TIGA

1253 Words
Aku pulang kantor pukul lima lewat lima belas menit. Setelah membereskan meja dan mematikan komputer, aku beranjak dari kursiku kemudian berpamitan kepada Virly dan Tara yang masih betah bertahan di depan layar monitor komputernya. Aku tidak sengaja bertemu Bima saat hendak turun melalui tangga darurat menuju basemen kantor. Di jam segini menggunakan lift adalah pilihan terakhir yang akan aku pilih, karena pasti orang kantor akan berbondong-bondong menggunakan benda kotak bergerak itu untuk turun ke lantai dasar. "Loh Bim? Kok balik lagi?" Aku bertanya keheranan melihatnya berjalan berlawanan denganku. "Mau ambil barang gue yang ketinggalan. Lo mau pulang?" Aku mengangguk menjawab pertanyaannya. "Naik apa?" tanyanya lagi. "Biasa, ojek." Jawabku. "Oh, mau bareng gak? Kebetulan gue lagi bawa mobil hari ini." Aku diam sebentar. "Eee, emang boleh?" Bima mengernyitkan alisnya sebentar. "Kenapa enggak?" "Maksud gue, pacar lo gak apa-apa, gue nebeng?" Biar kuperjelas saja. Bima mengibaskan tangannya. "Ya gak apa-apa lah. Udah, yuk, daripada naik ojek, mending sekalian aja sama gue." "Oh, oke." See? Bukan aku yang sengaja mendekati Bima, justru pria itulah yang memberi umpan, aku hanya menerimanya. Bukan aku yang kecentilan gatal mendekatinya, tapi pria itu yang berusaha mendekat. Seperti biasa, aku selalu berargumen sendiri seolah membenarkan tindakanku. Hanya itu yang bisa aku lakukan agar tidak terus terbayang menjadi pemeran jahat di hubungan Bima dan pacarnya. "Lo tunggu di bawah dulu, gue mau ke atas bentar ngambil barang." "Oke." Aku menuruti ucapan Bima. Turun ke basemen gedung dan menunggu pria itu di parkiran mobil. "Mbak Bunga belum pulang?" Aku menoleh mendengar namaku dipanggil. Aji — anak baru yang tadi siang diperkenalkan sebagai anggota baru divisiku, menyapa. "Aji? Belum nih, masih nunggu Bima." "Oh, Mas Bima sama Mbak Bunga mau pulang bareng?" Aku mengangguk. "Lo sendiri? Belum pulang?" "Ini mau jalan ke parkiran motor, Mbak." "Oh gitu." Keadaan tiba-tiba canggung. Aku bukan orang yang suka berbasa-basi, apalagi dengan orang yang baru kukenal. Sepertinya Aji juga berpikiran sama. Pria itu lebih dulu bersuara, memecah keheningan diantara kami. "Kalo gitu, saya duluan ya Mbak." "Oh iya Ji, hati-hati ya." "Iya Mbak, makasih." Bima datang tepat saat Aji berpamitan padaku. Bima berjalan cepat ke tempat aku berdiri. Aku bisa melihat wajah pria itu yang gelisah menatapku. "Kenapa Bim?" tanyaku melihat raut wajah Bima yang tak seperti biasanya. "Duh, gimana bilangnya ya, Mel." Meli — itu adalah panggilan khusus yang diberikan Bima kepadaku. Tidak ada satupun orang kantor yang memanggilku dengan panggilan itu, kecuali Bima. Dulu waktu pertama kali berkenalan dengan Bima, pria itu tanpa izin langsung menetapkan panggilan khusus untukku. Mengambil penggalan nama depanku yang akhirnya keterusan sampai sekarang. Katanya lebih enak pemenggalan katanya dibanding memanggil Bunga yang terasa aneh jika akhirannya dipenggal. Bung dan Nga. "Ada apa sih Bim?" Aku mendesak Bima berbicara. "Gue baru dapet telepon dari cewek gue, katanya dia lagi di Senci, minta jemput. Emm ... gimana ya, bilangnya." Oh, aku mengerti. Itu artinya Bima batal mengantarku pulang hanya untuk menjemput pacarnya, begitu, kan? Untuk kesekian kalinya, Bima membuangku hanya demi memprioritaskan pacarnya. Padahal aku yang lebih dulu dijanjikan pulang bersama dia. "Oh, gue ngerti kok. Ya udah gue pulang naik ojek aja kalo gitu." Aku berusaha mati-matian menahan suaraku agar terdengar biasa-biasa saja, kemudian lagi-lagi memasang senyum palsu di depannya. "Gue gak enak jadinya Mel." Bima bergerak gelisah. "Atau gini aja. Gue jemput pacar gue dulu, baru abis itu gue balik lagi kesini buat anterin lo pulang, gimana?" Aku tersenyum miris dalam hati. "Gak usah Bim, gue bisa naik ojek kok. Lagian dari awal gue kan emang mau pulang naik ojek." "Sori banget ya, Mel. Gue jadi gak enak, nih." Aku mengibaskan tangan. "Udah gak apa-apa, santai aja. Lo jemput cewek lo aja sana. Nanti cewek lo ngambek, ribet urusannya." Padahal aku tahu aku tidak baik-baik saja. Aku cemburu, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. "Eee, maaf Mbak, Mas, saya lancang motong obrolan. Kalau Mbak Bunga mau, Mbak Bunga bisa nebeng bareng saya. Kebetulan saya bawa dua helm hari ini." Aku dan Bima sontak menoleh pada suara yang tak asing. Aji berdiri dengan senyum ramahnya, menatap kami berdua. Astaga, bahkan aku dan Bima sampai lupa kalau masih ada Aji yang daritadi berdiri terjebak mendengarkan obrolan kami. "Eh, gak perlu Ji, gue bisa pulang sendiri kok," tolakku. "Bener Mel, lo mending pulang bareng Aji aja." Dahiku mengerut tak suka. Apa-apaan sih Bima ini, kenapa jadi melempar aku untuk nebeng bareng Aji? "Tapi kalo Mbak Bunga gak nyaman naik motor, gak apa-apa kok." "Eh, gak, bukan gitu, Ji. Gue juga pulang-pergi naik ojek kok. Gue cuma gak enak aja kalo ngerepotin lo." "Gak repot kok Mbak," jawab Aji Mendengar jawaban Aji, akhirnya keraguanku runtuh, mau tidak mau aku menerima tawarannya. "Ya udah kalo gitu, gue nebeng bareng Aji." Aku meninggalkan Bima kemudian mengekori Aji pergi ke parkiran motor. Sesampainya di parkiran, Aji memberikan helm berwarna pink padaku yang membuatku refleks menyeletuk "Ini helm cewek lo?" tanyaku menebak, tetapi tiba-tiba aku sadar sesuatu. "Eh, sori, bukan maksud gue kepo. Gue cuma ...." "Ah itu ... bukan, itu bukan helm pacar saya. Kebetulan di Jakarta ini saya masih numpang di kosan sepupu saya, jadi tadi pagi saya nganterin sepupu saya dulu ke tempat kerjanya. Motor ini juga punya dia." Aku ber-oh, kemudian tanpa basa-basi naik ke bangku belakang motor Aji. "Berarti lo disini cuma berdua sama sepupu lo Ji?" Aku bertanya ketika Aji melajukan motornya membelah jalanan kota Jakarta. "Iya Mbak, saya numpang di kosan sepupu saya, karena ini pertama kalinya saya merantau ke Jakarta." "Sepupu lo cewek?" "Iya Mbak, tapi saya gak tidur sekamar sama sepupu saya kok. Kebetulan ibu kosnya punya anak cowok, jadi saya dibolehin tidur berdua sama anak cowoknya." "Oh, gitu." Entah kenapa aku malah makin penasaran dengan Aji. Jadi sepanjang perjalanan, aku menanyai pria itu tentang apa saja. Kota asalnya, perjalanannya hingga bisa sampai ke Jakarta, rencana dia selama di Jakarta, sampai ke orang tuanya. "Jadi lo asli orang Jogja ya, Ji?" "Iya Mbak, keliatan banget ya, medoknya?" Aku tertawa, "Gak juga sih, gue cuma nebak karena lo manggil anak-anak kantor 'Mas sama Mbak'." "Emangnya kalo disini biasanya manggil senior pake sebutan apa Mbak?" "Ya biasanya sih manggil Kak. Bang juga jarang sih, paling sering Kak." "Oh gitu, soalnya saya udah kebiasaan manggil Mas-Mbak." "Ya sebenarnya gak apa-apa sih, artinya sama aja, kan." Selanjutnya Aji bercerita tentang perjalanan karirnya sebelum akhirnya masuk ke kantor ini. Dia dulu berkuliah di Jogja, jurusan Manajemen. Di sela kegiatannya menyelesaikan skripsi, Aji bekerja part time sebagai barista di kafe dekat kampusnya. Setelah lulus, dia malah tercebur di pekerjaan lamanya. Lama kelamaan dia jadi kehilangan jati dirinya sebagai lulusan mahasiswa jurusan Manajemen. Dia ingin mencoba peruntungannya bekerja kantoran. Dan disinilah Aji berada sekarang. "Jadi, ini pengalaman pertama lo kerja kantoran?" "Iya Mbak." "Dan lo milih kota ini sebagai bahan percobaan peruntungan lo?" tanyaku agak skeptis. Aji nyengir dibalik helmnya. Aku melihatnya dibalik kaca spion motornya. "Saya sering dengar kalo Jakarta itu kota yang keras. Dan kota ini bukan untuk orang-orang yang lemah dan cengeng. Saya tahu Mbak Bunga meragukan saya bisa bertahan di kota ini." Aku menggeleng, bukan begitu maksudku. "Saya tahu Mbak. Tapi, saya pernah dengar kata pepatah yang isinya begini, 'orang yang berilmu tidak akan berdiam diri di kampung halamannya, merantaulah dan kamu akan menemukan pengganti orang-orang yang kamu tinggalkan'." Aku melihat Aji menatap sebentar langit kota yang mulai berubah dari terang menjadi gelap. "Dari situ saya tergugah untuk menemukan hidup baru, teman baru, dan mungkin 'keluarga' baru." Aku menatap Aji dari kaca spionnya. Kemudian terhenyak mendengar ucapannya. Lebih tepatnya, terkesima dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulutnya. Cowok ini, unik. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD