“Motor lo kapan mau diambil? Gue jual nih lama-lama.” Fauzan sepertinya sudah lelah jadi tempat penitipan. Soalnya memang sudah genap seminggu, motor gue di rumahnya Fauzan. Gue juga sudah terbiasa make motornya Andara, sampai bensinnya abis dan gue isi ulang, mana udah nyaman lagi. Benar-benar siklus yang memusingkan.
“Iya-iya ntar gue ambiil.” Jawab gue, sembari mencatat rumus Fisika yang dijelaskan Pak Udin. Hari ini hari Jumat, hari terakhir masuk sekolah karena besok libur. Senangnya.
“Lagian Andara juga udah mulai sembuh kan.” Rohman ikut nimbrung, setelah sidang kemarin, mereka sudah mulai memahami apa yang terjadi. Ya meski sekali dua kali mereka tetap mengompori, ya wajarlah, enggak temen kalau enggak dikomporin dan digodain. Ada aja pokoknya yang menjadi candaan.
“Iya, gue juga udah mulai diomelin nenek lampir.”
“Nahkan, bisa-bisanya lo mengabaikan nenek lampir.’ Haikal menyahut, seperti tahu betul sifat dari nenek lampir.
Mereka tahu siapa nenek lampir tersebut. Kakak tergalak sepanjang masa, mereka saja takut. Tapi soal urusan masakan, mereka bakal antri diurutan pertama. Kan memang keluarga gue pintar masak, ya gimana ya, dulu emak gue kan koki.
Setelah itu, gue fokus mendengarkan penjelasan Pak Udin, meski sulit diterima akal sehat, gue bebal mendengarkan. Memang Fisika bukan tandingan gue. Sulit ditakhlukkan. Namun tidak bertahan lama, usaha gue mendengarkan Pak Udin tidak berbuah hasil. Mata gue malah berpindah memandang cewek yang duduk di urutan bangku ke dua dari depan. Itu Andara, yang sedang fokus membaca tulisan di depan. Sepertinya dia sudah baik-baik saja, setelah tangisnya yang pecah kemarin.
Dulu, sebelum gue mengenal dekat Andara, gue pikir Andara adalah orang yang keras kepala, orang yang sombong, tidak berperasaan. Ia selalu mau menang sendiri dan apatis, apalagi sama gue. Ternyata gue salah, Andara adalah gadis terlemah yang gue kira, sosoknya yang terlihat kuat adalah benteng yang ia coba dirikan. Sikap sombongnya adalah tameng untuk tangis kekalahannya. Siapa yang menyangka kini gue menjadi pundaknya. Semua itu terjadi tanpa gue ketahui dari mana awalnya. Bahkan, tanpa sadar gue ingin menjadi pundak yang selalu Andara cari.
Drttt drttt…
Suara getar di ponsel gue menjadikan gue tersadar. Gue segera merogoh hp itu diam-diam. Takutnya nanti ke gap Pak Udin. Sebenarnya kalau ke gap, enggak sampai disita sih, palingan Cuma disuruh maju ngerjain tugas di papan tulis. Tapi itu cukup berbahaya bagi gue dan kaum yang duduk di belakang.
Gue membuka pesan, dari Andara.
Gue pulang bareng Elisa. Lo kalau mau pergi sama temen-temen lo gapapa.
Ketika membaca pesan, tanpa sadar gue tersenyum. Seperti ada euphoria yang tanpa sadar ada di kepala. Pesan Andara mendadak jadi mood gue di pelajaran Fisika.
“Hmmmmm, bucinnya aktif ya bund.” Tiba-tiba Rohman sudah melongok, membaca pesan Andara yang terpampang lebar. Gue yang mengetahui itu langsung mematikan layar gue. Sialan, gue ketahuan.
“Dari sekian banyak wanita, Andara pilihanmu nak.” Goda Rohman. Jangan buat aneh-aneh ya, gue lagi enggak mau dikata-katain.
Gue melirik ke arah Rohman, gue yang baru saja bahagia mendadak langsung judes. “Diem deh, lo juga bucin banget sama Ika kan?”
Rohman mendadak diam, seperti tahu kelemahannya.
“Guys, hari ini kita nginep di rumahnya Haikal yaaaaa.” Cetus Rohman kemudian, seperti tahu saja bahwa besok libur.
“Setujuuuu!! Setujuuu banget.” Seperti mendapat dorprize, Haikal seperti senang sekali rumahnya akhirnya menjadi tujuan.
“Gue mau telpon emak gue dulu, bakal makan enak kalian.” Tambahnya lagi dengan semangat. “Gue juga punya koleksi baru.”
Mendengar koleksi baru, kami bertiga langsung menatap Haikal tajam. Bisa-bisanya dia nyebut koleksi barunya di kelas. Kan enggak seru kalau ke gap Pak Udin.
“Artisnya siapa?” endingnya, Rohman sama saja.
“Yo, entar malem ajarin ngegame ya. Biar enggak diajak nonton Haikal.” Cuma Fauzan sepertinya yang otaknya benar.
“Maaf Zan, gue kepo sama koleksinya Haikal.” Gini-gini gue juga cowok dan butuh asupan. Canda asupan.
Haikal dan Rohman tertawa mengejek Fauzan yang sudah berada di jalan yang benar.
•••
Ternyata Haikal enggak bohong soal makanan yang enak. Malamnya, ketika gue sampai di rumahnya di meja sudah tertata rapi banyak makanan. Gue memang datang terakhir karena mengantarkan motor ke rumah Andara. Capek gue diomelin orang mulu.
“Ah telat lo Yo, enak banget nih.” Rohman mengunyah risol. Makanannya banyak banget, kayak mau syukuran aja.
“Kal, lo sunat lagi ya?” celetuk gue. Langsung disambar oleh Haikal.
“Mulutnya, ngapain gue sunat lagi.” Tanpa sadar ia juga mendekap juniornya. Sepertinya juniornya kecil, sehingga untuk sunat lagi akan menjadikan ukurannya berkurang beberapa senti.
“Ya abis, makanan sebanyak ini kayak mau syukuran aja.”
Fauzan yang datang bersama gue juga geleng-geleng kepala karena ada surga di depan matanya. Siapa sih yang tidak tergiur dengan makanan sebanyak ini, apalagi mulut kita kayak mesin. Enggak pernah berhenti bekerja kalau disuruh ngunyah.
“Eh Romeo sama Fauzan sudah datang.” Tante Rida datang dari dapur, membawa setoples kukis coklat. Gue benar-benar tercengang. Haikal, manusia yang paling nakal di pertemanan kami adalah anak yang paling manja, anak tunggal yang selalu baik banget kalau soal ini. Bersyukur gue punya teman-teman kayak mereka, makin bersyukur lagi kalau kelakuan mereka tidak kayak setan sih.
Gue duduk, langsung mengambil minum, mulut gue harus dibasahi agar bisa menikmati makanan ini semua. Semoga saja perut gue siap menelan semua ini.
“Tadi lo ke rumahnya Andara sebentar doang Yo,” tanpa dipancing, obrolan Rohman selalu mengarah ke Andara. Gue curiga Rohman juga naksir sama Andara deh.
“Kan gue mau ke sini, kalau lama-lama entar makanannya lo embat semua lagi.” Jawab gue simple. Biar Rohman enggak nanya lagi.
“Lo lagi pedekate sama Andara ya.” Haikal sepertinya mulai kepo kenapa gue deket banget sama Andara akhir-akhir ini.
“Kagak anjir!” tukas gue cepat. Masalahnya memang dalam hati gue enggak ada terbesit mau deketin Andara.
“Beneran nih?” Fauzan sepertinya tidak yakin dengan jawaban gue. Gue juga enggak tahu maunya hati gue. Tapi gue enggak lagi pedekate sama dia juga.
“Berarti boleh nih ya, gue deketin Andara.” Haikal meminta ijin.
“Emangnya Andara mau pacaran sama lo?” Rohman menatap Haikal dengan alis yang berkerut.
“Kayaknya enggak deh, lo sama Andara aja enggak pernah akur,” Fauzan menyahut.
Haikal menunduk, “sampai kapan ya, gue diterima apa adanya sama cewek. Perlahan-lahan temen gue sudah mulai sold out.”
Gue menepuk-nepuk pundak Haikal, “tenang Bro, masih ada gue kok.”
Haikal mendongak, menatap gue heran. “Lo beneran enggak mau pacaran?”
Gue yang saat ini mengunyah tempe goreng langsung menggeleng, “maksud gue masih ada gue yang menertawakan lo yang sadboy.”
Ucapan gue disambut gelak tawa oleh Rohman dan Fauzan.
“Kok kalian gitu, enggak gue kasih tau nih koleksi terbaru gue.” Haikal merajuk.
“TANTEEEE RIDAAAAAAA!!! HAIKAL NONTON BOKHHHHH….” Belum juga usai gue berteriak, Haikal langsung menutup mulut gue. Hampir aja Haikal dicoret dari kartu keluarga.
“Yooo, lo lama-lama kok jahat banget siiih.” Dengus Haikal yang benar-benar dongkol. Gue makin tertawa karena bisa mengalahkan Haikal.
Haikal lalu berdiri dan menuju lemari bajunya, merogoh sesuatu di dalam tumpukan dalaman milik Haikal. Lalu keluarlah DVD haram.
“Gila sih, lo bener-bener mau nonton itu.” Fauzan seperti kaget dengan apa yang ada dalam genggaman Haikal.
“Lo serius mau nonton jam segini Kal?” gue seakan tidak siap untuk menonton ini terlalu dini.
“Gue mau tidur diluar deh,” Fauzan seperti hendak menghindari dosa.
“Zan, lo kok gitu sih. Kita semua dapat dosa, lo kok malah menghindar. Ya kali ntar di akhirat lo d**a-d**a di surga, kita semua ke neraka.” Haikal memang setan terkutuk. Mulutnya gak ada rasa takut.
Gue menepuk mulut Haikal, bisa-bisanya mulutnya ngomong kayak gitu.
“Mending sekarang kita sholat isya deh, ngeri sendiri gue.” Rohman seperti terdasar ketika mendengar kata surga dan neraka.
•••
Drttt… drttt…
Benar-benar mengganggu, getaran itu meski tidak ada suaranya namun rasanya benar-benar mengganggu. Gue menutup hp yang entah milik siapa dengan bantal, berharap itu segera berhenti berbunyi. Getaran itu semakin menjadi-jadi kalau ditutup bantal. Gue terpaksa meraih hp itu. Mematikannya.
Itu hp gue, tapi mata gue terlalu burem untuk membaca tulisan itu, lalu gue menslide untuk mengangkat.
Gue diam, menunggu lawan bicara ngomong baru gue tahu siapa dia.
“Yo, ayok kita ke perlombaan.” Gue mengingat siapa pemilik suara itu. Cewek, dan akrab sama gue.
Itu suara Andara. Perlahan-lahan gue mengingat. Mata gue memang belum bisa terbuka, tapi otak gue memaksa untuk bekerja.
“Lomba mana?”
“Anak paskib, yuk. Gue tunggu ya di rumah.” Ucap Andara dengan happy, Ada apa Andara pagi-pagi sudah kelihatan happy. Gue terduduk, mata gue juga sudah mulai terbuka, gue melihat teman-teman gue yang masih terlelap. Wajar aja sih, kami baru tidur pukul empat subuh, setelah menghabiskan malam dengan PS dan menonton film The Avengers dari seri pertama. Setelah tobat bersama, kami memutuskan untuk tidak menonton film haram.
Gue masih ngantuk, tapi hati gue meminta gue untuk menemani Andara. Gue bisa saja meneruskan tidur, tapi gue malah bangkit menuju kamar mandi. Cuci muka dan meraih jaket Haikal yang tergantung di kamar, enggak peduli mau kotor atau bersih yang penting gue enggak kedinginan.
“Kal, gue ambil jaket lo.”
“Hmmm,” balasnya setengah sadar, lalu ia membetulkan posisinya, mengambil alih bekas tidur gue.
Gue pergi dengan mata yang sebenarnya masih ngantuk, gue memandang wajah gue di spion, bengkak bukan main, mungkin gara-gara gue bangun langsung mencuci wajah.
Beberapa menit kemudian gue sudah sampai di depan rumah Andara, dia sudah duduk di bangku teras rumahnya, dengan senyum manis. Kenapa nih dia?
“Lo yakin enggak papa datang ke lomba?” Tanya gue ketika sudah turun dari motor. Soalnya gue enggak yakin, ya bayangin aja siapa yang baik-baik aja ketika sedang gagal.
“Lo enggak percaya sama gue.” Andara berkacak pinggang. Seperti biasa ia selalu memasang topeng terbaiknya, tersenyum dengan wajahnya yang keliatan angkuh.
“Lo beneran enggak papa?” Gue lagi-lagi sangsi. Soalnya kalian tahu sendiri, gue adalah orang yang selalu paham emosinya akhir-akhir ini. Enggak mungkin orang bisa me-recovery perasaan secepat itu, apalagi dengan ekspektasi yang tinggi sejak awal.
Andara lagi-lagi tersenyum, seperti memaksa untuk terlihat baik. Namun gue enggak mau menghancurkan tamengnya, gue bersikap seakan tidak tahu apa-apa dan mencoba menemani dia seperti biasa.
“Ayo, naik. Sebentar lagi acaranya mulai lho,” ucap gue. Andara datang dan menaiki motor gue, kini kakinya sudah baik-baik saja. Namun ia masih berjalan dengan pelan untuk membiasakan kakinya berdiri tegak.
Suasana perlombaan benar-benar ramai meskipun masih pagi. Gue dan Andara masih berada di tempat parkir, Andara memaku. Gue memandangnya, “Masuknya pas udah siap aja.” Ucap gue sok tahu.
Namun Andara menatap gue nanar, ia seperti setuju dengan ucapan gue. “Temenin ya Yo.”
Gue tersenyum tulus ke Andara, “Janji bakal nemenin kok.”
“Yuk, Yo.” Andara menggamit lengan gue. Gue cukup kaget sih dengan sentuhannya, namun demi menjaga perasaannya gue Cuma diam. Lalu ikut berjalan maju bersamanya.
Gue dan Andara mulai masuk dalam gedung olahraga, gue juga diam-diam menatap Andara, takut sewaktu-waktu ia berubah perasaan. Gue harus benar-benar mengerti perasaannya, paling enggak gue enggak boleh lengah di emosi Andara yang masih belum stabil. Kami memilik tempat duduk di tribun bagian kanan, dengan duduk di ini kami dapat melihat perlombaan dengan jelas. Karena hari sudah cukup siang, kursi tribun banyak yang terisi, akhirnya gue juga mencarikan tempat duduk untuk kami berdua.
“Nih, duduk sini aja And.” Gue mempersilahkan Andara untuk duduk. Dia dengan senang menerimanya.
“Thanks ya, Yo.” Jawab Andara.
Perlombaan dimulai, satu persatu peserta menampilkan barisannya yang gue anggap bagus semua, ya gimana ya gue kan orang awam, bisa balik kanan dengan tegap aja gue anggap udah bagus banget. Lalu, ketika perwakilan sekolah gue muncul, Andara berubah mimik mukanya, yang awalnya menikmati, kemudian berubah ingin menangis. Gue memang sejak tadi suka diam-diam menatap Andara, memahami emosi yang ia tampilkan ketika berada di sini.
Andara menatap nanar teman-temannya yang sedang unjuk gigi, gue berkali-kali mencoba ingin menepuk pundaknya. Namun gue makin takut Andara nangis. Belajar dari kemarin-kemarin kalau dia bakal luruh kalau bakal ada orang yang tahu keadaan hatinya. Akhirnya gue mencari ide agar suasana ini tidak menjadi dramatis.
“And, nanti abis nonton ini kita beli pecel lele yuk. Tapi yang ada di warung tenda gitu, jangan yang direstoran.” Ucap gue mencoba mencairkan keadaan.
Andara menoleh, ia langsung bisa me-recovery dirinya. “Pecel lele?”
“Sekarang?” Tanya Andara lagi.
“Ya, nanti pas selesai acara, kan enggak mungkin jam segini abang pecel lele tenda buka Yo.”
“Ada loh, nanti pokoknya mampir ya And.” Gue mencoba mencari topik pembicaraan, jangan sampe Andara nangis.
Andara lalu mengabaikan gue yang gaje dan melanjutkan menyaksikan penampilan peleton dari sekolah gue. Di sana Bagas berdiri dengan gagah memimpin barisan, Andara masih menatap nanar teman-temannya. Tuhkan gue yakin Andara enggak mungkin baik-baik saja, gue mencoba untuk mengajaknya ngobrol lagi.
“Andara, gue kebelet pipis nih.” Ucap gue lagi, lagi-lagi dia menoleh ke gue, kini dengan ekspresi yang mulai sebel.
“Ya udah sih sana, pipis sendiri.” Jawabnya culas, lalu kembali menatap ke arah lapangan. Kembali dengan perasaan dramatisasi yang ia rasakan.
Gue berdiri, ingin pergi dari sini, namun kembali mengurungkan diri dan duduk lagi. “Enggak jadi.”
Andara tetap bergeming, sialan kenapa gue dicuekin, tapi kalau gue jadi Andara juga momentnya nyebelin kalau ada sesuatu yang mengganggu ketika moment melankolisnya.
•••