ya? Gue membuka room chat Romeo, dia online. Jantung gue mendadak berdegup kencang. Masak mau ngechat Romeo kayak mau ngechat presiden sih, sedeg-degan itu. Dalam sedetik kemudian, last seen Romeo muncul. Ah, tuhkan gue keburu off kan dia.  Udahlah, enggak usah aja. Biarin aja itu urusan Maura. Namun gue juga ragu, kasihan Maura. Kan itu juga demi kebaikan kelas.  Kemudian setengah sadar gue menekan ikon telepon pada ujung room chat Romeo. Gue panik, namun gue enggak mungkin mematikan telepon. Berdering...  Klik, telepon di angkat. Gue makin panik. Duh mau ngomong apa nih sama Romeo. Kenapa sih pake gaya-gayaan nelpon dia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD