Tiga hari ditinggal Nadia, Aldo menjadi kacau. Kamarnya benar-benar dibuat berantakan olehnya. Hari ini Nadia akan pulang, entah apa yang akan dia lakukan pada istrinya itu. Emosinya belum juga turun mengingat kejadian saat menelpon ponsel Nadia kemarin.
Setelah tiga jam perjalanan Dieng ke Semarang akhirnya mobil tiba di halaman kantor. Nadia selalu memandangi ponselnya tidak ada WA dari Aldo. Padahal tadinya dia berharap dijemput suaminya.
Harapan tinggal harapan, mau tak mau dia memesan taksi saja untuk pulang. Dia masih berprasangka baik mungkin Aldo masih ada kerjaan di sekolah.
"Kamu dijemput Aldo?" Nadia menggeleng lemah saat ditanya Arda.
Ckck...,
"Ayo ikut mobilku!"
"Tidak usah, aku naik taksi saja."
Arda sudah menarik paksa Nadia dan memasukkan bawaannya ke bagasi. Mau tak mau Nadia pun menurut karena badannya sudah lelah selama berjalanan. Ingin rasanya mandi dan bergelung dengan bantal selimutnya.
"Ayo Pak antar Nadia dulu baru mengantar saya," pinta Arda yang diangguki sopir.
Di sisi lain ada sebuah mobil yang berisi sopir dan majikannya seorang perempuan cantik seusia Nadia mengikuti mobil itu.
Sampai di depan rumah Nadia, sopir segera mengantar Arda pulang. Nadia berjalan dengan menggeret koper kecilnya dengan tak semangat. Antara lelah fisik dan pikirannya yang kemana-mana mengingat sikap Aldo apakah sudah berubah atau belum. Baru saja menginjakkan kaki di teras, datanglah seorang perempuan cantik.
"Hai, kamu sekretaris Arda, kan?"
Nadia kaget dan segera membalik badannya bingung karena tak mengenali perempuan ini.
"Maaf, Mbak siapa, ya? Iya betul saya sekretaris Pak Arda."
Plakk,
Tanpa basa basi, perempuan bernama Melia yang tak lain istri Arda itu menampar pipi mulus Nadia menyisakan bekas merah di pipi kirinya.
"Maksudnya apa ini Mbak?"
Nadia masih menahan emosi untuk.tidak membalas tamparan perempuan di depannya. Dia berharap ini salah paham.
"Kamu tahu kan Arda sudah beristri, kenapa menggodanya, Hah," teriaknya.
Nadia ingin sekali membalas perkataannya tapi urung dilakukan karena malu dilihat tetangga jika bertengkar apalagi mereka di teras rumah.
Cklek,
Aldo yang mendengar ribut di luar rumah segera melihatnya.
"Ada apa ini?"
"Kamu suaminya, kan? Ajari istrimu supaya tidak menggoda suami orang."
"Maaf, saya tidak menggoda suami orang Mbak."
"Tidak, katamu. Lalu apa ini. Kamu bermesraan sama Arda."
Melia melemparkan foto-foto tepat di muka Nadia membuat Nadia tersentak kaget tak percaya. Bagaimana foto-foto ini didapat, foto saat dia dan Arda berada di Dieng jalan-jalan. Foto itu asli memperlihatkan keduanya seperti sepasang kekasih yang sedang bermesraan. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Mereka tidak hanya berdua, ada sopir di sampingnya. Di kawah si Kidang Nadia sempat terpeleset dan beruntung Arda membantunya.
'Benar-benar tidak bisa dipercaya, aku akan dapat masalah seperti ini. Gimana aku harus njelasin. Siapa juga yang mengambil foto-foto ini," batin Nadia.
"Kamu tidak bisa mengelak, kan? Tinggalkan Arda!"
Melia sudah kalab hingga menjambak rambut Nadia. Sebenarnya Nadia bisa saja melawan Melia karena dirinya sudah dilatih beladiri oleh Aldo. Tapi dia berharap Aldo mau menolongnya dengan melerai. Tak disangka Aldo justru masuk ke rumah meninggalkan mereka. Nadia hanya meringis sakit di kepalanya, karena tak tahan Nadia segera memberikan perlawanan hingga terlepas dari Melia.
"Jangan asal menuduh kalau kamu tidak tahu apa-apa. Pergi dari rumahku!" bentak Nadia yang dadanya sudah kembang kempis karena emosi. Sakit ditubuhnya tak sebanding dengan hatinya yang sakit melihat Aldo yang tak memperdulikannya. Melia pun pergi dari rumah Nadia dengan kesal.
'Hiks, hiks..., kenapa nasibku jadi begini. Pulang tak disambut hangat sama Mas Aldo justru perempuan kasar itu yang ke sini. Katanya ingin pisah dari Arda, kenapa justru takut kalau Arda direbut orang lain, hufh." Nadia menghela nafas menghapus air matanya. Dia yakin Aldo sekarang lagi emosi, kalau sudah seperti ini Nadia tidak berani mengganggu Aldo.
Saat masuk ke kamar, Nadia mendapati Aldo mengenakan jaketnya dan mengambil kunci motor. Wajahnya sudah tak ada keramahan dan kehangatan membuat Nadia bingung mau mulai bicara dari mana.
"Mas mau kemana? Mas tolong dengar penjelasanku dulu." Nadia sudah menahan lengan Aldo untuk tidak pergi. Dia bicara sambil menangis.
"Apa yang harus dijelaskan, tadi itu foto siapa? Kamu di sana menginap di mana saja? Apa perlu nginap di dua hotel yang berbeda. Hah?"
Deg,
Nadia tersentak, kenapa Aldo bisa tahu dirinya menginap di dua hotel.
"Kamu juga tidur sekamar dengan Arda, kan? Bagaimana aku bisa percaya lagi sama kamu!" ucap Aldo dengan nada tinggi tapi masih bisa menahan tangannya untuk tidak melakukan kekerasan fisik. Bagaimanapun Nadia adalah istrinya, dia tak ingin menyakitinya.
"Mas, aku..."
"Bahkan subuh aku telpon, justru Arda yang mengangkat." Aldo menghempaskan tangan Nadia lalu pergi meninggalkannya.
Nadia semakin terisak mendapati Aldo tahu semuanya. Dia merosotkan tubuhnya ke lantai. Dibiarkannya koper bawaannya tergeletak begitu saja.
Nadia duduk termenung di kamarnya memikirkan kepergian Aldo. Sampai tengah malam belum menampakkan suaminya pulang ke rumah. Dia semakin kalut takut jika terjadi apa-apa di jalan. Bagaimana kalau Aldo naik motor ngebut lalu nggak lihat jalan dan berakhir kecelakaan. Nadia merinding sendiri menyadari pikirannya yang kemana-mana. Dia berusaha tidak panik dan berprasangka baik semoga Aldo diberi keselamatan.
'Apa mungkin Mas Aldo menginap di rumah Bapak Ibu? Sebaiknya aku hubungi saja, eh tapi ini sudah malam. Mereka pasti kawatir kalau aku tanya tentang Mas Aldo. Aku tunggu besok pagi saja.' Nadia bermonolog dengan dirinya sendiri.
Dia tidak ingin masalah rumah tangganya diketahui orang tua mereka. Tidak sepantasnya mereka menceritakan pada kedua orang tuanya yang akan berakhir sedih memikirkan anaknya. Mereka sudah dewasa harus berusaha menyelesaikan sendiri dengan kepala dingin.
Nadia hanya bisa menangis memikirkan Aldo, dia tidak bisa tidur nyenyak sebelum suaminya pulang. Lalu Nadia memilih beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi mengambil air wudhu. Dia berdoa pada Tuhannya untuk keselamatan suaminya serta keberkahan pernikahannya.
"Assalamu'alaikum, Bu. Gimana kabar Bapak? Kakinya sudah membaik?" tanya Nadia via telepon kepada orang tua Aldo.
"Alhamdulillah sehat dan sudah semakin baik. Gimana kabar kamu dan Aldo?"
Deg,
'Kalau ibu tanya tentang Mas Aldo artinya dia tidak menginap disana.'
Nadia jadi kawatir dimana Aldo berada sampai pagi tidak pulang.
"Nad, kamu masih disana?"
"Ah iya Bu, kami baik dan sehat." Nadia berusaha menormalkan suaranya.
"Main sini sudah lama kan kamu nggak kemari?"
"Insya Allah, Bu."
Nadia menutup panggilannya seraya mengelus dadanya. Dia bersyukur suaminya tidak mendadak pulang ke rumah bapak ibunya. Namun, hatinya masih dilanda kekalutan.
'Lalu kemana Mas Aldo?'