DUA

1212 Words
Suasana hatiku memburuk saat jam makan siang tiba. Bahkan setelah mencoba soto ayam 'temuan' Tara, — yang kalau dicoba saat mood-ku sedang baik, pasti akan kuhabiskan dengan lahap — tetap tidak membuat mood jelekku karena ulah Bima, membaik. Padahal biasanya makan menjadi salah satu alternatif penghilang mood burukku. Mood-ku makin jelek karena selama menyuap kuah soto, aku tidak bisa menghilangkan bayangan kejadian sebelum kami berangkat makan siang, yang terputar berulang-ulang seperti kaset rusak. Pacar Bima, si model majalah wanita itu, datang untuk menjemput Bima. Seperti biasa pacar Bima selalu terlihat cantik dan modis, membuat siapa saja wanita yang bertemu dengannya menatap dengan tatapan iri, termasuk aku. Pacar Bima sempat basa-basi menyapa kami. Menanyakan apakah kami mau bergabung dengan mereka, yang langsung ditolak oleh Virly. Virly beralasan tidak ingin menggangu quality time mereka. Berakhir dengan mukaku yang tertekuk sebal menatap kepergian Bima dan pacarnya yang bergandengan tangan mesra. Kami sampai di kantor lima belas menit sebelum jam istirahat berakhir. Masih dengan suasana hatiku yang tidak kunjung membaik, aku malah mengalami kejadian tidak mengenakkan saat dalam perjalanan menuju ke ruangan. Ditengah perjalanan kami, tiba-tiba aku ditabrak oleh seorang pria yang tidak sengaja berpapasan saat akan berbelok arah. Pria itu memakai setelan hitam putih, membawa map di tangannya dan tas ransel yang hanya menggantung disisi kiri pundaknya. Aku jatuh tersungkur ke lantai. Pria itu langsung menghampiriku dan mengucapkan maaf berkali-kali. Dia bahkan menawarkan bantuan untuk membantuku berdiri, namun aku tolak secara halus. "Bunga! Lo gak apa-apa?" Tara mengulurkan tangannya, membantuku berdiri. "Gue gak papa kok." Aku berdiri, menerima uluran tangan Milly dan Tara. "Maaf Mbak, saya gak sengaja." Muka pria itu berubah pucat, merasa bersalah. "Gak apa-apa. Gue juga salah, gak hati-hati tadi." Pria itu bernapas lega mendengar jawabanku, kemudian melanjutkan berbicara. "Kalau gitu saya permisi dulu ya Mbak, sekali lagi saya minta maaf." Pria itu membungkukkan badannya. Rendah sekali sampai hampir condong ke lantai, membuatku tertawa dengan tingkahnya. Setelah kejadian itu, aku dan teman-teman hendak melanjutkan perjalanan kami, namun tiba-tiba pria yang menabrakku tadi berbalik arah. "Emm ... maaf Mbak, saya lagi nyari ruangan, tapi gak tau ruangannya di mana. Saya mau nanya ruangan Finance Accounting itu di mana ya?" Aku, Tara, Virly dan Milly saling berpandangan. Siapa dia? "Mas-nya ada urusan apa ya? Kebetulan kami anak finance," tanya Virly. Muka pria itu terlihat asing di mata kami. Sebelumnya aku juga belum pernah melihatnya di kantor, atau jangan-jangan dia karyawan baru? "Oh, saya ada keperluan sama Pak Indra. Boleh tau ruangan beliau ada di mana?" "Kita anterin aja, kebetulan kita juga mau balik ke ruangan." Virly menawarkan diri membantu pria itu, yang langsung disambut dengan wajah cerah. Sepertinya daritadi dia kebingungan mencari ruangan kami yang agak tersembunyi. "Makasih, Mbak," ucapnya. Kami berlima berjalan bersama menuju ruangan. Virly mengantar pria itu ke ruangan Pak Indra. Sementara aku, Tara dan Milly memilih kembali ke meja masing-masing. Bima sudah ada di mejanya ketika kami kembali. Meski dalam hati dongkol, aku berpura-pura sok asik menggodanya. "Cie ... yang abis kencan." Bima yang awalnya fokus dengan layar ponselnya, mendongak menatapku. "Eh, udah balik? Gimana tadi? Jadi makan soto?" Aku mendengkus mendengar Bima mengalihkan pembicaraan. "Hmm," jawabku singkat. "Gimana juga tadi makan siang berduanya? Pasti seru, ya?" Aku masih berusaha mengungkit, lebih tepatnya melampiaskan perasaan cemburuku yang tak beralasan kepada Bima. "Kayaknya lebih seru makan berdua sama lo deh." Jawaban Bima cukup membuatku kepedean, namun aku masih belum cukup puas dengan jawabannya. "Masa sih? Emang kenapa?" "Gatau ya, kalo sama lo lebih nyambung aja obrolannya." Aku tersenyum dalam hati mendengar jawabannya. Walaupun statusku bukan pacar Bima, tapi entah mengapa aku merasa menang telak dari pacarnya. "Tadi jadi makan soto?" Bima bertanya lagi. Aku mengangguk. "Lo harus cobain kapan-kapan deh, enak banget!" "Masa sih? Seenak itu?" Aku mengangguk "Ya udah, kapan-kapan cobain berdua yuk." Aku menelan ludah mendengar ajakannya. "Berdua doang? Gak ngajak yang lain?" "Ya kalo yang lain ikut gak pa-pa sih, tapi gue gak yakin mereka mau diajak nyobain makan yang sama. Gimana, mau temenin gue, gak?" "M—mau aja sih, nanti agendain aja." "Oke sip." Obrolan kami terhenti ketika Virly memanggilku dan Bima masuk ke ruangan Pak Indra. Aku dan Bima saling tatap. Bertanya-tanya, hal apa yang membuat Pak Indra memanggil kami. Kami berdua pergi ke ruangan Pak Indra. Mengetuk pintu ruangan bos dan menunggu jawaban dari dalam. Setelah mendapat jawaban 'masuk', aku dan Bima masuk ke ruangan bos. "Bapak, manggil saya sama Bima?" "Iya Bunga, ambil kursi buat kalian duduk." Aku dan Bima mengambil kursi di sebelah sofa, kemudian menggeretnya mendekat ke meja Pak Indra, bergabung bersama Virly dan juga pria yang kutemui di lorong tadi. "Jadi gini, divisi kita kedatangan karyawan baru." Pak Indra menunjuk pria itu, yang tersenyum manis menyapa kami. "Namanya Aji. Ini hari pertama dia masuk kerja. Saya tau kalau load kerjaan Virly lagi banyak, karena Dania sudah resign. Makanya saya minta HRD untuk segera mencarikan karyawan baru untuk menggantikan posisi Dania." Pak Indra berhenti sejenak, kemudian kembali melanjutkan, "Tapi setelah saya pikirkan, sebelum Aji memegang jobdesk-nya, lebih baik kalau dia dikenalkan dengan pekerjaan yang load-nya agak ringan dulu, supaya terbiasa. Jadi, saya mau minta bantuan Bima sama Bunga buat nge-training Aji selama seminggu ke depan di bagian AR dan AP. Nanti minggu berikutnya saya minta Tara dan Milly buat nge-training jobdesk mereka." "Baik Pak. Jadi habis ini saya langsung ngajarin Aji ya Pak?" tanyaku. "Iya, kamu sama Bima bagi tugas aja nanti siapa yang handle kerjaan sama yang ngajarin Aji." "Baik Pak." Setelah briefing singkat dari Pak Indra terkait pekerjaan, kami berempat kembali ke meja masing-masing untuk kembali bekerja. Virly meminta Aji untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu, karena Tara dan Milly sebelumnya tidak tahu kalau Aji akan menjadi bagian dari kami. "Halo Aji, kenalin gue Tara." Aji menyalami Tara dan memperkenalkan dirinya juga. "Aji Mbak, salam kenal ya." "Kalo gue Milly." Bergantian menyalami Milly. "Salam kenal Mbak Milly." "Jangan panggil Mbak, dong, berasa tua gue. Kayaknya kita seumuran deh," ucap Milly Aji tertawa, "Oke Milly." Selanjutnya Aji menyalami Bima. "Akhirnya gue punya temen segender selain Pak Indra di divisi ini." Kami semua tertawa mendengar celetukan Bima. Divisi Finance & Accounting memang jarang dihuni oleh karyawan pria, kebanyakan pasti wanita yang mendominasi divisi ini. "Gue Bima, panggil aja Abang." "Sejak kapan Aji jadi adik lo, Bim." Tara berseru. "Iya nih, kasian orang tua Aji kalo punya anak kayak lo." Virly ikut berseru. "Sirik aja lo pada. Maksud gue, biar tambah akrab aja panggilnya Abang." Bima mengedip sok akrab. Aji hanya tersenyum kikuk mendengar perdebatan random kami. "Kalau saya panggil Mas aja, gimana?" "Oh, lo orang Jawa ya?" tanya Bima Aji mengangguk. "Pantesan, soalnya jarang yang manggil Mas-Mbak di sini. Kalem aja, panggil apa aja boleh, asal jangan panggil sayang, soalnya gue masih doyan cewek." "Najis banget bercandaan lo, Kak." seru Milly. Kami semua tertawa. Terakhir giliran aku yang disalami oleh Aji. Aku lebih dulu mengulurkan tangan kepada Aji, yang langsung disambut dengan baik oleh pria itu. "Bunga." "Aji, Mbak. Sekali lagi maaf ya, buat yang tadi." Aji menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sepertinya dia masih merasa bersalah dengan kejadian di lorong. Aku tertawa. "Gak apa-apa, santai aja. Semoga kita bisa jadi rekan yang baik ya." "Iya Mbak, mohon bantuannya." Aku menatap sekali lagi senyuman Aji yang melebar. Satu kata yang bisa menggambarkan senyuman pria itu. Manis. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD