Luna melamun dengan tatapan kosongnya. Meja yang penuh dengan makanan tidak membuatnya bernafsu. Setelah kembali ke Jakarta entah kenapa perasaannya menjadi tidak tenang. Pertemuannya dengan Rezal dan sahabatnya benar-benar di luar dugaan. Luna pikir dia akan siap jika harus bertatap muka, tapi yang ada dia malah merasa takut. Rezal adalah pria masa lalunya. Tak banyak yang berubah dari pria itu. Hanya saja ketampanannya yang semakin bertambah seiring bertambahnya usia. Meskipun hanya masa lalu, tapi Luna tak menampik jika masih terpesona dengan paras rupawan Rezal. "Nggak di makan?" tanya Faisal, suaminya. "Mendadak nggak laper." Luna tersenyum kecut. Faisal menghela nafas lelag. Dari awal dia tahu jika kembali ke Jakarta bukanlah pilihan yang tepat. Bahkan sekarang dia bisa melihat a

