EMPATBELAS

1023 Words
Bima Gue di lobby Aku mengernyitkan dahi ketika membaca notifikasi pesan dari Bima. Aku bertanya-tanya dalam hati. Ada apa gerangan pria itu kemari? Setelah acara makan-makan perpisahan Pak Indra, akhirnya aku pulang sendirian naik ojek seperti yang sudah kukatakan sebelumnya. Sempat ada perdebatan dengan Bima. Pria itu memaksa untuk tetap mengantarku, tapi kutolak, dengan alasan aku tidak enak dengan teman-teman kantor. Sebenarnya bisa saja aku diam-diam pulang dengan Bima tanpa sepengetahuan anak-anak kantor, tapi entah kenapa aku merasa takut hal itu akan menimbulkan kecurigaan di mata anak-anak. Padahal sebetulnya sudah menjadi rahasia umum aku sering pulang bersama dengan Bima. Me Wait, gue turun Aku berlari menyambar kardigan abu-abu yang tersampir di sofa. Kemudian buru-buru turun untuk menemui Bima. Ketika sampai di lobby aku mendapati pria itu sedang berdiri mondar-mandir di lobby apartment. "Bima," panggilku. Kepala Bima otomatis menoleh ketika namanya dipanggil. Tidak ada senyuman di wajahnya ketika melihatku. Padahal biasanya pria itu akan melebarkan senyumannya ketika melihatku. Melihatnya seperti ini aku yakin ada masalah yang terjadi padanya. "Ngapain lo malem-malem ke sini?" Aku bertanya ketika Bima datang menghampiriku. Tanpa basa-basi aku langsung mengungkapkan rasa penasaran yang sedari tadi dipendam saat turun ke lobby apartment untuk menemuinya. "Gue mau mastiin sesuatu ke elo." Aku menaikkan satu alisku ke atas. "Kayaknya ini pembahasan yang penting, ya?" Bima mengangguk. "Mau move ke apartemen gue, atau gimana?" tawarku. "Kita ke mobil gue aja." "Oke." Aku mengikuti langkah Bima yang berjalan menuju parkiran basemen gedung. Langkah kami sejajar, namun terasa seperti ada jarak yang membentang. Padahal biasanya jika sedang berjalan beriringan seperti ini, Bima sering modus memegang tanganku, kemudian bergerak menggenggam dan menggandeng tanganku ketika melihat responku yang diam saja menyambut hangat tangannya. Aku masuk ke mobil Bima dan duduk di kursi penumpang. Ada jeda sebelum akhirnya Bima membuka suara. "Gue serius nanya ini ke elo. Dan gue harap lo jawab dengan jujur." Aku menatap Bima, menunggu kata-kata lanjutan yang keluar dari mulut pria itu. "Lo suka sama Aji?" Pertanyaan itu lagi. Entah ini sudah keberapa kali — aku tak menghitung — pertanyaan yang sama kembali dilemparkan oleh Bima. Kenapa pertanyaan bodoh semacam itu harus ditanyakan berulang kali? Padahal kalau sedikit saja dia bisa peka dengan perasaanku, mungkin dia akan tau kalau bukan Aji pria yang aku sukai. Tapi dia. "Pertanyaan gue cuma punya dua jawaban, Mel. Iya atau enggak. Gue gak mau denger jawaban apapun selain dua kata itu." Aku menatap Bima tepat pada kedua iris matanya. Yang walaupun berada di bawah cahaya penerangan minim, tapi tetap terlihat memancarkan sinar. "Enggak!" Aku menjawab tegas. Kulihat respon Bima tidak serta-merta lega mendengar jawabanku. "Ada cowok yang lo suka saat ini?" Kenapa pria itu suka sekali mempertanyakan kalimat retoris yang sebetulnya dia sendiri sudah tahu jawabannya? Apakah sinyal yang selama ini kuberikan padanya kurang? Bukankah aku sudah terang-terangan menunjukkan rasa sukaku padanya? Aku tidak akan mau diajak nonton bioskop berdua, jalan berdua, makan berdua, kemana-mana berdua setelah jam pulang kantor kalau bukan karena menyukainya. Apalagi dengan resiko yang akan kutanggung kalau sampai pacar Bima melihat kami jalan berdua. "Ya." "Siapa?" "Lo yakin nanya itu ke gue Bim?" Aku gemas tidak tahan mendengar pertanyaan Bima. "Lo tinggal jawab, Mel." Aku tertawa sarkas. Bukankah pertanyaan itu seharusnya ditujukan kepada Bima, bukan aku? Siapa yang sebenarnya dicintai oleh Bima? Aku atau pacarnya? Kenapa dia seolah menyukaiku, mendekatiku, membuatku baper padahal dirinya masih memiliki pacar? "Kebalik gak sih, Bim? Harusnya itu pertanyaan buat lo. Siapa yang sebenernya cewek yang lo suka?" Aku tahu Bima tidak akan punya jawaban atas pertanyaanku. Aku yakin pertanyaanku akan berakhir menggantung, sama seperti yang sudah-sudah. Bima akan diam, kemudian sama sekali tidak punya jawaban atas pertanyaan yang aku ajukan. Namun, kali ini .... "Lo." Bima menjawab dengan tegas. Sembari menatap dalam iris mataku. Mataku membulat begitu mendengar jawaban Bima. Tunggu dulu, aku tidak salah dengar, kan? Bima, maksud Bima apakah yang dimaksud itu aku? Bima menyukaiku? Ini nyata? "Bim ...." "Iya Mel, gue suka sama lo. Lo cewek yang gue suka." Aku masih belum bisa bernapas dengan benar mendengar pengakuan mengejutkan dari Bima. Walaupun selama ini aku sadar dari perilaku Bima yang sengaja mendekatiku, tetapi baru kali ini Bima menyatakan secara langsung dan gamblang bahwa pria itu menyukaiku. Aku bukan lagi menebak-nebak perasaan Bima yang sesungguhnya padaku. Pria itu langsung mengatakan dengan tegas di depanku kalau dia menyukaiku. "Jadi, Mel, siapa cowok yang lo suka saat ini?" Haruskah aku menjawab sejujurnya? Apakah jika aku mengatakan yang sebenarnya hubungan kami akan berubah? Aku harus menjawab apa? "Gue juga suka lo Bim." Akhirnya. Akhirnya aku berhasil mengatakan itu, dengan separuh hatiku yang terbelah di antara perasaan bersalah dan perasaan lega. Bahkan setelah pengakuan jujur yang terucap dari bibirku aku masih mempertanyakan apakah langkah yang kuambil benar? Bima terlihat bernapas lega mendengar jawabanku. "Gue gak bisa ngebayangin kalo lo suka sama cowok lain." Bima menggenggam tanganku kemudian membawanya ke bibir, mengecupnya lembut. "Gue minta sesuatu boleh?" "Apa?" "Mulai sekarang, berhenti deket-deket sama cowok lain, dan jadi cewek yang ada di samping gue. Gue sayang sama lo Mel, dan gue gak bisa liat lo deket sama cowo lain. Gue gak rela dan ngerasa cemburu." Bima mengatakan tersebut dengan napas yang memburu. Kentara sekali pria itu seperti menahan emosinya. "Bisa ya, cantik?" Aku mengangguk patah-patah, ragu. Setelahnya Bima mendekatkan wajahnya ke wajahku. Bibirnya berhasil mendarat sempurna di atas bibirku. Kami berciuman di dalam mobil, merayakan hubungan baru kami yang aku pun tidak tahu arahnya kemana. Aku iya-iya saja saat Bima memintaku menjadi perempuan yang ada di sampingnya, tanpa meminta konfirmasi atas hubungan Bima dengan pacarnya. Apakah mereka sudah putus atau masih bersama? Bima melepaskan ciumannya dari bibirku. Pria itu tersenyum menatapku, kemudian bergerak mengecup keningku. "Aku belum pernah ngerasa seberuntung ini milikin kamu, Mel." "What are we now?" Aku seakan masih kelabu dengan hubungan yang baru saja Bima deklarasikan. "Aku punya kamu dan kamu punya aku. It's enough." Dan bodohnya aku hanya mengangguk menyetujui kata-kata Bima. Entah aku yang terlalu bodoh atau aku yang memang tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku sudah lama menunggu pernyataan cinta ini keluar dari mulut Bima. Setelah sekian lama, akhirnya hubungan kami jelas arahnya. Aku miliknya dan dia milikku. Itu sudah cukup, katanya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD