TIGABELAS

1035 Words
Ternyata selain kami anak buahnya, Pak Indra juga mengundang beberapa manajer dari divisi lain untuk datang makan-makan di acara perpisahannya. Sebagai karyawan biasa-biasa saja yang tidak memiliki jabatan tinggi di kantor. Kami berenam memilih untuk pisah meja dari obrolan bapak-bapak dan Ibu-ibu yang pembahasannya pasti sudah jauh di atas level kami. "Kesempatan gak datang dua kali, pokoknya gue mau pesen makanan paling mahal di sini." Virly sudah ancang-ancang ketika waiters memberikan buku menu ke meja kami "Gak usah kayak orang kalap gitu deh, Vir." Tara awalnya menegur Virly, namun pada kenyataannya, dia yang lebih banyak memesan makanan daripada kami. Parahnya, semua makanan yang dipesan olehnya, harganya ada dalam daftar urutan menu yang paling mahal. Setelah memesan makanan kami mengobrol. Life update kehidupan masing-masing. Ketika sibuk mendengarkan cerita rumah tangga Tara, aku beberapa kali terganggu dengan tingkah Bima. Aku berkali-kali merasakan Bima yang kegelisahan duduk di sampingku, membuat aku bertanya-tanya keheranan. "Lo kenapa?" tanyaku pada Bima. "Hm?" Bima menggeleng. "Gak apa-apa." Namun, semenit kemudian Bima kembali bergerak gelisah. Beberapa kali dia mencoba membenarkan letak duduknya. "Lo yakin gak apa-apa? Gelisah banget dari tadi." "Iya Mel, aman kok." Aku melirik ke arah saku celana Bima. Ponselnya terlihat menyala dan bergetar. "HP lu geter terus dari tadi. Ada telfon kayaknya, tuh." Bima mengibaskan tangannya. "Biarin aja." Mataku menyipit curiga melihat responnya. "Angkat aja siapa tau penting." "Gak penting kok. Bukan apa-apa." Bima terus mengelak. "Berantem ya lo?" Aku langsung menembak pertanyaan pada Bima. Satu-satunya hal yang bisa aku tebak melihat tingkahnya sedari tadi. "Enggak." Mataku langsung memicing tajam menatap Bima. "Lo gak bisa bohong dari gue ,Bim." Aku mengenal Bima lebih dari siapapun. Bahkan aku lebih mengenal Bima daripada pria itu mengenal dirinya sendiri. Bima terlihat menghela napas. "Gue emang gak bisa bohong dari lo." "Udah angkat teleponnya dulu. Selesain masalahnya, biar lo juga tenang." Aku menyuruh Bima untuk pergi keluar sebentar mengangkat telepon. "Gak enak gue, sama yang lain." "Udah, bentar aja. Daripada lo blingsatan gak jelas dari tadi." Bima menatap mataku yang kubalas dengan tatapan sama dalamnya. "Emang cuma lo yang paling ngerti gue, Mel." Aku tersenyum miris dalam hati. Seharusnya lo juga lebih milih gue daripada pacar lo Bim Setelah itu, Bima beranjak dari duduknya dan izin kepada teman-teman untuk mengangkat telepon. "Guys gue angkat telepon dulu ya." Bima menjauh dari kami, keluar sebentar dari restoran. Kami sedang asik membahas kucing Virly sampai akhirnya Milly angkat suara, mengalihkan topik lain. "Eh, btw kenapa ya, kalo gue lihat-lihat Aji tuh cocok sama lo, Kak." Seketika obrolan kami tiba-tiba berpindah haluan. Aku dan Aji yang merasa terpanggil jadi saling pandang. Virly yang dari kemarin memang gencar menjodohkanku dengan Aji langsung semangat menyetujui kalimat Milly. "Tuh, kan, bukan cuma gue doang yang bilang!" Aku hanya tersenyum kecil. "Masa sih?" "Beneran, kek muka kalian tuh ada mirip-miripnya gitu. Emang kalian gak mau nyoba trial pacaran gitu? Siapa tau cocok," ucap Milly asal. "Dikira apaan pake trial-trial segala." "Ya namanya juga nyoba Sis, apa salahnya," ucap Tara. "Iya Kak, lagian kan, Kak Bunga jomblo. Aji juga. Kenapa kalian gak nyoba pacaran aja. Iya gak Ji?" Milly mengedipkan mata kepada Aji. Pria itu terlihat salah tingkah. "Emang lo mau Ji, pacaran sama gue?" Entah keberanian dari mana, aku malah jadi menantang balik bertanya pada Aji. Aji seperti tidak siap mendapat pertanyaan dariku. Pria itu terlihat bingung harus merespon apa. "Ditanyain tuh, Ji. Jawab dong!" desak Virly "Iya, Ji. Tunjukkan seberapa gentle lo ke Bunga." Milly mengompori Aji makin tertekan dengan goda-godaan yang dilempar anak-anak kantor. Terlihat sekali dari raut muka pria itu yang tidak nyaman dan memaksakan senyum. "Udah, udah, kalian tuh jangan godain Aji terus. Kasian tuh, muka dia tertekan." Aku yang tidak kuat melihat raut muka Aji yang kebingungan, menegur anak-anak. Pasti mereka sengaja mencomblangkan aku dengan Aji. "Kalau gak nyoba, kita gak bakal tau kayak gimana, kan Mbak?" Jujur aku terkejut dengan jawaban Aji. Apa maksudnya? "Wooooo." "Ehem-ehem." "Cie, cie." Sorak-sorak dari meja kami terdengar menggema. Aku tidak mengira kalau Aji bakal menanggapi dengan serius. Kini malah giliran aku yang kebingungan harus merespon bagaimana. "Tuh Kak, udah dikode sama si Aji, tinggal dari lo gimana nangkep umpannya aja." "Iya, Sis. Gue lihat-lihat Aji gercep juga nih." "Cie, cie." Meja kami jadi riuh. Beberapa kali pengunjung meja lain melirik ke arah kami. "Kenapa nih, rame bener." Bima tiba-tiba datang, membuat suasana yang tadinya ramai mendadak diam. "Kenapa sih? Gue dateng kok malah pada diem." Bima langsung bergabung duduk di sebelahku. "Ini nih, kayaknya bakalan ada cinta yang bersemi di kantor," Virly angkat bicara "Cinta bersemi?" Bima mengernyitkan dahi. "Siapa?" "Itu, temen sebelah elo." Virly menunjuk padaku. Bima menoleh padaku, kemudian bertanya. "Elo Mel? Cinta bersemi sama siapa?" "Ya menurut lo siapa lagi cowok yang ada di ruangan kita? Ga mungkin kan sama elo, kan elo udah punya pacar Bim." Jujur, kata-kata Tara sebetulnya benar-benar menampar fakta yang selama ini berusaha aku abaikan. Rasanya menyakitkan kalau aku harus menerima kenyataan pria yang kusukai sudah bersama wanita lain. "Sama Aji maksud lo?" Bima menunjuk Aji."Ya emang kenapa kalo gue udah punya pacar?" Bima seolah memancing, bertanya dengan nada jenaka. "Yee, lo pikir aja kenapanya. Kalo udah punya satu cewek ya udah, jangan menclak-menclok ke yang lain." Bima tertawa. "Namanya juga masih pacaran, masih sah dong kalo trial and eror nyari yang lain." "Gila lu ya, sehat-sehat deh buat pacar lo. Punya cowok modelan kayak elo Bim," Tara nyinyir tak setuju pada Bima. "Emangnya lo mau Sis, punya cowok modelan Bima gini?" Virly tiba-tiba mengarahkan pertanyaan padaku. Aku yang mendadak mendapat pertanyaan keramat dari Virly kebingungan harus menjawab apa. "Hm?" Semua mata jadi tertuju padaku seolah mereka benar-benar menunggu jawaban dariku. "Kenapa jadi berasa sesi interogasi gini ya?" Aku mencoba mengalihkan pembicaraan. "Ya kalo gue sih ogah, ya. Masa mau dapet hati yang dibagi-bagi gitu, yang ada dapet nyeseknya doang." "Iya Kak, mending sama yang jelas-jelas masih single. Udah pasti sepenuhnya tangki cinta lo bakal diisi penuh sama dia, gak perlu bagi-bagi. Iya kan Ji?" Lagi-lagi aku dan Aji jadi kena. Kami berdua hanya diam. Lebih tidak tahu harus merespon apa. "Udah ya guys, gue no komen." Aku mengangkat tangan. "Ji, lo gak usah dengerin mereka. Anggep aja bisikan makhluk halus." "Yee, setan dong kita." "Lah emang bukan?" "Dasar lu." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD