"Mbak Bunga udah mau pulang?"
Aku yang sedang sibuk membereskan peralatan kerjaku menoleh pada Aji yang tiba-tiba bertanya. "Iya nih, Ji."
"Mau pulang bareng gak, Mbak?" ucap Aji menawari.
"Eh, sorry Ji, tapi hari ini gue pulang bareng Bima," tolakku.
"Oh, gitu." Aji menatap sebentar ke arah kubikel Bima, kemudian kembali menatapku. "Ya udah kalo gitu kapan-kapan aja, Mbak."
"Iya Ji."
"Kalo gitu gue duluan ya Mbak."
"Hati-hati Ji."
"Keknya si Aji lagi pdkt-in elo deh, Sis." Setelah kepergian Aji, kepala Virly muncul di balik kubikelnya, berbicara kepadaku.
Aku mengibaskan tangan. "Ngaco lo."
"Ya itu, nyatanya dia ngajakin lo pulang bareng."
"Emang semua yang ngajakin pulang bareng itu tandanya naksir?" Aku memutar bola mata.
"Ya enggak sih, tapi kebanyakan."
"Udah ah, makin sore makin ngelantur omongan lo."
"Tapi, kalo Aji beneran naksir lo gimana Sis?"
Entah kenapa aku gelagapan mendapat pertanyaan dari Virly. Aku melirik sebentar ke depan, ke arah meja Bima. Pria itu masih anteng memantengi layar komputer di depannya, sepertinya tidak memperhatikan percakapan kami.
"Ya gak gimana-gimana, emang gue harus gimana? Itu kan, hak orang buat suka sama siapa aja," ucapku asal.
"Ish, bukan gitu maksud gue. Lo bakal welcome gak kalo Aji beneran naksir elo?"
Aku mengendikkan bahu. "Why not? Selagi sama-sama single, apa yang salah?"
"Thats my girl." Virly mengedipkan matanya. "Mau gue comblangin gak?"
Aku menggeleng tidak setuju. "Gak usah lah. Biarin aja terjadi senatural mungkin. Lagian kan, belum tentu Aji naksir gue kayak dugaan lo. Takutnya dia jadi gak nyaman. Nanti hubungan gue sama dia malah jadi canggung."
"Oke oke."
Aku melirik ke meja Bima lagi untuk memastikan reaksi pria itu. Aku penasaran dengan reaksinya ketika aku berbicara soal pria lain. Namun, nihil. Bima sepertinya tidak tertarik dengan obrolan kami dan tetap fokus dengan layar komputernya.
"Jadi pulang bareng gak?" Aku akhirnya berdiri, menegur pria itu yang sampai sekarang masih belum menunjukkan tanda-tanda akan pulang.
"Jadi, bentar lagi gue kelar. Lo kalo mau duluan ke mobil, duluan aja."
"Oke."
Aku mengambil kunci mobil Bima di atas meja pria itu, kemudian pergi sendiri ke basemen, tempat mobil Bima di parkir.
Sampai di basemen kantor, aku baru teringat kalau aku tidak tahu letak Bima memarkirkan mobilnya dan lupa bertanya padanya. "Duh, sial, gue lupa nanya ke Bima lagi, dia parkir di mana."
Akhirnya aku mencoba menghubungi Bima untuk menanyakan di mana pria itu memarkirkan mobilnya.
"Mbak Bunga?"
Merasa namaku dipanggil, aku menoleh ke sumber suara dan mendapati Aji yang sudah siap dengan motornya, hendak pulang.
"Loh, belum pulang Ji?" tanyaku.
"Mbak Bunga sendiri juga masih belum pulang?" Aji malah balik bertanya.
"Iya, nih, gue masih nungguin Bima. Dia masih ada kerjaan katanya."
"Oh gitu." Jeda sebentar, "Mbak Bunga emang sering pulang bareng sama Mas Bima ya?"
Pertanyaan Aji cukup membuatku gugup. "Oh, gak sering kok, kadang-kadang doang karena rumah kami searah."
Aji mengangguk-angguk. "Rumah kita juga searah Mbak."
"Ya?"
Itu bukan kode, kan? Apa maksudnya?
"Ya, kapan-kapan pas Mbak Bunga lagi gak pulang bareng Mas Bima, kita bisa pulang bareng."
"Asal gak dibawa dorong motor lagi aja sih, Ji."
Aji tertawa. "Gak kok Mbak, yang kali ini gue pastiin bensin gue selalu full."
"Beneran ya?"
Aji mengacungkan dua jarinya. "Kalo mau gue bawa motoran keliling Jakarta juga ayok."
"Ih seru kali, ya. Gue belum pernah coba lagi, motoran keliling Jakarta."
"Cobain Mbak, bisa nanti kita keliling muterin Bunderan HI."
"Hahaha, kurang kerjaan banget muterin Bunderan HI." Aku menertawakan ide Aji.
"Tapi Mbak Bunga belum pernah, kan?"
"Iya sih.Ya udah kapan-kapan deh."
Aku sampai lupa tadi sempat menghubungi Bima menanyakan tempat mobilnya di parkir, saking asyiknya ngobrol dengan Aji. Sampai-sampai Bima sudah berada di basemen, menghampiri kami berdua.
"Loh masih di sini Ji, belum pulang?" tanya Bima yang tiba-tiba datang dari belakang.
"Iya nih, Mas, ini mau pulang. Tadi sempet ketemu sama Mbak Bunga, jadi ngobrol bentar. Kalo gitu gue duluan ya Mas, Mbak."
"Iya, Ji, hati-hati ya."
Setelah Aji pergi, aku menyerahkan kunci mobil Bima pada pria itu.
"Yuk."
Kami berjalan bersama menuju mobil Bima dengan suasana hening. Aku heran dengan sikap pria itu yang tidak seperti biasanya. Entah kenapa Bima jadi pendiam, sama sekali tak mengajakku ngobrol.
"Kerjaan lo lagi banyak, ya?" Aku bertanya setelah kami masuk dan duduk di mobil.
"Enggak."
"Lo diem terus dari tadi, kirain lagi banyak pikiran."
"Emang, tapi bukan soal kerjaan."
Aku menaikkan alis. "Terus?"
"Lo."
Aku menunjuk diri sendiri. "Gue?"
"Hm."
"Gue kenapa?" Aku tidak mengerti kenapa aku menjadi alasannya.
Bima dia sebentar, kemudian bilang, "gak apa-apa, lupain aja."
"Beneran?" tanyaku memastikan.
"Iya."
Melihat mukanya yang semakin kusut, aku jadi tidak tahan untuk bicara. "Bim, kalo ada masalah mending diselesain deh, daripada diem-dieman gak jelas gini terus. Gue gak nyaman, lo juga pasti gak nyaman, kan."
Bima memalingkan wajahnya, menyisir rambutnya ke belakang.
"Kenapa sih Bim? Lo ada masalah sama gue?"
"Bukan gitu Mel."
"Ya terus apa?" Aku terus mendesaknya berbicara.
"Lo sama Aji ...." Bima menggantung ucapannya.
Aku menunggu kelanjutan ucapan Bima, namun dia hanya diam saja. Kenapa tiba-tiba jadi Aji? Ah, aku baru ingat! Jangan-jangan.
"Lo denger obrolan gue sama Virly?"
Bima diam sebentar. "Kalian ngobrol di depan gue, gimana gue gak denger."
"Tapi, tadi lo keliatan fokus sama komputer lo. Gue kira lo gak dengerin."
"Sefokus-fokusnya gue mantengin komputer, kuping gue masih bisa dengerin bisik-bisik di sekitar gue Mel."
Iya juga sih, mustahil Bima tidak dengar, sedangkan posisi kubikel kami berhadap-hadapan.
"Lo gak nganggep serius kan, omongan Virly tadi?"
"Kebalik gak sih, Mel? Gue yang harusnya nanya itu ke elo."
"Apa?"
"Elo naksir sama Aji?" tembak Bima langsung.
Aku tersenyum sarkas, "Lo berharap gue jawab apa, Bim?"
"Gak usah ngebalikin kata-kata gue Mel. Lo tinggal jawab, iya atau enggak."
"Terus kalo gue jawab iya kenapa? Lo mau apa Bim? Gak ada artinya kan jawaban gue, buat lo?"
"Ada, ada artinya buat gue Mel!" tegas Bima.
"Apa? Apa artinya buat lo Bim?" Aku semakin mendesak Bima.
"Gue, gue...."
Drrttt drrttt
Percakapan kami terhenti oleh getaran ponsel Bima. Aku mengerang frustasi dalam hati melihat nama yang tertera di layar ponsel pria itu.
"Sorry, gue harus ngangkat telpon ini."
Aku tidak bisa mencegah. Aku hanya diam membisu mendengar percakapan Bima dan pacarnya.
"Iya sayang, nanti aku ke situ ya, ini aku lagi di jalan pulang." Mendengar langsung Bima berbicara dengan pacarnya sungguh membuatku tidak tahan. Selama ini aku selalu pergi dan menghindar ketika Bima mengangkat telepon dari pacarnya, namun yang kali ini aku tidak bisa pergi.
"Iya, kamu juga hati-hati ya. Love you too."
Bima mengakhiri teleponnya, kemudian menyimpan ponselnya dan hendak melanjutkan obrolan kami tadi. Terlambat, aku sudah terlanjur tidak mood.
"Mel."
"Bim, bisa gak langsung anterin gue pulang aja. Gue lagi gak pengin ngobrol."
"Tapi, Mel ...."
"Oke, gue bisa pulang sendiri."
Bima langsung mencegahku yang hendak membuka pintu mobil.
"Oke, oke gue anterin pulang sekarang."
Setelahnya kami hanya diam di sepanjang perjalanan. Ini pertama kalinya kami bertengkar semenjak kenal dan dekat.
Dan ajaibnya alasan kami bertengkar karena satu nama yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehku.
Aji.
***