BDM 6

1054 Words
"Sebenarnya, aku menikah dengan Mas Aldo, Ar." "Apa..., Maksudmu Aldo teman kita?" Nadia mengangguk membuat Arda kaget bukan main. "Ah, aku sudah mengaku kalah. Berbahagialah dengan Aldo. Aku tidak sebanding dengannya." "Ckck, kita bertiga tetap bisa berteman Ar." "Iya, syukurlah. Lalu Aldo sudah tahu kalau aku bosmu?" Nadia mengangguk tanpa menjawab pertanyaan itu. Pagi hari di salah satu ruang, Arda dan kliennya sedang membahas project perusahaannya. Tempat itu menyuguhkan pemandangan yang indah dari balik kaca jendela. Di luar sana bisa dipastikan hembusan udara dingin yang menyengat kulit karena suhu di Dieng yang relatif dingin. Dia berniat dalam hati jalan-jalan menikmati keindahan Dieng. "Pak Arda ingin jalan-jalan sehabis ini?" tanya Pak Herman yang mengetahui isi hatinya. "Ah, Pak Herman bisa baca apa yang saya pikirkan." "Tak masalah Pak Arda, sangat rugi kalau datang kesini tidak menikmati keindahan alam Dieng. Sekretarisnya sekalian diajak itu butuh refreshing biar nggak cepat tua." Pak Herman sudah tertawa bercanda bersama Arda membuat Nadia yang duduk agak berjarak heran melihat mereka sedang membicarakan apa. "Nanti biar diantar sopir saya." "Terima kasih, Pak Herman." Arda segera berkemas dan menghampiri Nadia untuk bersiap jalan-jalan. "Ayo, kita jalan-jalan mumpung di sini!" "Haah, berdua Pak." Jantung Nadia sudah berdebar was-was. Ingin sekali mencari alasan untuk menolak. "Tentu saja tidak, nanti ada setan yang jadi pihak ketiga." "Ishh, serius ini Pak." "Iya serius, ayo sana siap-siap. Jangan lupa pakai baju tebal." Sopir sudah bersiap di mobil menanti Arda dan Nadia. Sementara karyawan lain memilih jalan-jalan sendiri karena sudah ada janji dengan keluarganya masing-masing. "Kita kemana aja nanti, Pak?" tanya Arda pada Pak sopir. Sementara Nadia mengedarkan pandangan keluar jendela mengagumi keindahan tempat yang baru pertama dia kunjungi. Terlintas dibenakknya ingin mengunjungi lagi tempat ini bersama Aldo. "Kita nanti bisa mengunjungi candi Arjuna, kawah si kidang dan telaga warna." "Wah pasti sangat indah ya, Pak," seru Nadia. "Tentu, apalagi kalau yang mengunjungi adalah pasangan seperti kalian." Uhuk...uhuk, Nadia terbatuk, tak enak hati mendengar ucapan Pak Sopir. Seketika dia ingat suaminya di rumah, WA nya semalam hanya di balas, ya hati-hati. Tak ada chat romantis membuat hatinya trenyuh, tapi tetap berusaha ditutupinya supaya Arda tau dia baik-baik saja. Beberapa jam Nadia seperti guide bagi Arda yang menikmati perjalanan mereka namun tidak dengan Nadia yang melihat cuaca sebentar lagi akan diguyur hujan deras. Dia kawatir pak sopir belum kembali setelah meminta ijin pulang lebih dulu ada keluarganya yang sakit dan berjanji menjemputnya setelah selesai jalan-jalan. "Sepertinya mau hujan deras, Ar. Sopirnya kenapa belum datang." Nadia mulai menunjukkan wajah kawatir. "Kamu nggak usah panik, Nad." Tak disangka yang ditakutkan Nadia terjadi. Hujan deras disertai petir dan berkabut menjadi penghalang sopir yang ingin menjemputnya. Kondisi hari yang sudah petang memaksa keduanya mencari penginapan terdekat. Akhirnya mereka mendapat hostel namun hanya tersisa satu kamar dengan single bed. "Apa, cuma ada satu kamar?" tanya Arda pada petugas. "Iya, Pak. Mohon maaf hari ini ramai pengunjung." "Kalau homestay lain dekat sini ada nggak?" "Agak lumayan, tapi sepertinya penuh juga karena yang menginap barusan tidak dapat tempat disekitar sini. "Hmm, ada extra bed nggak Pak?" tanya Nadia mencoba mengurangi kepanikannya. Akhirnya Arda dan Nadia menginap di kamar yang sama. Beruntung ada extra bed yang menyelamatkan mereka. 'Hufh, nasib jadi sekretaris yang patuh pada bos. Kuatkan imanku ya Allah, jantung Nadia tak berhenti berdebar mengingat mereka akan tidur sekamar. Mas Aldo, kamu sedang apa?' Nadia sungguh merindukan suaminya biar tidak larut dalam suasana canggung dengan Arda. Nadia dan Arda menikmati malam yang dingin dengan secangkir minuman hangat. Tampak Arda sering melamun setelah menerima panggilan di ponselnya beberapa menit yang lalu. Nadia dan Arda sedang menatap indahnya pemandangan di puncak dataran tinggi Dieng dari sebuah balkon. Dinginnya udara tidak menyurutkan keduanya menikmati alam ciptaanNya. "Sebenarnya ada masalah apa, Ar?" Nadia menanti jawaban Arda namun tak ada balasan. Justru laki-laki itu mendekat dan sepasang lengan kekar melingkar di pinggang Nadia. Bahkan dagunya iya sandarkan di pundak perempuan itu. "Lepasin, Ar. Tolong jangan bikin ini makin rumit!" "Sebentar saja, Nad. Aku butuh kekuatan." "Kalau butuh kekuatan bukan padaku kamu meminta. Tapi pada Tuhan, Ar." Arda tidak bergeming. Dia semakin mengeratkan pelukannya. Seketika Nadia merasa bersalah pada Aldo suaminya. Nadia merasa menghianati suaminya itu. Suami yang selalu sabar mendampinginya. Apalagi Arda juga sudah punya istri, dia tidak mau jadi pelakor. Nadia menghela nafas berharap pusing di kepalanya berkurang. "Sungguh ini benar-benar gila." Arda membalik tubuh Nadia sekarang dalam posisi berhadapan. Lalu dia dekatkan wajahnya hingga hembusan napasnya menyapu wajah Nadia yang fokus menatap sepasang mata elang Arda. Pandangan Arda mengalih pada bibir tipis Nadia yang begitu memikatnya, bolehkan kali ini dia menghianati teman lamanya yang sudah menjadi suami Nadia. Aarghhh, pertahanan Nadia seakan runtuh hanya dengan ditatap manik mata Arda. 'Haah, haah, Astaghfirullah. Untung hanya mimpi. Nadia segera ke kamar mandi membasuh mukanya dan mengambil air wudhu, karena 30 menit lagi azan subuh. Dia masih punya kesempatan bermunajat pada-Nya, mendoakan suaminya baik-baik saja di rumah dan segera luluh hatinya saat dia kembali. Malam itu Nadia hanya mendengarkan cerita Arda sambil menguap karena kantuk menderanya. Nadia pun terlelap di salah satu bed sementara Arda yang masih memainkan game di ponselnya menoleh ke arah Nadia ternyata sudah tertidur pulas. Dia menggelengkan kepalanya lalu mengambil selimut untuk menutupi tubuh Nadia. Dalam tidurnya Nadia memimpikan Arda, mungkin karena efek empatinya pada Arda dan juga masalahnya dengan Aldo yang belum kelar. Nadia merasakan sentuhan Arda bukanlah mimpi saat bangun dari tidurnya. 'Apa Arda benar-benar menyentuhku semalam? Semoga saja tidak' Nadia jadi merinding sendiri. Nadia memutuskan ke kamar mandi mengambil air wudhu. Drrt,drrt, Ponsel di nakas berbunyi saat Nadia masih di kamar mandi. Nada deringnya membangunkan Arda yang terlelap dalam tidurnya. Dia segera meraih ponsel itu dan mengangkatnya. "Bangun Nad, sebentar lagi salat subuh." "Halo, ini siapa?" Deg, orang yang diseberang kaget tak menyangka yang mengangkat ponsel istrinya suara laki-laki yang tak lain suara Arda. "Ini ponsel Nadia, kan?" "A...apa?" Terdengar suara khas seseorang yang baru bangun dari tidur. "Halo...halo?" Tut.tut... 'Haah, Aldo? Wah gawat ini. Bisa perang dunia.' Arda segera mengucek matanya dan mengecek ternyata itu ponsel Nadia dan barusan yang menelpon adalah Aldo suaminya. Dia mengedarkan pandangan ternyata Nadia berada di kamar mandi. Di seberang, Aldo seketika menjatuhkan ponselnya mengetahui Nadia tidur sekamar dengan Arda. Pikirannya melayang kemana-mana. Amarahnya muncul dan ingin segera diluapkan. Dia mengambil ponselnya kembali dan membantingnya ke lantai. Prang, 'Kenapa kamu menghilangkan kepercayaanku, Nad. Padahal aku sudah berusaha untuk mencintaimu.'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD