Daniel Marcelino, pangeran keempat yang ditakdirkan mati sebagai kambing hitam gereja. Jika mengikuti alur novelnya tak lama setelah Liliana tiada, gereja menyarankan raja untuk mengasingkan pangeran selama setahun penuh di dalam katedral suci tanpa boleh mengakses dunia luar sedikitpun. Guna untuk menyingkirkan nasib buruk sang pangeran yang mana selalu ditinggal tewas para tunangannya.
Dalam novel diceritakan bahwa, Uskup Agung gereja mengalungkan artefak suci ke leher sang pangeran dengan dalih untuk menyucikan tubuhnya. Pangeran Daniel yang tak tahu apa apa saat itu, menerimanya begitu saja tanpa menyadari efek buruk artefak tersebut.
Artefak sihir itu berbentuk kalung hitam dengan bulatan bulatan batu safir merah di bagian tengahnya. Jika dilihat sekilas nampak seperti perhiasan biasa, tapi nyatanya artefak itu memiliki efek khusus yang sangat merugikan pemakainya. Efek buruk itu ialah membuat sang Uskup yang memakaikan kalung itu kepada sang pangeran, mendapat kendali penuh atas hidup, dan mati sang pangeran. Tak memerlukan mantra atau apapun, pemakai kalung akan mematuhi orang yang memakaikan kalung tersebut padanya. Tak peduli betapa anehnya perintah tersebut.
Sejak saat itu, sang pangeran menjadi boneka gereja dan tak bisa jauh jauh dari sang Uskup. Meski pikirannya masih berada dalam kendalinya, namun fisiknya tidak demikian. Inilah yang mengakibatkan Daniel dijuliki pangeran boneka oleh para pembaca termasuk diriku.
Tak hanya dapat mengendalikan fisik pemakainya, Artefak suci Red safir juga dapat lenyap dari pandangan semua orang. Dan tak dapat terlepas sebelum dilepaskan oleh Uskup agung atau pencipta artefak suci itu.
Tak lama setelah kematian Lilian, Duke Rafael yang mana merupakan mata mata gereja, menganjurkan kepada sang raja agar menikahkan pangeran ke empat dengan Saintess. Yang nantinya akan dibawa kabur oleh orang orang putra mahkota, karena takut tahtanya tergeser oleh pangeran ke empat yang nantinya mendapat dukungan dari Saintess.
Saat gereja mengetahui bahwa Saintess mereka telah dibawa pergi perampok, Uskup Agung memberi perintah untuk menggeledah semua kediaman termasuk istana. Sialnya putra mahkota malah meninggalkan bukti palsu ke pangeran ketiga yang terkenal suka mabuk mabukan dan menyewa tukang pukul untuk menyiksa siapapun yang berani mengganggu kesenangannya. Atau itulah yang terlihat di awal kemunculan hingga akhir hayatnya.
Faktanya saat novel menuju bagian akhir, sang penulis menjelaskan bahwa tak hanya pangeran ke empat yang dikendalikan oleh uskup agung dengan Artefak Red Safir Necklace, melinkan semua tokoh antagonis novel selain putra mahkota. Dengan kata lain, semua tindakan para tokoh antagonis itu, bukan sepenuhnya keinginan mereka. Uskup Agung Gereja lah yang seharusnya menerima hukuman gantung!
Karena aku telah berada di sini menggantikan Lilian Audrey, akan kukacaukan semua rencana gereja agar para tokoh Antagonis itu bisa selamat dari hukuman putra mahkota!
"Apa yang kau lakukan disini Lola?"
"Cepat kembalikan pakaianku ke tempatnya semula!"
"Bukankah aku sudah bilang kalau aku tak mau pergi dari rumah?" tanyaku sembari menatap kesal ke arah Lola yang tiada henti hentinya meragukan keputusanku. Hingga akhirnya aku juga yang harus membereskan pakaian yang telah dia kemas ke dalam tas.
Setelah selesai membereskan pakaian, aku meminta Lola untuk menyiapkan sebuah kereta. Tentunya Lola yang sejak tadi meminta untuk pergi dari rumah, segera pergi tanpa bertanya akan kemana. Jika dia tahu bahwa aku ingin menyiapkan gaun pertunangan, kira kira bagaimana ya responnya?
"keretanya sudah siap nona!" Lola bergegas kembali setelah berlari tanpa henti. Wajahnya terlihat penuh keringat, sementara napasnya terdengar terengah engah.
"Kerja bagus!" Aku menepuk pelan pundak Lola, lalu pergi menuju pintu keluar dan disambut oleh prajurit yang ditugaskan oleh Count untuk menjaga rumah. Tentunya tak hanya ada satu prajurit yang bekerja dirumah seorang Count, namun saat ini aku hanya menemui dua orang yang berjaga tepat di depan pintu.
Sembari memberi hormat, keduanya membungkuk pelan dan berkata, "Selamat sore, milady."
"Jika boleh bertanya bisakah anda mengatakan akan pergi ke mana?" Keduanya bertanya secara bergantian.
"Aku ingin mencari desainer untuk pertunanganku, kalau bisa tolong kawal kami," ucapku sembari tersenyum tulus.
Lola yang tak menyangka akan jawabanku, tentu saja tersentak hingga menarik pakaianku, "Bukankah Nona sudah menolak pertunangannya!?"
"Kata siapa?"
"Aku hanya meminta untuk menundanya, dan mengingat jarak antara istana dan County berjarak tiga hari, kita memiliki waktu yang cukup untuk menyiapkan pakaiannya," jawabku tersenyum.
"Ti ... tiga hari!?"
"Perlu berminggu minggu untuk menyiapkan sebuah gaun mewah Nona!" tegas Lola dengan nada kesal.
"Kata siapa kalau kita perlu gaun mewah dan mahal?"
"Cukup pilih saja gaun yang sederhana, jika pangeran merasa terhina akan persiapanku maka dia harus memikirkan keputusan gila ayahnya itu!" Aku mengumpat kesal sembari menyinggung rencana gila Raja yang memintaku bertunangan hanya dalam jangka waktu satu hari.
"No ... Nona!"
"Kenapa kau jadi suka mengumpat seperti ini?"
"Bagaimana jika ada keluarga kerajaan yang dengar!" Lola terdengar panik hingga menutup paksa mulutku yang terus menjelek jelekkan kebijakan Raja.
Setelah aku terlihat tenang, Lola segera melepas telapak tangannya.
"Geezz, kau ini terlalu kaku Lola!"
"Kan gak ada orang lain di kediaman kita!" Aku segera berjalan keluar mendahului semuanya menuju ke kereta yang sudah menunggu kedatangan kami sedari tadi.
Lola dan salah seorang pengawalku pun pergi mengikuti. Jika Lola ikut masuk ke dalam kereta, maka sang kesatria ikut duduk di samping sang kusir untuk mengawal kepergian kami.
"Huft, kenapa kita tidak kabur saja sih?"
"Pangeran keempat kan terkenal kejam terhadap orang orang di sekitarnya, dia juga memiliki kutukan yang akan menewaskan setiap wanita yang terikat dengannya," keluh Lola sembari sesekali melihat ke arahku.
Ucapan Lola mungkin cukup menghawatirkan, namun semua itu tidak lebih dari hanya sekedar rumor Yang disebarkan oleh pangeran ketiga!
Sedangkan dalang utama dibalik tindakan pangeran ke tiga ialah Uskup Agung yang diam diam mengendalikan tindakannya dengan memanfaatkan relik Red Safir Necklace!
Tindakan gereja demi mendapat kendali atas pangeran ke empat benar benar membuatku jengkel!
Semua mereka lakukan hanya karena takut akan wahyu tuhan yang berkata bahwa ratu akan melahirkan seorang pangeran yang bisa merubah kerajaan. Yang mana jika berada di tangan kerajaan maka gereja mungkin akan kehilangan pengaruhnya. Dan rencana gereja untuk melakukan perang suci, tak akan pernah terlaksana.
'Dasar Uskup Sialan, kenapa tak adayang berani menentang keputusan buruknya sih!'
'Jangan bilang kalau seluruh pendeta dan petinggi gereja juga dikalungkan artefak sialan itu!' pikirku sembari mengepal erat kedua tangan.
Meski tidak dijelaskan secara rinci, di dalam novel diceritakan bahwa ada orang yang mengetahui letak Artefak penangkal Red Safir Necklace di sekitar wilayah County. Dan orang itu merupakan seorang perancang busana yang dipilih Saintess saat menjelang pertunangannya dengan putra mahkota. Orang itu memberikan lokasi artefak itu secara gratis hanya karena Saintess menolongnya dari bisnis pakaian yang hampir bangkrut. Dan aku akan memanfaatkan informasi ini untuk merebut artefak Saintess yang berhasil membuat Uskup Agung menyerah untuk mengendalikan putra mahkota.
"Lihat saja, akan kukacaukan alur novel ini. Mwehehehehh!" gumamku seraya menyeringai jahat tanpa memedulikan keberadaan Lola.