Chapter 23

1079 Words

SUKA DUKA Bau menyengat dari minyak kayu putih menusuk indera penciuman Adilla. Bola matanya mulai bergerak-gerak menyesuaikan cahaya. Ketika terbuka dengan sempurna, dia melihat Sumaiyah menangis bersama Nitami. "Mbak udah sadar?" kata Rian yang diangguki oleh si sulung. Ibunya menyeka air mata. Susah payah orang tua itu menghentikan isakan. Menatap pada si sulung penuh kesedihan. Terbayang pengorbanan putrinya demi mencukupi kebutuhan keluarga setelah kepergian sang suami. "Ndak perlu mikir omongan wong-wong kui. Kita keluargamu yang tahu piye pekerjaan sesungguhnya," kata Sumaiyah. Perempuan itu memejamkan mata. Tak melihat keberadaan Herman, dia pun bertanya, "Bu, tamuku tadi ke mana?" "Ono jobo (di luar) sama adikmu." Berusaha bangun dari tempat tidur, Adilla sedikit kesulitan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD