"Jihan! Apa yang kau lakukan?" Teriakan menggelegar di ruang kelas Managemen tatkala salah satu mahasiswi semester lima itu tiba-tiba berjalan ke meja paling depan dan menekan tombol di atasnya sehingga menghamburkan seluruh isi meja milik perempuan cantik. Buku-buku dan alat kosmetik berceceran di lantai.
"Kau bisa jelaskan padaku sekarang atau kita ke ruang rektor?" Miss. Azalea murka terhadap sikap mahasiswinya itu, jam belajar baru memasuki lima belas menit pertama, tetapi sudah ada kekacauan saja di dalam kelas. Dan dilakukan oleh Jihan, perempuan cantik yang terkenal sadis jika ada yang mengganggunya.
Dia bukan pembully yang merendahkan setiap orang di kampus ini. Hanya saja namanya cukup terkenal se-universitas karena anak pejabat tinggi negara yang ditakuti oleh banyak orang. Dia tidak segan memberi pelajaran bagi siapa saja yang mengusik ketentraman dan kedamaiannya selama di kampus.
"Tanyakan saja apa yang dia lakukan!" Jihan membalas tatapan tajam dosen wanita itu, tidak kalah gentar dengan ancaman sang dosen yang akan memanggil ayahnya. Meski Nizar sangat disegani oleh para dosen di kampus ini karena kemurahan hatinya dalam donatur, tetapi Nizar sendiri yang memerintahkan agar memanggilnya jika Jihan sang putri tunggalnya itu berbuat ulah.
"Luna, apa kau bisa katakan sesuatu?" Kentara sekali perlakuan berbeda yang didapatkan di antara dua mahasiswi itu. Ya, hanya karena Luna selalu menjadi nomor satu dalam kelas sejak semester pertama hingga sekarang. Sedangkan, nilai Jihan jauh berbeda.
"Maaf, Miss sudah membuat keributan di kelas dan menyita jam pelajaran Miss," ujar Luna lembut semakin membuat darah mendidih dalam diri Jihan.
Sandiwara, cuih!
"Dia hanya salah paham saja, Miss. Aku memakai lipstik yang sama dengannya," papar Luna mengundang bisik-bisik teman sekelas.
"Hanya karena itu?" Miss Azalea menautkan alis, merasa sangat geram dengan Jihan yang mempermasalahkan masalah sepele.
"Ckck, sungguh aktingmu begitu hebat, Luna. Kau akan bermain drama baru, kan? Sepertinya kali ini kau akan dapat award." Jihan menepuk tangannya seolah memberi selamat.
"Ya, Miss, aku sangat membencinya karena memakai lipstik yang sama. Bahkan ..." Jihan sengaja menggantungkan ucapannya sehingga para teman menatapnya untuk menunggu kelanjutan.
"Dia memakai tisu toilet yang sama denganku!" ejek Jihan disertai tersenyum menyeringai seraya menginjak lipstik bermerk yang berharga puluhan juta itu hingga patah.
Luna masih saja memasang wajah tenang, tidak ikut terpengaruhi oleh pancingan Jihan. Biarlah lipstiknya rusak, toh dia bisa membelinya lagi hanya dengan sekali bermain iklan. Asal, jangan nama baiknya jatuh dan hancur akibat dikalahkan oleh Jihan.
"Mau ke mana kau, Jihan?"
Jihan tidak menjawab pertanyaan dari Miss. Azalea, dia terus melangkah keluar dari kelas. Mencari tempat untuk menenangkan pikirannya. Tanpa seorang pun yang bisa mengganggunya, sekalipun dua sahabatnya yang tampak menikmati tontonan di kelas tadi.
***
Universitas Modern ini begitu lengkap fasilitasnya. Bahkan mereka tidak perlu ke mall untuk membeli baju baru. Hanya perlu ke lantai dua, para mahasiswi bisa bebas membeli pakaian di sana. Selain store pakaian, di lantai sama juga menjual tas, sepatu, perlengkapan kuliah dan lainnya yang diperlukan oleh para mahasiswa-mahasiswi. Sedangkan dilantai satu tersedia tempat olahraga, kolam berenang dan ruang latihan bernyanyi serta sauna.
Lantai tiga tak kalah bagus, mahasiswa-mahasiswi bisa menikmati hidangan terenak yang disajikan oleh para koki terkenal. Bahkan di lantai ini juga tersedia kamar menginap untuk para mahasiswa-mahasiswi VVIP.
Untuk ruang belajar dan ruang para dosen ada di lantai empat dan lima. Setiap tahun hanya diterima dua ratus pendaftar saja. Sedangkan biaya masuknya mencapai setengah milyar, belum lagi biaya SPP selama satu semester berkisaran 990 juta hingga 1,5 milyar. Memang harga yang cukup fantastis, tetapi mereka juga disuguhi banyak fasilitas yang bisa dinikmati kapan saja di luar jam kuliah.
Untuk setiap mahasiswa-mahasiswi di sini mereka diberikan satu smartwheel yang bisa diatur sedemikian rupa, sesuai keinginan pemakainya yang akan membawa mereka mengelilingi gedung bertingkat ini. Bahkan bisa berubah menjadi motor mini, sepeda elektrik, kursi roda dan pesawat terbang agar memudahkan mereka cepat sampai tujuan. Tidak ada lift maupun eskalator.
Alat pemudah jalan tersebut hanya perlu diisi daya oleh sekali scanner, tanpa harus charger atau baterai.
Jihan memilih duduk di bangku kantin, mengisi perutnya karena sudah keroncongan sejak tadi. Dia berubah pikiran, hendak turun ke lantai empat, tetapi baru melewati lantai tiga saja sudah tidak tahan mencium aroma makanan.
Setelah menekan hologram di atas meja dan memilih menu makanannya, dia hanya perlu menunggu tiga menit saja. Kemudian Jihan menekan blue smart untuk membawa pesanannya ke meja tempat dia menunggu sajian.
Jihan terus menguyah makanannya, berusaha tidak terintimidasi oleh tatapan elang nan dingin di meja seberang, hanya berselang satu meja dengannya. Sejak dia memasuki kantin, lelaki putih bermata biru itu sudah duduk di sana. Seolah tidak ada siapa-siapa, Jihan berjalan santai, tanpa melirik ke arah lelaki asing itu. Ya, Jihan mudah mengingat orang, apalagi mereka difasilitasi oleh hologram di tangan kiri yang bisa membaca identitas para penghuni Universitas Modern Jakarta ini dengan sekali klik memindai wajah. Mungkin, belum ada dilakukan upgrade pada lelaki itu pikirnya. Jihan tidak peduli itu dan tidak ingin memikirkannya, sekarang.
"Jihan!" Panggilan itu begitu pelan, tetapi terdengar sangat dingin.
Jihan tidak menyahut, bahkan dia meneruskan meneguk minumannya daripada mencari siapa pemanggil namanya barusan. Hanya ada dua orang di kantin sekarang, bisa ditebak pemanggil ada di dekatnya, siapa lagi kalau bukan lelaki misterius itu.
Namun, untuk apa dia memanggil nama Jihan?
"Kau cabut dan berpura-pura tuli?"
Jihan mengelap mulutnya, mengangkat kepalanya hingga wajah cantiknya itu berpapasan dengan wajah lelaki jangkung yang sedari tadi memandang ke arahnya.
"Permisi? Kau bicara padaku?"
"Bicaralah dengan sopan kepada dosenmu."
"Dosen?" Jihan memindai wajah lelaki itu untuk memastikan perkataan lawan bicaranya. Apakah dosen baru? Masih muda, dan ganteng sih.
"Ada apa? Kau ingin menghukumku sedangkan ini hari pertamamu?"
"Kenapa tidak, nona rakus?"
Menyebalkan! Lelaki asing sudah menghinanya, apa salahnya coba makan banyak daripada diet kebanyakan dilakukan temannya hanya menyulitkan diri. Toh, berat badannya masih normal saja, empat puluh lima. Menurutnya, tidak gemuk, pas.
"Jaga bicaramu! Seharusnya otakmu lebih cerdas dariku, bukankah dosen harus pintar? Ah, kau hanya pandai bicara dan sedang menyamar jadi dosen untuk menggodaku?" Jihan beranjak berdiri lalu mendekati meja lelaki tanpa nama itu. Dia pantang disenggol.
"Apa kau penguntitku?" Jihan berdiri di dekat lelaki berjas silver tersebut. Mereka sangat dekat, bahkan berbagi aroma parfum begitu menyekat di hidung.
"Sayangnya aku tidak tertarik denganmu, nona pemalas!"
"Kau--"
Tangan Jihan begitu cepat ditangkap oleh lelaki misterius itu, bahkan tubuhnya ditarik sehingga Jihan terduduk di atas paha lelaki asing yang baru beberapa menit bertemu tetapi sudah membuatnya begitu emosi.
Jihan memberontak untuk dilepaskan, tetapi tenaganya sangat jauh berbeda dengan tangan kekar berotot itu.
"Jangan membuat keributan dengan orang lain, jangan mencari perhatian banyak orang. Mengerti?"
Tatapan dingin dan tajam menusuk manik cokelat Jihan. Meski begitu dia berusaha tetap tenang, tidak ingin terlihat takut di hadapan lawannya.
"Kenapa? Kau bodyguardnya? Pacarnya?"