bc

Sopir Tampanku Ternyata Anak Presdir

book_age18+
113
FOLLOW
1.6K
READ
heir/heiress
sweet
bxg
campus
wild
like
intro-logo
Blurb

Rahes Prasetya terpaksa menyamar menjadi sopir dan masuk dalam keluarga Sanjaya, Rahes berniat memuluskan niatnya demi bisa membalaskan dendam keluarganya. Namun sayangnya, ia harus terjebak dalam perasaan tak biasa pada gadis cantik putri dari Sanjaya–Anna. Lantas, apakah tujuan utamanya akan tetap terlaksana atau malah gagal karena perasaan cintanya terhadap gadis itu?

chap-preview
Free preview
Bab 1. Jebakan Nyonya Besar
“Ini Rahes, Nyonya. Dia yang akan menggantikan saya selama saya cuti,” jelas Darman. Melisa menatap pria tampan di depannya dengan saksama. Wanita itu mencoba menelisik paras paripurna milik Rahes yang kini sedikit membungkukkan badan di depannya. Aura pria muda dengan aroma tubuh wangi yang menggoda. Melisa tidak tahu, tapi rasanya Rahes berhasil menyebarkan feromon yang bisa membuat wanita mana saja terpesona. “Saya Rahes, Nyonya,” kata pria itu menyambung perkenalan Darman. Tangan kekarnya terulur demi bisa menyalami nyonya rumah yang pagi itu mengenakan dress selutut berwarna peach. Melisa menyambutnya dengan jabat tangan. Sebagai formalitas karena setelah ini, pria di depannya itu akan menjadi pegawainya. “Saya Melisa. Kamu sudah punya SIM, Rahes?” tanya wanita itu sedikit basa-basi. “Sudah, Nyonya,” jawabnya. “Oke, kamu bisa mulai bekerja hari ini. Darman, tunjukan di mana kamar Rahes,” ucap Melisa. “Baik, Nyonya.” Rahes dan Darman permisi untuk pergi ke paviliun samping rumah utama. Sementara Melisa masih berada di teras sembari bersedekap. Melihat sosok sopir barunya yang menawan, membuat darah wanita itu berdesir. Sekian lama tak disentuh oleh sang suami, membuat wanita itu begitu mendamba sentuhan lelaki. Dan, ketika melihat Rahes, Melisa mendadak meremang. Pria itu sangat sempurna. Ia jadi membayangkan, bagaimana jika Rahes menyentuh dirinya. Saat itu, Rahes tiba-tiba menoleh. Pria itu menatap nyalang pada Melisa dan coba menahan diri. Wanita itu bersama suaminya adalah orang yang telah menyebabkan orang tuanya meninggal. Itulah alasan kenapa pria itu mau menjadi sopir Melisa, demi bisa membalaskan dendam dan merebut kembali hak atas harta kekayaan sang ayah. “Jaga pandangan kamu, Rahes! Paman tahu, kamu sangat membencinya, tapi lakukan pembalasan itu dengan cara yang elegan dan terencana,” bisik Darman yang kemudian membukakan pintu untuk pria itu. Sebuah ruangan rapi dengan kamar mandi di dalamnya dimasuki Darman dan Rahes bersamaan. Darman kemudian membantu Rahes meletakkan barang-barangnya di lemari, lalu menjelaskan apa yang harus pria itu kerjakan di sini. “Setiap pagi, cuci mobil dan antar ke mana pun Nyonya Melisa pergi. Ada dua orang yang tinggal di rumah ini. Sanjaya dan Melisa, serta satu lagi anak gadis mereka yang masih kuliah di Amerika,” jelas Darman. “Baik, Paman,” sahut Rahes. “Sekarang, letakkan barang-barangmu dan mulai cuci mobilnya!" perintah Darman. Rahes mengangguk. Pria itu manut dan mulai melaksanakan apa yang diminta Darman padanya. Usai mengganti pakaian, pria itu bergegas keluar dan menyiapkan sabun dan alat cuci mobil. Saat itu, Melisa mengamatinya dari teras di mana ia berdiri tadi. Wanita itu menggigit bibir bawahnya saat melihat polah pria tampan yang saat ini sedang sibuk menyabuni body mobil hitam miliknya. Rahes jelas tidak sengaja menggoda. Namun, tubuh kekar pria itu yang terlihat basah sungguh membuat aliran darah Melisa jadi berdesir hebat. Rahes pun menyadari jika sejak tadi Melisa tengah memperhatikannya. Pria itu pun dengan sengaja melepas kausnya yang basah dan melanjutkan aktivitasnya mencuci mobil. Sungguh pemandangan yang membuat Melisa jadi tidak bisa menahan diri. Wanita itu kemudian memilih masuk ke rumah. Ia mampir ke dapur demi menenggak segelas air untuk membasahi kerongkongannya. Lantas, naik ke kamar untuk segera bersiap-siap. Hari itu, Melisa meminta Rahes mengantarnya bertemu dengan teman-teman sosialitanya. Sengaja, hari ini mengenakan pakaian yang tampak seksi. Ia sengaja mencoba menggoda sopir barunya yang begitu tampan. Namun, Rahes sepertinya sama sekali tidak tergoda. “Jadi, kita mau ke mana, Nyonya?” tanya pria itu tanpa menoleh. “Jalan saja! Nanti aku akan menunjukkan padamu,” kata Melisa. “Baik, Nyonya.” Melisa menyilangkan kedua kakinya. Saat itu, Rahes melihatnya dari kaca spion dalam saat menimpali ucapan sang nyonya. Tentu saja ia terkesiap dengan apa yang dilakukan oleh Melisa. Wanita itu sengaja menggodanya. Namun, dendam yang ada dalam dirinya tidak begitu saja padam. Andai bisa, ia ingin segera membalas semua dengan menghilangkan nyawa mereka meski kenyataannya, ia harus tetap menahan diri. Sesampainya di restoran yang dikehendaki Melisa, Rahes menepikan mobilnya. Ia membukakan pintu untuk sang nyonya dan membantunya turun. “Kamu tunggu sebentar di sini! Aku tidak akan lama,” katanya. “Baik, Nyonya.” Hari itu, keduanya pulang ketika malam telah tiba. Saat sampai di rumah, di garasi sudah ada mobil Sanjaya yang pulang lebih dulu. Melisa melihat Rahes yang kebingungan akhirnya meminta pria itu melaju. “Kamu bisa parkir mobilnya di sebelah sana,” kata Melisa saat itu. “Baik, Nyonya,” sahut Rahes. Setelah mematikan mesin mobilnya. Pria itu membuka pintu dan membantu Melisa keluar. Saat itu, Sanjaya muncul dan menatap sinis pada sopir baru yang belum ia kenal sama sekali. “Siapa dia?” tanya Sanjaya kemudian. “Emm … saya sopir baru di sini, Pak,” sahut Rahes. “Darman ke mana?” “Darman harus cuti. Sudahlah, jangan banyak tanya, Rahes! Sekarang kembali ke kamar kamu dan istirahat,” kata Melisa kemudian. “Baik, Nyonya,” jawabnya. Pria itu kemudian meninggalkan suami-istri yang tidak akur itu berdua di garasi. Tampak dari kejauhan jika terjadi percekcokan kecil antara Melisa dan Sanjaya yang sudah lama tidak tinggal sekamar. Rahes tersenyum kecil melihat hal itu, lantas kembali ke kamar setelahnya. *** Malam itu, Rahes tampak sedang berolahraga di depan kamarnya. Hanya dengan gerakan-gerakan sederhana saja, tapi membuat Melisa yang ada di balkonnya mendadak jadi tidak tahan. Beberapa kali ia membayangkan bagaimana indahnya malam yang akan ia lewati bersama pria itu. Sampai akhirnya, ide gila melintas di benak Melisa usai mendapatkan pesan dari sekretaris suaminya bahwa Sanjaya sedang di luar kota malam ini. Jadi, bisakah ia membuat Rahes takluk di tangannya. Wanita itu kemudian menyiapkan semuanya. Ia meminta ART menyiapkan minuman dan menyuruhnya membawa ke kamar. Melisa mencampur minuman itu dengan obat perangsang dan mengirim pesan pada Rahes agar pria itu naik ke kamarnya. Sampai akhirnya, suara ketukan di pintu menarik atensi Melisa yang sudah bersiap. “Ada apa Nyonya memanggil saya ke mari?” tanya Rahes. “Masuklah! Bohlam lampu di kamar ini mati. Tolong gantikan, ya!" pinta Melisa. “Baik, Nyonya.” Tanpa curiga, Rahes masuk dan mengganti bohlam lampu sesuai dengan perintah Melisa. Usai semuanya beres, Melisa memberikan minuman yang telah ia siapkan kepada sang sopir. “Terima kasih, ya. Minum dulu, Rahes,” katanya. Pria itu pun menuruti saja. Rahes sama sekali tak berpikir jika Melisa telah menaruh obat dan sejenisnya di dalam minuman itu. Sampai akhirnya, ia merasa tubuhnya mendadak panas. Rahes sampai mengusap tengkuknya dan mulai merasa tak nyaman. “Em … saya permisi kembali ke kamar, Nyonya,” ucap Rahes kemudian. “Kenapa buru-buru, Rahes. Tinggallah di sini sebentar!" kata Melisa. Rahes mulai tidak bisa menahan diri. Sebab, Melisa telah memberikannya akses untuk melihat barang pribadinya. Wanita itu mendorong pelan tubuh sang sopir hingga terjerembab ke ranjang. Lantas, menggodanya agar lebih terangsang. “Nyonya, saya–” “Ssstts, kita lakukan pelan-pelan, Rahes,” bisik Melisa. Rahes tak bisa mengendalikan diri lagi. Obat yang diberikan Melisa bekerja dengan baik. Pria itu bahkan sampai kehilangan kendali dan berakhir dengan kenikmatan di ranjang bersama Melisa. Saat semuanya sudah selesai, tiba-tiba Melisa mendengar suara Anna–sang putri yang baru kembali dari luar negeri–memanggilnya. Gegas ia bangkit demi memakai pakaian yang tadi telah dilepas paksa oleh Rahes dan dibuang ke lantai. Setelah selesai berpakaian, Melisa mulai berjalan untuk membuka pintu kamar. "Ya ampun, Rahes." Bodohnya, karena panik, Melisa tak sempat meminta Rahes bersembunyi. Namun, tiba-tiba hal mengejutkan terjadi, Anna tampak berdiri di ambang pintu dan menatap Melisa yang kini sudah berdiri di hadapan. Menahan pintu agar tidak terbuka lebih lebar lagi. “Mama kenapa? Kok kecapekan gitu kayaknya?" Pertanyaan itu sontak saja membuat Melisa gugup. .

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
199.6K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.2K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.8K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
73.5K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook