Windi memang menangis, tapi setelah Bagas ceritakan percakapannya dengan Winda, perempuan itu jadi lega. Prasangka baiknya kepada Allah kembali menunjukkan wujudnya. Ia memang tak hamil lagi, tapi Allah bukakan rahasia hati putrinya, Winda menyayangi Windi sebagaimana anak itu menyayangi ayahnya. Itu saja sudah kabar yang sangat indah di telinga. Windi masih belum bisa mengakrabkan diri dengan putrinya, tapi celoteh Winda dan Bagas sepanjang perjalanan menuju kemah mereka menghangatkan hati. Udara malam kian dingin, pun gelapnya hanya diterangi bulan purnama dan bintang-bintang. Tenang hati dan pikiran Windi. Intinya Winda ikut dengan senang hati untuk diseret menginap tepi pantai seperti keinginannya. Akhirnya mereka sampai di sana. Sudah disediakan peralatan kemah sesuai spot pemesan

