"Lo udah cek w******p grup belum, Sis?" Aku menghentikan gerakan jariku yang sedang mengetik di atas keyboard ketika Virly memanggilku.
"Kenapa emang?" tanyaku pada Virly
"Coba deh, lo buka w******p grup. Soalnya lo doang yang gak absen di grup dari semalem."
Aku mengernyitkan dahi, lalu membuka aplikasi w******p di ponselku. Akhir-akhir ini aku memang jarang membuka aplikasi hijau tersebut. Aku lebih sering aktif di i********: ketimbang di w******p karena komunikasiku dengan Bima saat ini lebih sering di i********:.
"Ternyata gue senyapkan notifikasi aplikasinya. Pantes, gak masuk notif apa-apa."
"Coba deh, lo baca dulu," ucap Virly.
"Hm, gue ketinggalan berita apaan emang." Aku bergumam pada diri sendiri, kemudian membaca bubble chat yang ada di grup satu-persatu.
"Hah? Ini beneran?" Aku terkejut ketika membaca isi obrolan yang ada di grup.
"Iya bener. Pak Indra bakal dimutasi. Hari ini dia ngajak kita makan-makan di luar."
"Eh, gue belum siap banget kalo sampe Pak Indra di mutasi."
"Sama Sis, kita gak tau nanti bos baru kita modelan kayak apa."
"Kalo yang jadi pengganti Pak Indra galak gimana? Ah, gue gak bisa ngebayangin sih." Aku mengeluh, tidak siap jika pengganti Pak Indra nanti lebih galak dan merepotkan.
"Berdoa aja, semoga kita dapet modelan bos yang waras. Ya minimal kayak Pak Indra lah, yang gak galak dan neken-neken kita amat di kerjaan."
Pantas saja hari ini aku melihat raut muka anak-anak tidak seperti biasanya. Bahkan hari ini ruangan Finance Accounting terasa lebih senyap dari biasanya. Padahal biasanya ada saja satu dua yang menyeletuk.
"Makan-makannya malam ini Vir? Emang per kapan Pak Indra bakalan dimutasi?" tanyaku pada Virly.
"Gue sih gak tau pasti ya, tapi ngeliat dia ngajak kita makan-makan malem nanti, kayaknya sih, bentar lagi."
"Gue sedih nih jadinya, mana telat banget dapet infonya."
"Ya lo ngapain aja, sampe ga buka WhatsApp."
"Jarang gue buka ini aplikasi," kataku beralasan.
Setelahnya aku membuka room chat WhatsAppku dengan Bima, kemudian mengetikkan sesuatu.
Me
Lo udah tau Pak Indra bakal dimutasi
Bima
Tau lah, kan semalem baru dibahas digrup
Me
Gue baru tadi pagi ini masa:(
Bima
Lo jarang aktif w******p, makanya ketinggalan info
Me
Ya kan, kita lebih sering chattingan di i********:. Lagian di w******p gak ada apa-apanya
Bima
Padahal minggu depan gue berniat cuti, tapi bakal susah kalo ada pergantian gini
Gue gak tau modelan bos baru kita kayak gimana nanti
Me
Cuti?
Lo mau kemana?
Bima
Gue kan janji ngajak lo ke Disneyland
Gak inget?
Me
Eh, tawaran ini beneran?
Bima
Ya beneran masa gue bohong.
Me
Tapi kayaknya kalo kita cutinya barengan gak bakal diizinin deh, Bim
Bima
Iya juga sih
Soalnya kita kerjanya saling back up ya
Bingung juga
Me
Ya udah sih, kenapa gak ke Dufan aja yang deket. Sama-sama tempat wisata juga
Bima
Dibilang gue gak mau ke Dufan
Gue mau ngajak lo ke tempat yang lebih daripada Aji ngajak lo
Me
Kenapa lo jadi merasa tersaingi gini?
Bima
Tersaingi?
Lo bercanda Mel
"Mbak Bunga."
"Ya Ji?" Aku langsung menutup layar obrolanku dengan Bima di komputer ketika Aji memanggil. "Kenapa Ji?" tanyaku pada Aji.
"Nanti malem Mbak Bunga pergi sama siapa ke acaranya pak Indra?" tanya Aji.
"Eh?" Aku saja belum tahu akan berangkat dengan siapa nanti malam. Virly belum info apakah kami geng cewek-cewek akan berangkat bersama. Aku juga belum bertanya ke Bima, apakah pria itu bisa diajak pergi bersama.
"Belum tau sih Ji, kenapa emang?"
"Nanti kalo emang belum ada tumpangan, pergi bareng sama gue aja Mbak," ucap Aji menawari.
"Eh, Mel, lo jadi kan berangkat bareng gue nanti? Lo bilang minta ditemenin mampir dulu." Bima tiba-tiba menyela percakapanku dengan Aji.
"Eh?" Aku yang tidak dibriefing sebelumnya oleh Bima mendadak bingung. Kapan aku bilang?
"Kalian mau pergi berdua? Kenapa gak sekalian bareng aja kita semua nebeng mobil lo Bim. Biar gak kepisah juga nanti, sampenya barengan." Virly yang mendengar percakapan kami menyahut.
"Iya, nih, daripada naik grab sendiri-sendiri, mending kita semua nebeng mobil lo aja Bim. Berangkat bareng," ucap Tara ikut menimpali.
"Ya udah, nanti berangkatnya pake mobil gue. Tapi gue gak mau ya, nganterin lo pada balik. Pokoknya balik sendiri-sendiri, gue cuma kasih tebengan pas berangkat doang."
"Ya elah Bim, gitu amat lo sama kita-kita," keluh Tara.
"Heh bukan apa-apa ya Tara yang gak Budiman. Masalahnya rumah kalian tuh dari ujung ke ujung, yang ada gue shubuh baru nyampe rumah kalo nganterin balik lo pada satu-satu."
"Alah, lo juga biasanya mau mau aja nganterin Bunga yang lawan arah sama rumah lo. Pilih kasih lo sama kita-kita," Virly membela Tara.
"Iya tuh, giliran Bunga aja lo iya-iya aja. Seandainya rumah Bunga di Sunter juga bakal lo anterin."
Aku yang merasa namaku disebut jadi bahan bully-an dengan Bima hanya diam saja. Tanpa sadar pipiku merona merah karena salah tingkah.
"Ya kalo itu beda cerita. Udah-udah, kenapa jadi bahas gue sama Meli. Intinya gue cuma ngasih tumpangan berangkatnya doang. Pulangnya dipikir masing-masing," Bima berkata final, membuat satu ruangan ber-yah kecewa.
"Kalo Mas Bima keberatan nganterin, Mbak Bunga bisa pulang sama gue Mbak, kebetulan tempat kita kan searah juga." Aji masih belum menyerah, menawarkan tumpangan padaku.
"Eh?"
"Gak apa-apa, Meli nanti gue aja yang nganterin Ji. Kebetulan gue janji mau nganterin Meli pergi hari ini, iya kan Mel?" Bima kembali masuk ke obrolanku dengan Aji. Pria itu keliatan sekali tidak suka aku diantarkan pulang oleh Aji
Aku yang belum siap dengan narasi yang dibuat Bima, hanya bereaksi seperti orang bingung di tengah-tengah mereka. Virly, Tara dan Milly sudah sibuk berdehem melihatku yang seperti sedang diperebutkan oleh Bima dan Aji.
"Duh, udah daripada Bunga bingung milih pulang bareng siapa, mending nanti Bunga pulang bareng gue sama laki gue aja. Lo emang mau mampir kemana dulu Sis?" Tara mencoba menjadi penengah di antara Aji dan Bima.
Aku makin bingung menjawab pertanyaan Tara, karena sebetulnya aku tidak pernah ada janji pulang dengan Bima sebelumnya dan sepulang kantor aku juga tidak mampir kemana-mana.
"Gak apa-apa gue nanti bisa pulang sendiri kok, kenapa jadi ngeributin gue gini. Udah ya, stop lempar-lempar gue kayak lemper di kondangan gini."
"Eh, lemper mana yang dilempar-lempar di kondangan." Bukannya fokus dengan inti obrolan, Milly malah membahas hal tidak penting yang kusebutkan.
"Ada tuh, lemper di kondangan sepupu gue, dilempar sana-sini karena gak laku," balas Virly yang malah ikut-ikutan membahas lemper
"Ya jelas gak laku, saingannya aja kambing guling, mana ada yang mau ngelirik lemper." Tara menimpali
"Sama ini, nih, apa tuh namanya, es cendol."
Ini kenapa kami jadi membahas lemper di tengah perbincangan kami soal acara makan-makan dengan pak Indra?
Aku memilih untuk tidak ikut dalam obrolan, mengembalikan fokusku pada layar laptop.
"Mbak Bunga yakin, pulang sendiri?" Aji bertanya setelah kami diam beberapa lama.
"Gue udah biasa pulang sendiri kok Ji, lo gak usah khawatir. Thanks ya buat tawarannya."
Aji mengangguk. "Kalo nanti susah dapet taksi atau grab, pulang bareng gue aja Mbak."
Aku melengkungkan tangan membentuk tanda oke. "Aman Ji."
***