#
Dua Minggu kemudian
Dua Minggu telah berlalu setelah kejadian terpergok nya Pian dan Nisa di dalam rumah tepat pada hari ini Minggu pagi mereka akan melaksanakan akad nikah dan resepsi pernikahan secara sederhana disalah satu vila milik keluarga Nisa yg berada di area puncak.
Kalau mereka menolak atau kabur pun itu gk mungkin karna mereka lebih sayang orang tua mereka dari pada ego mereka sendiri.
jadilah Pian dan Nisa telah setuju dengan pernikahan ini asalkan dengan satu syarat klasik yaitu pernikahan mereka harus dirahasiakan dari pihak sekolah kerena Nisa dan Pian yg masih kelas sebelas semester dua akhir dan mereka ingin, mereka sendiri yg nantinya mempublikasikan sendiri pernikahan mereka.
Dan seperti biasa para orang tua pun setuju saja asalkan mereka segera menikah agar tak timbul fitnah nantinya jika ada apa-apa.
Pun para orang tua ingin ber besan agar hubungan mereka yg dirajut sejak lama semakin erat.
Disalah satu kamar disebuah vila bertingkat tiga dengan taman yg luas, terlihat seorang gadis tengah didandani dua perias wanita.
Tampak gadis tersebut mendadani dengan sederhana namun terlihat elegan dan sedikit dewasa dengan bibir yang ranum, pipi yg merona, bulu mata lentik dan dengan hidungnya yang mancung.
Apalagi gadis tersebut menggunakan kebaya putih muslimah dan hijabnya yg tertata dengan cantik menutupi area dada gadis tersebut.
"Wajah.. mbak Nisa cantik ya apalagi sekarang pakai hijab, kan?" Perias tersebut berdecak kagum setelah selesai merias wajah Nisa yg pada dasarnya memang sudah cantik.
Ya gadis tersebut adalah Nisa yg akan melangsungkan pernikahan ny dengan Pian atas keinginan orang tua mereka dan yg memilih mengenakan hijab adalah dirinya sendiri yg sedari dulu sudah ia impikan kini tersampaikan juga.
"Iya mbaknya cantik ya" perias satunya mengiyakan.
"Ah.. masa sih kk, makasih ya ini juga berkat kakak juga hehe.." Nisa tampak tersipu malu apalagi saat melihat pantulan dirinya di cermin yg tampak berbeda itu.
Setelah selesai merias Nisa, kedua itupun keluar ruangan meninggalkan Nisa yg kini mulai gugup dan sedikit berkeringat dingin Kala mendengar sang papa memulai ijab qobul dengan menjabat tangan sang calon suami begitu erat, Pian.
Nisa dapat melihat dan mendengar dengan jelas hal itu karena Adanya tv LED yg ada di dalam kamar yg terhubung langsung, seorang diri.
****
"Wahai ananda Indra Galvian bin Kalandra saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putriku Reinisa Putri binti Damian Alvano dengan mas kawin cincin emas dan cincin emas putih dan seperangkat alat sholat dibayar tunai" Damian berucap tegas dan lantang seraya menjabat tangan sang menantu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Reinisa Putri binti Damian Alvano dengan mas kawin cincin emas dan cincin emas putih dan seperangkat alat sholat dibayar tunai" ucap Pian dengan suara yg biasanya slalu cengengesan dan pecicilan kini berucap dengan tegas dan lantang kala ijab Kabul dan menjabat tangan sang mertua.
Setelah itu pak penghulu berucap
"Bagaimana para saksi sah?"
"SAAHH.."
"SAH.."
Setelah terucap 'sah' dari semua tamu dan saksi yg ada di dalam ruangan langsung berujar hamdalah setelah nya pak penghulu memimpin doa.
"Sekarang panggilkan mempelai wanita nya" instruksi pak penghulu.
Ratna dan Rahma mengangguk dan beranjak ke kamar Nisa yg sedang seorang diri.
^^°°^^
Di dalam kamar, Nisa menitikkan air mata karena ia sekarang telah menjadi seorang istri dari sahabatnya.
Meskipun ia menikah mendadak dengan sahabat nya sendiri, itu tak menampik hatinya bahagia meski pian bukan orang yang dicintainya, mungkin?
Tak lama mamanya datang bersama sang mertua-mama Pian menjemput dirinya untuk menemui sang suami, Pian.
"Selamat ya sayang kamu udh jadi istri sekarang" ucap Rahma sambil memeluk sang anak, tiba-tiba rasa haru menyeruak dalam hatinya.
"Selamat ya sayang sekarang panggil mamah dengan sebutan nama, jangan Tante lagi ya" ucap Ratna bergantian memeluk Nisa.
"Iya ma, mah makasih ya"
"Ya udah yuk kita turun, pasti mereka nungguin kamu"
"Ah apalagi Pian pasti penasaran dengan wujud istrinya yg cantik ini" ucap Ratna menggerling
"Ah mamah(malu tersipu) ayo kita turun"
Melewati tangga satu persatu, mereka turun dengan Nisa berada di tengah Rahma dan Ratna.
Semua mata menatap satu titik dimana Nisa melangkah dengan anggunnya, apalagi Pian yg kini menjadi suami Nisa memandangi tanpa kedip.
Tercengang melihat penampilan sang istri-nisa yg tampak berbeda dari biasanya.
Biasanya Nisa hanya akan menggunakan celana jeans atau rok selutut dan kaus biasa yang dipadukan dengan blouse tanpa make up kini Nisa terlihat lebih cantik dan sedikit dewasa dari biasanya meski Nisa hanya menggunakan makeup sederhana.
Kini Nisa duduk di samping sang suami yg memperhatikan dirinya dengan intens.
"EKHEEM.." deheman keras dari Damian terlontar untuk Pian yg sedari tadi menatap Nisa.
"Eh" dengan gugup pian menoleh pada sang mertua, sedang yg lain hanya terkekeh geli.
Sungguh malu dirinya, batinnya berseru
#
┌(・。・)┘♪
Seri Rahayu ?