Drrtt,
"Halo..."
....
"Ckckk." Aldo kaget tiba-tiba orang di seberang mematikan panggilan yang dia tau dari Arda.
"Ada apa, Mas?" tanya Nadia yang kawatir ponselnya masih dipegang Aldo.
"Nih, telpon dari Bosmu tapi dimatiin." Aldo menyerahkan ponsel Nadia lalu menghempaskan badannya ke ranjang. Nadia yang melihat riwayat panggilan lalu mengirim pesan ke Arda.
"Ada perlu apa, Pak?"
"Nggak usah formal Yaya. Kita tidak sedang bekerja. Tadi aku telpon yang angkat suamimu?"
"Iya. Kenapa Bapak matikan?"
"Hmm, kepencet kayaknya tadi." Arda hanya beralasan karena tidak mau bicara dengan suami Nadia.
"Sudah dapat ijin dari suamimu?"
"Alhamdulillah sudah."
"Baiklah, tolong seminggu ini disiapkan semuanya ya."
Nadia meletakkan ponselnya setelah panggilan Arda selesai. Dia melihat Aldo masih bersikap dingin padanya. Hatinya mencelos lalu berguman sendiri dalam benaknya,
'beginikah rasanya berusaha mencintai seseorang. Di saat pasangan kita berhenti berjuang bersama, kenapa hati ini seperti tak bersemangat lagi.'
Nadia menarik nafas dalam sembari mengelus dadanya. Setitik cairan bening membasahi pipinya namun segera dihapusnya. Dia tak ingin Aldo tahu bahwa sebentar lagi tangisnya pecah kalau dibiarkan. Nadia bertekad harus bisa mengembalikan keceriaan suaminya lagi sebelum berangkat ke Dieng.
"Mas Aldo..."
"Tidurlah, kamu pasti capek kerja seharian."
Nadia berbaring di samping Aldo, dia melingkarkan tangannya di pinggang dengan posisi Aldo yang membelakanginya.
Biasanya dalam posisi begini Aldo akan berbalik menatapnya dan membawanya dalam pelukan. Tetapi kali ini Aldo tak berubah posisinya. Nadia tahu kalau Aldo agak sulit untuk terbuka, setiap ditanya jika ada masalah selalu bilang nggak ada apa-apa. Akhirnya Nadia tetap memutuskan mempertahankan posisi itu sampai terbawa ke alam mimpi karena lelah bekerja seharian.
-----
Seminggu berlalu tidak ada perubahan sikap Aldo masih dingin terhadap Nadia. Entah apalagi yang harus Nadia lakukan, dia melayani suaminya seperti biasa menyiapkan makanan dan memenuhi keperluannya. Nadia sedikit kecewa disaat akan ke Dieng justru meninggalkan suaminya yang masih kekeh dengan sikap dinginnya. Namun Nadia tetap menunjukkan rasa senangnya Aldo mau mengantar ke kantor saat akan berangkat ke Dieng menggunakan mobil kantor.
"Mas, aku pamit dulu ya. Mas bisa ke rumah bapak ibu dulu sekalian menjenguk mereka gimana kondisi kaki beliau," pinta Nadia.
"Iya hati-hati di jalan. Ingat pesanku." Nadia mengangguk seraya tersenyum memdapati Aldo masih mengingatkannya tentang peringatan itu.
Perjalanan Semarang Dieng dilalui dengan lancar. Rombongan pun tiba di penginapan milik Pak Herman sore hari. Nadia sudah menyiapkan baju tebal untuk menghalau dingin. Tak lupa obat-obatan yang selalu dia bawa saat bepergian pun disiapkannya.
"Pak Arda, tolong selama di sini panggil saya Nadia jangan Yaya," ucap Nadia lirih pada bosnya karena tidak ingin suasana canggung antara dirinya dan Arda membawa pengaruh buruk.
"Tergantung," jawab Arda dengan bibir tersungging.
'Gawat, dalam kondisi begini kenapa godaan datang menyerang. Wajahnya yang tempan mengalihkan duniaku. Astaghfirullah, seandainya Mas Aldo disini pasti langsung aku peluk biar nggak tergoda ini orang.'
"Tergantung apa Pak?" tanya Nadia merinding mendengar jawaban yang akan dilontarkan Arda.
"Tergantung kamu bisa membuatku senang atau tidak."
"Haah, dasar bos sudah gila apa."
"Kamu mikirnya apa sih, Nad. Terlalu serius tau?" Telunjuk Arda sudah menoyor dahi Nadia yang terlalu serius bicara dengan bosnya.
"Isshh, nggak cuma Mas Aldo yang berubah tapi Bos juga nih. Pusing aku jadinya." ucap Nadia kesal lalu masuk ke kamarnya menata pakaian dan setelahnya merebahkan dirinya.
Nadia mengambil ponselnya dan segra mendial nomer suaminya. Dia ingin memberitau kalau sudah sampai penginapan. Tapi hanya suara nada panggilan yang terdengar. Ah mungkin Mas Aldo lagi mandi atau malah ketiduran pikirnya. Lalu Nadia memilih mengirimkan pesan melalui WA. Tak lupa dirinya foto selfi di kamar dan mengirimkan ke Aldo. Nadia berharap kepergiannya tiga hari bisa mengembalikan sikap hangat suaminya.
Ting,
Notifikasi muncul, Nadia senang dan bergegas membuka. Ternyata bukan dari Aldo melainkan dari Arda yang memintanya ke kamarnya untuk diajak makan malam bareng.
'Bos ini mau ngerjain aku, jalan menuju ruang makan kan melewati kamarku kenapa aku yang disuruh ke kamarnya. Hufh.'
Mau tak mau Nadia segera menuju kamar Arda.
Tok-tok.
Tak ada jawaban saat Nadia memanggil bosnya. Lalu dia mencoba memutar knop pintu tidak terkunci.
'Sopan nggak ya, aku langsung masuk kamar Arda. Takutnya Bos kenapa-kenapa karena nggak menjawab.'
"Astaga, Arda..." Nadia kaget bukan main melihat situasi di kamar Arda.
"Ar, kamu kenapa?" Nadia kaget mendapati Arda yang sedang menggigil dan nafasnya sepertinya sesak.
'Bagaimana ini, aku harus menolongnya.'
"Tolong ambilkan kotak itu!"
Nadia segera menuju kotak P3K yang ditunjuk Arda lalu mencarikan obat yang diperlukannya. Setelah memghirupnya, Arda merasa lebih baik. Nadia melihat sebotol minyak kayu putih, lalu membalurkannya di punggung dan bagian d**a. Posisi Arda masih sandaran di ranjang supaya bisa bernafas lega. Nadia melakukannya tanpa sadar, dia menganggap seperti sedang memberi pertolongan saat Aldo sakit. Saat menyadari yang ditolong kini adalah Arda, dia langsung tertegun. Jantungnya berdebar manakala Arda menatapnya jauh ke dalam manik matanya. Arda memegang tangan Nadia yang masih mengusap dadanya.
"Stop, Nad. Jangan teruskan."
Nadia mulai gugup karena ditatap intens oleh Arda. Dia menoleh ke samping membuang pandangannya dan segera menepiskan tangannya yang dipegang Arda. Namun justru Arda semakin erat memegangnya dan membawanya dalam jarak lebih dekat.
"Apa kamu tidak gugup dalam posisi seperti ini?" tanya Arda dengan suara khasnya yang mampu melumpuhkan pertahanan Nadia.
"Ah, tidak. Biasa aja." Suara Nadia sudah ketahuan kalau gugup namun dia tidak mau mengakuinya.
"Aku hanya ingin menolongmu, Ar. Tolong lepasin tanganku."
"Tidak, sebelum kamu jawab jujur. Apakah kamu masih punya perasaan padaku?"
Deg,
Tubuh Nadia kaku, seketika lidahnya pun kelu. Dia bingung harus menjawab apa. Kalau saja ini seperti acara Uya Kuya di TV, sungguh dia pasti ketahuan karena masih memiliki perasaan pada Arda.
'Apa ini termasuk kategori selingkuh? Aku selingkuh dari Mas Aldo. Oh tidaaak, aku tidak mau pernikahanku hancur.'
"Diammu berarti iya." Arda memajukan wajahnya hendak mencium Nadia yang sudah tidak terjaga kewarasannya karena melamun."
Tok.tok.
Beruntung Nadia terbangun dari lamunannya dan segera mendorong d**a Arda hingga wajah mereka menjauh. Tersirat seeikit kecewa di wajah Arda karena aksinya digagalkan sang pengetuk pintu. Nadia menghela nafas menetralkan debaran jantungnya.
'Astaghfirullah, hampir saja jatuh ke dalam pesonanya. Ingat pesan Aldo, Nad.'
Cklekk,
"Maaf, bukannya ini kamar Pak Arda?" tanya Pak Herman yang bingung mendapati Nadia membuka pintu kamar.
"Eh iya Pak, tadi Pak Arda butuh bantuan sepertinya kurang sehat. Silakan masuk Pak!"
"Astaga, Pak Arda kenapa?"
"Tidak apa-apa Pak Herman, hanya tubuh saya kaget dengan udara dingin."
"Kalau begitu, saya minta petugas mengantar makan malam kesini saja."
"Terima kasih Pak Herman."
Nadia merasa tidak enak kalau Pak Herman berpikiran macam-macam tentangnya.
"Kamu kenapa muram, Nad?"
"Aku nggak nyaman berada di sini. Pak Herman nanti berpikiran macam-macam," sesal Nadia.
"Jangan pergi, temani aku makan."
"Ckkckk, dasar pemaksa."
Arda hanya tersenyum melihat kekesalan Nadia. Mereka makan malam sambil tak terasa mengobrol masalah kehidupannya. Arda sedang ada masalah dengan istrinya. Pernikahannya dulu memang perjodohan antara kedua orang tua Arda dan Melia istrinya. Arda berusaha membangun cinta diantara keduanya namun Melia masih belum mau menerima perjodohan itu karena berharap bisa menikah dengan orang yang dicintainya.
Arda berniat mempertahankan rumah tangganya namun kini dia merasa lelah juga, justru dia merasa beruntung bisa ketemu lagi dengan Nadia. Perempuan yang ada di masa lalunya, selalu diejek teman-teman karena lugu dan polos. Perempuan yang menaruh perhatian padanya tapi dia sendiri tak mampu membalas perasaannya karena takut Nadia bertambah kena bullyan temannya. Arda termasuk siswa most wanted di sekolahnya sehingga banyak siswi-siswi yang mendekatinya.
"Apa kamu bahagia dengan suamimu, Nad?"
"Hmm, tentu saja."
"Kamu sudah tidak ada lagi perasaan padaku?" Arda langsung menodong pertanyaan yang membuat jantung Nadia berdegup kembali.
"Aku merasa tidak menyesal menikah dengannya. Aku akan berusaha menumbuhkan cinta diantara kami karena Allah. Kamu juga bisa seperti itu, Ar."
"Aku tidak yakin Melia tampaknya sudah menyerah. Aku justru bangga padamu, Nad. Aku menyesal dulu tidak berani mendekatimu."
Deg, ada rasa yang menghangat di hati Nadia mengetahui kalau Arda juga punya perasaan padanya dulu.
"Sudahlah, penyesalan memang datangnya di akhir. Aku tidak mau kamu menyesal mengakhiri hubunganmu dengan Melia, Ar."
"Apa tidak ada lagi kesempatan untukku berada disampingmu?" tanya Arda penuh harap pada Nadia.
"Jelas tidak Ar. Kalaupun aku melakukannya pasti akan ada hati yang terluka. Baik itu Melia atau juga Mas..., Hmm suamiku."
'Biarlah aku menyimpan rasa ini disudut hatiku. Aku tidak ingin berbuat dosa dengan menyakiti orang-orang yang menyayangiku.'
"Aku yakin suamimu sangat beruntung menikah denganmu, Nad."
"Sebenarnya, aku menikah dengan Mas Aldo, Ar."
"Apa..." Maksudmu Aldo teman kita?"
Nadia mengangguk membuat Arda terkesiap.