SEBELAS

1086 Words
"Lo kenapa?" Aku mengalihkan pandanganku pada Bima yang tiba-tiba bertanya. Dahiku mengerut heran. Memangnya aku kenapa? "Apa?" "Kenapa keliatan seneng gitu, sih?" Bima bertanya lagi. Aku tertawa, "Ya seneng lah, lo akhirnya ngajak gue keluar lagi setelah weekend-weekend sebelumnya lo sibuk parah, gak ada waktu ngajak gue main." Bima ikut tertawa mendengar keluhanku. "Senungguin itu pergi bareng gue?" "Menurut lo aja." "Kasian banget gak ada yang ngajak pergi jalan-jalan." Bima mengulurkan satu tangannya untuk mengacak rambutku. "Kata siapa gak ada yang ngajak?" Aku sewot tak terima, kemudian tersadar. Apa seharusnya aku tidak mengatakan ini ya? "Emang ada?" Aku diam sebentar. "Ada." "Siapa?" Bima bertanya. "Aji." Bima yang tengah menyetir mobil, seketika langsung menoleh sepenuhnya padaku ketika mendengar nama Aji disebut. "Kalian pergi kemana?" Aku melirik ekspresi Bima takut-takut. Pria itu sedang cemburu kan? "Ke Dufan?" Aku menjawab ragu. "Dufan?" Bima seperti tak percaya dengan ucapanku, mengulangi. "Iya." "Ngapain kalian ke Dufan?" "Ya jalan-jalan, mana ada orang ke Dufan numpang makan nasi padang," Aneh sekali pertanyaan Bima. "Kok aneh banget perginya malah ke Dufan. Kayak anak kecil," ucap Bima, menghakimi. "Ih, tapi seru tau! Kapan-kapan kita juga ke sana yuk." Agar wishlist kencanku ke Dufan bisa tercapai. Bima menggeleng. "Gak mau." Mukaku langsung tertekuk begitu mendengar jawaban Bima. "Kenapa gak mau? Seru tau, apalagi kalo bisa nyobain wahana berdua." "Kalian kemarin juga?" "Apa?" "Nyobain wahana berdua?" "Ya iya lah! Kan perginya berdua, masa mencar naik sendiri-sendiri. Lo gimana sih!" "Kalo kita ke situ, yang ada sepanjang hari lo keinget sama Aji. Pasti lo bakal bandingin gimana pas jalan sama Aji dan sama gue. Gue gak mau." Yang dikatakan Bima tidak sepenuhnya salah sih, otakku pasti akan otomatis refleks membandingkan mereka berdua. Tapi, memangnya kenapa kalau itu terjadi? Toh yang terpenting aku lebih suka pergi dengannya dibanding dengan Aji. "Kok bisa sih, kalian pergi ke Dufan? Siapa yang ngajak?" Seakan haus informasi, Bima masih belum berhenti bertanya. "Aji. Dia katanya gak sengaja kebeli dua tiket, jadi daripada tiketnya sayang gak dipake, akhirnya ngajak gue." Bima tertawa sarkas. "Dan lo percaya alasan Aji?" Aku mengendikkan bahu. "Gue gak peduli juga, mau Aji bohong atau enggak. Yang penting dia ngajak gue dan gue mau ke sana." Setelah pembahasan tentang Aji, kami diam sepanjang perjalan menuju bioskop. Hari ini akhirnya Bima mengajakku nonton setelah sekian lama dia lebih memilih menghabiskan akhir pekannya dengan pacarnya. Bima memilih kursi di deretan A1 dan A2, tempat favorit kami setiap menonton bioskop. "Coba liat foto-foto lo di Dufan kemarin." Bima mengulurkan tangannya, meminta ponselku. Ternyata pembahasan mengenai Dufan dan Aji belum selesai. Kukira Bima tidak akan membahasnya lagu "Kenapa sih, kepo banget deh." Bima tak menjawab. Pria itu hanya menatapku dengan tatapan mata mengintimidasi, yang membuat aku mau tidak mau memberikan ponselku padanya. "Senyum gue disini ceria banget, ya." Memang dasar akunya saja yang ngelunjak. Aku sengaja memancing Bima. Dia harus tahu kalau aku senang sekali diajak pergi ke Dufan kemarin dan berharap Bima mau berubah pikiran dan menyetujui ideku pergi ke Dufan berdua. "Kemarin sampe jam berapa?" "Jam berapa ya, lupa gue, tapi kayaknya sampe malem deh." "Dari pagi?" "Siang," jawabku. "Tau gak, gue selama ini punya wishlist date pergi ke tempat bermain gini. Seru banget pasti." Aku harap Bima bisa peka. "Kan udah tercapai." "Apanya." "Ini, wishlist date-nya." Aku berdecak sebal, kenapa Bima tidak peka sama sekali. "Apaan, gue sama Aji kan cuma temen. Itu bukan date namanya." Bima tersenyum. "Oh, cuma temen." Aku memotong sebelum Bima lebih kepedean. "Iya temen. Kayak kita." Dan benar saja senyumnya perlahan pudar. Percakapan kami terhenti ketika pemberitahuan pintu teater bioskop tempat filmku dan Bima diputar terdengar. Aku dan Bima masuk. Berjalan naik undakan tangga dan duduk sesuai dengan kursi kami. "Serem gak sih." Kali ini kami menonton film horor. Sebenarnya aku dan Bima tidak tahu film yang sedang hits yang mana. Jadi tadi kami memilih film random dan tak menyangka ternyata genrenya horor. "Kalo lo takut, pegang tangan gue aja, biar rasa takutnya nyalur dan lo gak ngerasa takut sendirian." Aku hanya tersenyum mendengar kemodusan Bima. "Oke." Sampai film diputar, bukan aku yang memulai memegang tangan Bim karena ketakutan, namun Bima yang lebih dahulu mencuri-curi untuk bergandengan tangan denganku selama menonton. Aku yang merasa nyaman dan dengan tautan tangan kami, hanya diam saja. Aku merasa kami seperti seorang pasangan sungguhan yang sedang kencan. "Kayaknya diakhir cerita istrinya bakal meninggal deh." Bima menyeletuk menebak alur cerita kami tonton sambil sesekali mencuri pandang ke arahku. Aku sadar Bima sedang menatapku. Aku yang notabene tidak kuat dipandang lama-lama tidak berani menoleh, membalas tatapan Bima. "Mel," panggil Bima. "Hem." "Hadap sini coba." Bima menyentuh daguku dan memaksaku untuk melihat ke arahnya. "Apa?" Bima tersenyum sambil menggeleng pelan. "Gak apa-apa, cuma mau bilang kalo lo cantik banget hari ini." Keliatannya memang terdengar gombal, tapi entah kenapa aku suka mendengarnya. Aku suka ketika Bima selalu memujiku cantik, membuatku lebih percaya diri. "Udah ah, fokus nonton. Jangan liatin gue mulu!" Aku menyingkirkan muka Bima agar tidak menatapku. "Cie salting cie." Bima menggodaku. Walau dalam keadaan gelap, sepertinya Bima bisa melihat sedikit siluet warna kemerahan dipipiku. "Apaan sih, diem deh lo!" Aku pura-pura galak untuk menutupi rasa malu. "Siapa yang gak salting kalo diliatin gitu. Makanya lo jangan ngeliatin gue terus." "Ya gimana, ada yang lebih cantik di sini." Kalau Bima dibiarkan terus, aku yakin wajahku sudah seperti kepiting rebus saking merahnya. "Bima, stop gangguin gue. Gue mau fokus nonton." Bima terlihat menahan tawanya. Dia mungkin senang karena berhasil membuatku salah tingkah karena ulahnya. "Oke, oke." Akhirnya Bima mengalah dan kembali fokus menatap layar yang ada di depan. Sampai pada akhir cerita, satu bioskop bertepuk tangan mengapresiasi film yang diputar. Plot twist dari filmnya benar-benar membuat orang-orang terpukau. "Plot twist banget, sumpah! Keren-keren." Aku ikut terpukau dengan pengemasan jalan cerita film ini. Padahal awalnya aku skeptis, namun tanpa diduga ternyata filmnya bagus juga. "Udah yuk, pergi." Aku mengajak Bima pergi ketika layar bioskop hanya tinggal menampilkan kredit film. "Bentar deh, gue jadi kepikiran sesuatu." "Apa?" "Sini, gue bisikin di kuping lo." Aku mengernyitkan dahi. "Kenapa harus bisik-bisik? Langsung ngomong aja, gak ada yang kenal juga." Orang-orang juga sudah mulai meninggalkan kursi bioskop dan keluar dari ruang teater. "Gak bisa, harus dibisikin. Udah sini cepet." Mau tidak mau aku menuruti Bima dan mendekatkan kepalaku ke arahnya. "Bulan depan, kita pergi ke Disneyland." Mataku melebar begitu mendengar ucapan Bima. "Lo serius? Gak bercanda kan?" "Emang muka gue keliatan bercanda?" Aku tersenyum kemudian menggeleng. "Makasih ya Bim." Ini yang selalu kusuka dari Bima. Pria itu selalu punya kejutan kecil, yang membuat aku merasa selalu dicintai. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD