Andara: Winner in The Heart

1613 Words
Gue sejak tadi tidak berhenti tersenyum. Di sana, di panggung berdirilah Romeo dengan pakaian adat Minangkabau, tersenyum pada juri dan penonton yang melihatnya. Meski awalnya enggak mau dan ngomel-ngomel ingin mundur, akhirnya di sinilah Romeo berada. Berdiri dengan gagah, mengenalkan diri dengan suara seraknya. Suara unik yang ia punya. "Lo tumben enggak sibuk mondar-mandir And," ujar Elisa ketika gue masih berdiri di sini. Memang entah kenapa di sini gue berdiri di sini. "Lagi pengen lihat temen gue aja," jawab gue tanpa berpaling ke panggung. "Lo enggak cemburu And, melihat mereka bergandengan tangan." Fauzan ikut menyeletuk. Gue mengernyitkan alis gue. "Cemburu kenapa?" jawab gue yang kini menoleh ke arah Fauzan. Dagu Fauzan mengarah ke panggung, gue langsung tertawa. “Kenapa harus cemburu? Gue seneng dong Romeo mau nemenin Maura, gue juga seneng dong mereka mau jadi perwakilan kelas kita yang otomatis juga ikut serta meramaikan acara di sini. Kenapa harus cemburu.” jawab gue super duper logis. Haikal, Fauzan, Rohman dan Elisa mengangguk-angguk mendengar jawaban gue. Seperti tidak percaya dengan pernyataan mereka. “Ya udah sih, kalau enggak percaya.” Setelah maju, kini ada waktu istirahat sebelum menunggu babak kedua, sembari istirahat nanti akan disebutkan yang lolos dalam babak ke dua yaitu babak pidato. Romeo dan Maura datang dari arah panggung, kita juga sudah mempersilahkan merea di bangku yang sudah kita sediakan, bangku yang diambil dari kelas sengaja diperuntukkan kepada mereka yang kegerahan dan selalu tampak seperti artis. Bimo dan Viona juga datang melihat mereka, melihat junior mereka dalam ajang Pangeran dan Putri. “Duduk dulu Uda, resepsinya belum dimulai nih.” kini Haikal menggoda Romeo, yang digoda langsung menatap tajam. Gue menyerahkan kipas ke arah mereka, kipas saku yang diisi daya mengeluarkan angin kecil ke arah wajah mereka. Yang paling terlihat kepanasan adalah Maura, namun dandanannya tetap terlihat oke. Gue memandangi Romeo sekilas, ia seperti tersiksa dengan baju kurung yang ia kenakan. “Kalian tuh cocok banget sih,” kini Elisa menyahut, yang dibilang serasi langsung saling pandang. “Eh, lo denger mitos gak?” Rohman kini juga bersuara. Gue langsung menfokuskan pendengaran gue, siapa tahu pembicaraan itu penting. “Kalo yang menang di Pangeran Putri tuh yang biasanya bakal kena cinlok. Kayak jamannya Viona Bimo.” tambah Rohman. Gue melirik Viona dan Bimo yang sedang cekikikan karena dibahas. Pacaran mereka juga terhitung awet karena sudah hampir setahun. Jarang-jarang ada anak SMA yang pacaran seawet itu. “Enggak! Kita enggak bakal menang kok.” ucap Romeo seperti tidak ingin terlibat secara asmara pada Maura. Maura yang seperti tidak layak diajak pacaran langsung cemberut. Kemudian gue menatao Romeo tajam. Mulutnya enggak kontrol banget sampai menyakiti perasaan cewek. “Lo harus menang! Sia-sia gue ajak Mama gue buat dandanin kalian.” kini Viona yang biasanya baik hati ikut menimbrung. Kemudian Bimo menyenggol pacarnya. “Jangan percaya mitos. Gue sama Viona jadian bukan karena Pangeran Putri kok, emang guenya aja udah naksir Viona pas masuk SMA.” Jawab Bimo dengan jantan, kemudian semua seruan heboh mengisi keramaian di bawah pohon mangga. Viona yang sedang dibicarakan menjadi makin merah pipinya. “Selamat siang teman-teman.” suara itu berasal dari pengeras suara di panggung. Mendengar komando itu, semua pasang telinga sudah siap mendengarkan semuanya. Di sana Riri yang menyuarakan pengumuman itu. “Jadi saya akan menjelaskan siapa saja yang lolos masuk dalam babak 2, yaitu babak pidato…” Riri menghela napas sebelum mengumumkan nama-nama yang panjang itu. “Yang pertama kelas XII IPA 1, XII IPS 3, XII IPA 3, XII IPS 2, XI IPA 1, XII IPS 3, XII IPA 3, dan …..” Riri menjelaskan sejumlah kelas yang lolos. Ada 15 kelas yang lolos. Ketika nama kelas gue dipanggil, kami serentak heboh. Romeo menghela napas karena harus maju lagi. “Sabaar, nanti kalau udah selesai bajunya dicopot kok.” gue membisikkan kalimat itu di samping telinga Romeo. Entah punya kekuatan apa, Romeo langsung terlihat senang kembali. Apa sih yang bikin Romeo jadi nyaman sama support gue? “Semangat Uda! Ayo Uda!” seru Rohman sambil merangkul Romeo, namun kini sorot mata Romeo berubah lagi. Gue jadi gede rasa kalau Romeo semangat tiap ada gue. ••• Ternyata harapan Romeo untuk segera melepas baju pupus, sampai kini pukul tiga sore, ia masuk mengenakan baju itu, baju kurung yang gue yakin rasanya gerah bukan main. Kelas gue masuk final, memang bahasa Inggris Romeo yang cukup baik membawanya sampai ke sini. Maura yang hiperaktif dan interaktif juga tidak bisa diremehkan. Saat mereka unjuk gigi dengan kesenian yang mereka miliki, mereka juga lolos dan menjadi nilai tambahan untuk maju ke final. Ketika Romeo pantomim, ia nampak lucu dengan gerakan-gerakannya yang layaknya memegang barang tak kasat mata tersebut. Gue baru pertama kali melihat Romeo menampilkan hal itu, bahkan  Romeo juga tidak mengatakan untuk mempersiapkan ini. Ketika ditanya, jawabannya hanyalah, adalah pokoknya. Maura yang pintar nyanyi, tak perlu repot memikirkan apa yang akan ia tampilkan. Suara sopranonya cukup memukau meski tidak seindah suara anak herapalace. Tapi cukup baik untuk didengar. Saat ini mereka berada di babak terakhir. Berjejer dengan XII IPA 1, di sana ada Kak Iksan sedang berdiri bersama teman sekelasnya yang juga cantik. Romeo juga berdiri di sana, menunggu giliran pertanyaan dengan wajah yang sepertinya sudah tidak nyaman dengan keadaan ini. “Baik, untuk kontestan nomor 14, Romeo Cakra bisa maju ke depan.” pinta juri, Bu Santi, wakil ketua sekolah. Romeo maju beberapa langkah, dengan mencoba senyum senormal mungkin. “Saya bertanya, tentang solidaritas.” Bu Santi merogoh gulungan kertas berjudul solidaritas. Setelah mendapatkan gulungan itu, Bu Santi melihat perlahan apa pertanyaan tersebut dan membacakan soalnya dengan mikrofon. “Kepada Romeo, saya bertanya. Apa yang akan lakukan ketika temanmu gagal dalam meraih sesuatu yang diimpikannya. Selain itu kata apa yang akan kamu ucapkan pada dia?” Bu Santi membacakan pertanyaan itu pada Romeo. Gue yang mendengar pertanyaan itu langsung kaget. “Silahkan, ada waktu dua menit untuk menjawab pertanyaan ini.” Bukannya gugup atau berpikir, Romeo langsung menjawab pertanyaan itu. “Baik terima kasih kepada juri yang telah memberikan pertanyaan bagus kepada saya. Hal apa yang saya lakukan, adalah dengan tetap berada di sampingnya. Saya mencoba memposisikan diri menjadi dia, merasakan seberapa sakitnya gagal. Saya tidak akan memaksa dia untuk tidak menangis,  memaksa untuk kuat atau semacamnya. Karena saya rasa dengan begitu teman saya akan merasa bahwa saya tidak gagal sendirian, saya tidak merasa sendiri. Memberikan ruang untuk pemberontakannya pada kegagalan itu penting.” Romeo menghela napas tipis, kemudian sorot matanya menatap ke arah gue. “Lalu kata apa yang saya katakan pada teman saya adalah, ‘Kamu boleh menangis sekarang, jika kamu gagal sekarang paling tidak kamu punya kesempatan untuk menang nanti. Menangislah, kekalahan itu memang menyakitkan.’” Seperti bukan jawaban biasa, kini gue merasakan bahwa kata itu memang ditunjukkan ke gue. Gue mendadak ingat tentang moment yang gue lalui bersama Romeo dulu, di saat gue enggak baik-baik aja, Romeo tetap ada disamping gue. Dia memberikan gue semangat tanpa terucap, dia juga memberikan gue pundak untuk menangis, dia juga memberikan gue ruang untuk bersedih. Gue baru mengerti ternyata Romeo sebaik itu. “Baik, terima kasih jawaban Romeo. Sekarang kamu boleh kembali.” ucap Bu Santi yang puas dengan jawaban Romeo. “Terima kasih sahabat sejati temanmu.” imbuhnya. Romeo tersenyum, ia juga mendapatkan tepuk tangan riuh dari para penonton di sana. “Gue enggak nyangka, Romeo bisa sebijak itu. Kok gue enggak pernah ngerasain itu ya.” sahut Haikal sembari geleng-geleng kepala. “Emangnya lo pernah ngerasa gagal?” Fauzan menoleh ke arah Haikal. “Kan Haikal hidup aja udah gagal.” sahut Rohman. Mendadak suasana yang kagum dan sepi langsung terisi gelak tawa. “Tapi emang sih, Romeo tuh temen yang baik. Dia selalu ngasih gue jawaban PRnya, selalu minjemin pulpennya, sampai abis lagi.” tak henti-hentinya Haikal berperilaku melankolis. “Itu kamunya yang tidak tahu diri nak.” sahut Rohman telak. Lagi-lagi gelak tawa terjadi lagi. Gue yang tadi hampir berkaca-kaca mendengar ucapan Haikal  langsung hilang mood untuk bersedih. Bisa-bisanya gue punya teman yang random seperti mereka. ••• Besok, sabtu dan akhirnya libur juga. Gue meregangkan badan gue di kamar. Malam ini sepertinya gue harus tidur cepat karena memang badan gue udah capek setelah satu minggu melakukan aktifitas yang melelahkan. Sibuk sana-sini dan melelahkan otak yang pasti. Perlombaan semua sudah terlaksana, dan ternyata Romeo dan Maura menjadi Runner Up yang cukup memuaskan lah. Jawaban Romeo tadi siang juga membuat hati gue tersentuh. Tanpa gue sadari, sembari memikirkan Romeo, gue membuka ponsel dan melihat foto-foto yang ada di galeri gue. Ada foto gue dan Romeo yang sedang selfie, ada Romeo yang foto sendiri dengan senyum lebarnya, bahkan ada foto Romeo ketika mengenakan selendang Runner Up bersama Maura. Gue jadi teringat obrolan gue bersama Romeo ketika selesai melepas baju adat. “Gimana? Udah naksir sama Maura belum?” tanya gue iseng. Romeo langsung menatap gue sengit. Gue padahal mengatakan itu dengan pelan, agar Maura tidak mendengar itu. “Enggak, kan gue bukan juara satu.” balasnya tepat. Ia kini sibuk membersihkan wajahnya dengan miselar water. Meski cuma fondation Romeo tetap mengelap wajahnya. “Iya enggak papa sih, kalau naksir Maura. Emang siapa yang ngelarang coba.” ucap Gue. Romeo menatap gue dengan tatapan menggoda, “beneran enggak papa nih? Ntar nangiis.” “Ya emangnya kenapa sih, kan kalian udah nikah. Hahahahahaa.” tawa gue keras. Bahkan Maura yang sedang sibuk ganti baju di ujung ruangan menoleh. Gue kembali tersenyum mengingat moment singkat itu. Bisa-bisanya gue memikirkan itu. Ah, heran deh. Gue menatap lagi foto itu. Foto seorang juara, juara di hati… Ntar nangiiis. Ucapan Romeo lagi-lagi terngiang-ngiang di otak gue. Gue aja enggak tahu mau seneng atau nangis kalau dikondisi yang benar-benar Romeo pacaran sama Maura. •••  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD