"Kau tunangan bayaran Luna?" Setelah berhasil memisahkan diri dari tatapan tajam dan pangkuan dosen barunya itu, Jihan bertanya tanpa ekspresi. Terlalu emosi jika seseorang membahas nama Luna meskipun lelaki itu tidak langsung menyebutkan nama artis tersebut. Namun, Jihan bisa menebak dengan jelas maksud larangan tadi.
"Jangan bilang kau bodyguardnya menyamar jadi dosen? Ckck, suka sekali dia menghamburkan uang ya!" cerca Jihan lebih lanjut ketika tidak ada tanggapan dari sang lawan.
"Jika aku kembali mengganggunya, apa yang akan kau lakukan padaku?" tantang Jihan mendekatkan wajah mereka, memindai wajah lelaki itu seketika tertera nama dan identitas lainnya.
Sepertinya pihak IT baru saja mengupdate data.
"Pak Nohan, berapa bayarannya, aku bisa menaikkan gajimu sepuluh kali lipat?" Angkuh dan sombong begitu nyata tersirat di wajah Jihan. Selamanya, dia tidak ingin kalah dengan Luna.
Perempuan bermuka topeng. Hawa permusuhan dua perempuan cantik itu sejak SMP sudah terlihat begitu terang.
"Jaga ucapanmu, anak manja. Simpan uang ayahmu. Luna jauh berbeda tingkat denganmu." Nohan segera bangkit lalu menekan smartwheel kemudian segera pergi dari hadapan Jihan sebelum perempuan itu kembali emosi karena ucapannya tadi pasti sangat menohok.
"Sial! Aku tidak takut padamu!" Teriakannya sia-sia, Nohan telah menghilang dari pandangan menuju lantai empat.
"Kenapa sih kamu suka marah-marah sendiri, simpan energimu Jihan." Nasehat yang sudah puluhan kali masuk ke telinga Jihan dan dibiarkan keluar dari telinga lain.
Suara kursi tertarik menandakan ada penghuni yang baru saja masuk kantin.
"Zaky, jangan membuatmu dirimu jadi sasak untuk pukulanku ini mengerti?" Jihan ikut duduk di samping sahabatnya itu.
"Kau masih begitu mengidolakan artis cilikmu itu, kan? Sana kau ungkapkan saja cinta padanya sebelum dia mengumumkan status barunya dengan dosen baru itu."
Zaky menautkan alis ketika mendengar ocehan Jihan.
"Kau selalu ngaur jika bicara, Jihan. Aku sudah memaafkannya karena pernah menolakku. Kenapa kau sampai sekarang masih membencinya? Apa karena kau jatuh hati padaku, dan kasihan melihatku ditolak? Wah, aku sudah menduganya sejak dulu mengapa kau begitu terluka dan selalu ada di sampingku. Ternyata, karena kau mencintaiku Jihan?"
Jihan tersedak berkali-kali mendengar omongan Zaky semaraton itu.
"Jihan, pelan-pelan minumnya. Aku tidak ingin kau sekarat sebelum perasaanmu terbalaskan." Zaky semakin menggoda Jihan sehingga perempuan itu meloloskan cubitan di lengan lelaki kekar tersebut.
"Sialan kau, Zaky! Jika ada yang mendengarnya dan isu merebak di kampus nanti, awas kau!"
Zaky terbahak-bahak.
"Makanya kau harus bisa berdamai dengan masa lalu. Luna hanya cinta monyetku. Sekarang, aku tidak lagi menaruh apa-apa padanya. Jadi ..."
"Berhenti bicara panjang lebar, semakin menerangkan dirimu sedang tidak baik-baik saja, Zaky. Diamlah!"
Zaky menurut, diam-diam memperhatikan Jihan. Sosok sahabat yang selalu ada di saat dirinya sedang susah. Jihan tidak pernah tahu bahwa memang perasaannya telah lama berubah. Seperti katanya tadi, cinta pada Luna hanya sebatas cinta monyet.
"Jangan ada yang jatuh cinta di antara kita. Aku tidak ingin persahabatan kita putus hanya karena perasaan itu."
Pesan Jihan yang selalu membuatnya khawatir jika suatu saat Jihan mengetahui perasaan Zaky kepadanya lebih dari seseorang sahabat menyayangi sahabat. Terbukti, hubungan ketiganya hancur karena Zaky yang melanggar. Dan Zaky tidak ingin semakin merenggangkan jarak dengan Jihan setelah kesalahannya dulu.
Ya, Zaky benar-benar telah jatuh cinta pada Jihan sehingga menutup hati untuk perempuan lain. Namun, Jihan berpikir dirinya masih belum bisa move on pada Luna.
Dulu, Jihan, Zaky dan Luna adalah tiga sahabat yang selalu bepergian sekolah dan pulang bersama. Semua berubah ketika penolakan Luna terhadap pengakuan Zaky yang jatuh cinta padanya.
Luna memilih fokus pada impiannya. Meminta mereka agar tidak mengganggunya untuk ikut kompetisi modeling. Luna memilih untuk keluar dari persahabatan dan mengejar cita-citanya. Terlalu sibuk dengan latihan dan ikut casting. Jihan tidak menaruh dendam, hanya membenci keputusan sahabatnya itu hingga benih-benih permusuhan tampak nyata di antara mereka.
***
"Awas, Pak! Jangan menghalangi jalanku! Aku masih ingat ucapanmu tadi, tapi aku tidak punya waktu untuk berurusan denganmu!" Jihan begitu kesal karena penahanan Nohan di ruangnya.
Jihan hanya berniat bertemu Miss Azalea setelah pemberitahuan di Mading class. Bukan untuk berperang kata dengan Mr.Nohan.
"Kenapa? Kau jadi lemas begini? Kau sudah mengundurkan diri untuk mengganggu Luna?"
"Di mana Miss Aza? Bukankah ini ruangannya? Kenapa Bapak ke sini?" Alih-alih menjawab, Jihan malah melontarkan banyak pertanyaan.
Demi apa pun, Jihan bukannya takut dengan ancaman Nohan. Dia hanya tidak ingin menyeret orang lain. Jihan bukan pembully Luna. Setiap perbuatannya selalu punya alasan. Luna saja yang selalu mencari masalah dengannya.
Luna seolah ingin membuktikan betapa hebatnya dia dengan banyak penghargaan yang didapatkan dari membintangi drama dan sinetron. Jihan yakin Luna lah yang sudah mengiriminya pesan di Roomchat dengan tulisan tangan menggunakan lipstik bermerek itu.
Upik abu berprestasi
Disertai piagam Minggu lalu.
Jihan tidak pernah iri dengan prestasi Luna dalam bidang apa pun. Dia hanya membenci kesombongan Luna terlalu angkuh.
Anak asisten rumah tangganya dulu itu begitu berubah sekarang. Dulu, biaya sekolah dasar Luna orang tua Jihan yang membayarnya hingga lulus. Sekarang ketika Luna sedang di puncak, artis terkenal itu begitu berbeda. Meski kekayaan Luna masih jauh dengan angka yang dimiliki oleh ayah Jihan, tetapi untuk usia seumuran Luna memanglah pantas diacungi jempol.
Sekali lagi, Jihan tidak cemburu dan iri terhadap penghasilan Luna sekarang.
Jihan hanya muak dengan sikap Luna.
"Kau tidak bisa membaca Nona pemalas? Biar aku ajarkan untuk membaca papan nama di pintu masuk.
"Baiklah, aku keluar karena salah masuk ruang." Jihan berbalik, beranjak menarik ganggang pintu.
"Kau tidak meminta maaf?"
"Apa aku membuat kesalahan besar hanya karena salah masuk ruang?" Niat membuka pintu diurungkan. Jihan kembali membalas tatapan mata lelaki bermanik biru itu.
"Katakan aku melanggar pasal berapa?"
Nohan tersenyum sinis.
"Kau menerobos masuk ruang, jika aku sedang istirahat itu artinya kau mengganggu waktuku apalagi jika tadi aku membuka bajuku, bukankah itu termasuk tidak sopan santun?"
Jihan memandang datar Nohan. Merasa tidak masuk akal dengan setiap ucapan dosen barunya.
"Kau bukan tipikalku, jangan bermimpi aku mencari kesempatan. Lanjutkan mimpimu, sepertinya kau suka sekali mendengar suaraku. Sengaja menahanku di sini?"
"Karena kau sudah di sini, sebagai permintaan maafmu bawakan dokumenku ke ruanganmu!" Perintah Nohan sebelum melewati Jihan.
"Aku tidak akan membiarkanmu masuk kelasku jika terlambat sedetik pun!"
Jihan memeriksa jadwal kelas selanjutnya dan terkejut ketika membaca dosen pengajar.
"Aish, tunggu Pak!" Jihan segera mengambil berkas di atas meja kemudian mengejar Pak Nohan. Dia sampai lupa mengaktifkan smartwheel.
"Kau begitu bodoh atau pelupa? Aktifkan smartwheelmu!"
Jihan serasa kikuk. "Bapak saja tidak mengaktifkannya?"
"Dan kau semakin tertinggal jauh, nona lemot!"
"Berhentilah memanggilku banyak nama, Pak Nohan!" gerutu Jihan bagaikan angin berlalu bagi Nohan yang telah menaiki lantai atas.