TUJUH

1133 Words
Aku terkejut ketika seseorang mengulurkan sekaleng s**u kemasan kearahku. Aku yang sedang memandang hamparan kota dari atas kafe di rooftop gedung kantorku otomatis menoleh. "Aji?" "Ambil Mbak, ini buat Mbak Bunga." Aji kembali menyodorkan s**u kemasan bergambar beruang padaku agar aku menerimanya. "Yang lain belum pada sampe?" Hari ini kami janjian mencoba menu baru di kafe ini, tapi saat perjalanan menuju kafe ini, Virly dan yang lainnya ditahan sebentar oleh Pak Indra, berakhir aku yang duluan datang dan memesan meja. "Masih di bawah. Perut Mbak Bunga aman?" Aku mengacungkan jempolku ke arah Aji. "Aman kok. Udah biasa gue mah minum kopi. Udah kebal lambungnya." Aji mengangguk-angguk, kemudian ikut duduk di sebelahku, menikmati pemandangan kota di bawah sana. "Mbak." "Hm." "Kayaknya tadi saya terlau keterlaluan ya Mbak, sama Mas Bima." Kepalaku otomatis menoleh, "Kenapa?" "Saya jadi gak enak sama Mas Bima. Padahal mungkin niat Mas Bima baik mau ngasih Mbak Bunga kopi, tapi saya malah seenaknya ngambil kopinya. Saya takut Mas Bima tersinggung." Aji ini benar-benar tipe cowok people pleaser yang segala hal selalu dipikirkan. Dia selalu merasa tidak enakan pada orang dan mungkin akan menganggap jika ada yang salah dengan perlakuan orang kepadanya, dia akan menyalahkan dirinya sendiri terlebih dahulu. "Santai aja Ji, Bima orangnya selow kok." Aku menepuk pundak Aji, menenangkan. "Saya juga kayaknya sok akrab banget ya sama Mbak Bunga, padahal baru sekali kita pulang bareng, tapi saya berani ngerebut kopi dan ngelarang-ngelarang Mbak buat minum kopi, cuma bermodalkan saya tahu Mbak Bunga punya penyakit lambung." "Gak apa-apa. Gue malah seneng, itu berarti lo perhatian sama gue dan gak mau gue kenapa-napa, iya kan?" Aji mengangguk, membenarkan pernyataanku. "Saya sebenernya ...." "Lagi ngobrolin apa sih, serius amat kayaknya." Ucapan Aji terpotong oleh kedatangan Bima yang menghampiri kami. Aku dan Aji otomatis menoleh ke sumber suara. "Ngasih tips and tricks ke Aji biar betah kerja di korporat." Aku menjawab asal. "Kalau soal itu lebih jago gue gak sih?" Bima berkata jemawa, menampilkan wajah tengilnya. "Nanti lo harus berguru sama gue Ji." Bima menepuk-nepukan dadanya songong. "Iya deh, ampun suhu," ucapku meledeknya. "Mana nih, Virly sama yang lain? Kok cuma lo yang kesini?" "Itu mereka." Aku mengikuti arah pandang Bima yang menunjuk ke pintu masuk kafe. Terlihat Virly, Milly dan Tara datang dari arah pintu masuk, melihat sekeliling mencari meja kami. Aku melambaikan tangan untuk mengisyaratkan kepada mereka agar segera menghampiri ke meja kami. "Udah pesen belum?" Tara bertanya ketika sampai di meja. "Udah gue pesenin semua, aman," ucapku. "Sip, sip." Setelahnya kami mengobrol cacicu sembari menunggu makanan datang. Ditengah-tengah percakapan kami membahas masalah kehidupan korporat, tiba-tiba topiknya berbelok arah. Virly yang lebih dulu tiba-tiba membuka obrolan tentang pacar Bima. "Eh, tapi serius, pacar Bima itu cantik banget loh." "Setuju, cantiknya emang kebangetan." Tara menyetujui. "Ya jelas lah cantik, pacar Kak Bima kan model, pasti dituntut buat on show penampilan. Beda sama kita yang kerja korporat gini, kucel dan lusuh." ucap Milly. "Tapi, beda Mil. Ini tuh aura cantiknya kayak menguar dari dalam gitu loh. Gue yakin tanpa make up pacar Bima juga aslinya lebih cantik lagi." "Diem aja lo Bim, pacar lo lagi dipuji-puji," Virly menegur Bima yang awalnya fokus menunduk menghabiskan makanannya mendongak, merasa terpanggil. "Hmm, gimana-gimana?" "Yeee, malah budek nih orang!" "Bukan gitu. Ya, pacar gue emang cantik, kalo gak cantik mana mau gue sama dia." Dadaku tiba-tiba nyeri mendengar kalimat yang keluar dari mulut Bima. "Iya deh iya, yang pacarnya cantik." Aku merasa tersentil