“Aku masuk, ya,” ucap Anna. “Iya, udah sana,” jawab Rahes. Anna masih tersenyum dan menatap pria itu lekat. Jujur saja, tadi ketika di kampus, ia begitu bangga memamerkan pria di depannya kepada semua orang. Mungkin terlihat kekanakan. Namun, selama ini belum ada pria yang seperti Rahes. Yang bahkan menjaga dirinya tetap murni walaupun ia telah menyerahkan segalanya. “Udah sana masuk. Kenapa ngeliatin begitu?” tanya Rahes kemudian. “Emang enggak boleh,” kata Anna. Rahes mendadak jengah. Bukannya tidak boleh, tapi sekarang mereka sudah ada di kediaman Sanjaya. Jika ada yang melihat selain Sanjaya, akan sangat riskan. Terlebih jika itu adalah Melisa. Rahes mencemaskan banyak hal ketika bersama Anna seperti ini. “Boleh. Tapi jangan sekarang. Kamu pasti capek, aku juga mau istirahat dul

