Pendekatan dengan penuh kasih. Itu yang Bagas selalu titik beratkan pada pengasuhannya. Sekalipun Nyonya Wanda meninggalkan bekas pengasuhan ala penjajahan, Bagas tak mau Winda makin membatu dengan didikan begitu. Pun Windi setuju, pendapatnya sama dengan Bagas pula. Bagas mengetuk pintu kamar putrinya. “Sudah tidurkah?” tanyanya pelan. Bagas memasang telinga. Didengarnya suara langkah berlari sang putri mendekati pintu. Kemudian menguaklah, di sana gadis itu muncul dengan senyum polosnya, “Masuk, Abi.” Bagas melenggang, “Kurasa kamu tidak bisa tidur sampai selesai menentukan pilihanmu.” “Dan disetujui Abi,” tambahnya. “Akan gusar juga Winda kalau belum ada titik temu pilihan kita.” Bagas tersenyum mendengar pendapat putrinya. Ia pun duduk di tepi ranjang Winda. “Jadi, apa lagi piliha