dan jadi ikut-ikutan menggoda Bima, berusaha menyembunyikan rasa cemburuku. Bima menatapku, gerakan matanya seolah gelisah. Dia tiba-tiba meralat kata-katanya. "Semua cewek cantik. Lo juga cantik Mel." Virly berdeham, Tara pura-pura batuk, Milly bercie-cie. Sementara aku mengalihkan pandangan, tersipu. "Satu atau dua, pilih aku atau dia yang kamu suka." Virly tiba-tiba menyanyikan lagu milik Gamma1 yang liriknya menggambarkan keadaan Bima dan aku saat ini. "Dua atau satu, pilih dia atau kamu aku tak tau." Disambung oleh Tara. Bima tertawa. "Udah, udah, kenapa jadi bahas gue, deh. Ganti topik yang lain. Eh, Ji, lo dulu sebelum masuk sini kerja dimana?" Topik obrolan kami seketika beralih kepada Aji yang sedari tadi hanya diam menyimak obrolan. Aku diam-diam memerhatikan Bima, memikirkan pujian yang dia lontarkan padaku. Di mata Bima aku cantik. Itu sudah cukup. "Tapi lo pernah pacaran gak sih Ji? Gue gak ngebayangin deh orang sekaku lo kalo pacaran gimana," tanya Tara. "Iya, gue juga gak bisa ngebayangin," ucap Milly menyetujui. "Pernah, saya pernah pacaran kok." Aji menjawab dengan nada kalem. "Lo kalo pacaran ngapain aja?" "Pertanyaan lo ambigu banget tau Vir," tegurku. "Lah? Gue kan cuma nanya, penasaran aja." Virly mengendikkan bahu, tak peduli. "Selayaknya orang pacaran. Makan, nonton." "Udah gitu doang?" tanya Tara. Aji mengangguk. "Keliatan sih." "Keliatan apanya nih?" kami semua ngegas menanggapi ucapan Tara. "Maksud gue, keliatan orang kayak Aji gaya pacarannya kayak gimana." "Emang gaya pacaran lo kayak gimana Tar, kalo boleh tau?" Bima mencoba memancing, kami hanya mesem-mesem tidak jelas. "Ya kalo gue sih, adalah ya, kalian gak perlu tau." "Yeee, sesat lo." Kami semua tertawa. "Tapi sebenernya kita semua punya PR gak sih guys," ucap Milly Seketika pusat perhatian beralih pada Milly. Kami menunggu kelanjutan ucapannya. Apa? "Bikin Aji ngobrol pake gue-elo. Jujur gue udah gemes banget dari kemarin pengin ngospek dia." Virly mengangkat tangan, "Setuju! Gue setuju." "Gue juga!" Aku ikut-ikutan. Dari awal sebetulnya aku juga ingin merubah itu pada diri Aji. Aku berpikir kalau Aji terus berbicara formal pada kami, akan ada sekat di pertemanan kantor yang membuat hubungan makin canggung. Aji yang merasa menjadi topik obrolan angkat bicara, "Memangnya harus ya?" "Harus!" "Wajib!" "Sekarang coba lo belajar bilang gue," perintah Virly Aji dengan ragu mencoba mengikuti arahan Virly. "G-gue." Kami semua tertawa. Kenapa jadi terasa aneh ketika Aji yang mengucapkannya, ya? "Not bad lah." "Sekarang coba bilang elo." "E-elo." "That's good." "Sekarang coba satu kalimat, 'gue mau makan nih, elo semua pada mau ikut gak?'" Walau susah payah akhirnya Aji berhasil meniru kalimat Virly. "Nanti juga lo bakal terbiasa, pelan-pelan aja." "Let it flow, sekarang mungkin masih kerasa aneh di lidah lo, nanti lama-lama juga nyaman." Aku menepuk pundak Aji yang berada di sebelahku. "Mulai sekarang lo harus belajar pake gue-elo kalo ngomong sama kita, ngerti?" Virly mendikte Aji seperti seorang guru. Aji mengangguk, tak membantah perintah Virly. Aku diam-diam tersenyum, memikirkan betapa polosnya Aji. Pria itu mungkin tidak enak menolak perintah kami. Wajahnya juga terlihat tertekan ketika dia mencoba memaksakan panggilan gue-elo yang masih terasa asing baginya. Tanpa sadar aku jadi terus memperhatikan Aji, sampai tidak sadar kalau sedari tadi Bima memanggilku. "Eh, kenapa?" "Lo yang kenapa, gue panggil dari tadi diem aja. Awas kesambet setan siang-siang." "Apaan, sih. Yang ada setan takut sama gue." Aku menjawab nyolot. "Hari ini lo pulang naik apa?" "Kayak biasa, ojek," jawabku. "Nanti bareng sama gue aja. Gue yang anter." Aku mengangguk, tersenyum dalam hati. "Oke." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD