SEMBILAN

1046 Words
Sudah tiga hari aku dan Bima saling diam. Sejak pertengkaran di mobil hari itu, kami tidak saling sapa di kantor. Bahkan ngobrol saja seadanya, itupun kalau memang ada perlu saja. Rasanya aneh tidak bertegur sapa dengan Bima. Padahal biasanya dia yang selalu modus-modus nempel padaku. Tidak ada ocehan dia, sekarang rasanya hampa. Aku tertawa dalam hati. Ironis sekali. Padahal kami tidak ada hubungan apa-apa, kenapa bertengkar hebat seolah benar-benar seperti seorang pasangan. Dan hebatnya penyebab pertengkaran kami karena orang ketiga. Persis seperti pasangan pada umumnya, namun yang satu ini sepertinya lebih ke anomali karena kami tidak punya hubungan apa-apa. "Sis, lo lagi kenapa deh, sama Bima?" Ternyata kebisuan kami disadari oleh anak-anak kantor. Geng cewek kantorku langsung menginterogasi saat makan siang. "Kenapa apanya?" Aku malah balik bertanya, pura-pura tidak tahu. "Gue baru ngeh, kenapa dari kemarin ruangan kita sunyi senyap. Ternyata gue baru sadar dari kemarin belum denger kalian ngobrol atau Bima nyeletuk apaan gitu. Kalian kenapa kompakan diem-dieman gitu, sih. Ada masalah ya?" Aku tersenyum masam, mengaduk berkali-kali jus jambu yang ada di tanganku. "Gak ada apa-apa, kok. Mungkin Bima lagi banyak kerjaan aja. Jadi gak bisa diganggu." "Ah, masa sih. Tapi, kayaknya enggak, deh. Bima gak mungkin segitunya mikirin masalah kerjaan. Pasti ada apa-apa kan, sama kalian berdua. Cerita aja ke kita." Tara tidak sepenuhnya percaya dengan elakanku. Dia terus mendesakku untuk bercerita. Aku sebenarnya mau saja cerita kepada mereka. Tapi, aku bingung cara menyampaikannya. Mereka mungkin diam-diam tau kalau aku dan Bima dekat dalam artian lebih, tapi aku tidak pernah secara gamblang langsung menceritakan kepada mereka aku suka pada Bima. Akan aneh kalau aku berterus terang bahwa alasanku dan Bima saling membisu adalah karena bertengkar masalah Aji. "Iya Sis, lo bisa cerita sama kita-kita kok. Siapa tahu kita bisa bantu. Lagian gak enak kan, kalo seruangan saling diem-dieman gitu." Memang benar apa yang dikatakan Virly. Aku sebetulnya ingin berbaikan dengan Bima dari kemarin. Tapi, entah kenapa pikiranku kembali melayang pada memori percakapan antara Bima dan pacarnya di mobil. Aku seperti ditampar berkali-kali dengan kenyataan yang amat menyakitkan itu. Sampai-sampai aku terus mengurungkan niat untuk meminta maaf pada Bima karena selalu terngiang hal tersebut. "Sebenernya gue sama Bima ada cekcok kecil, masalah kerjaan gitu. Sekarang gue juga lagi bingung gimana cara baikannya sama dia. Lo pada bisa bantu gue gak, biar bisa baikan sama Bima?" Aku memutuskan untuk berbohong soal masalahku dengan Bima. Aku belum sepenuhnya siap menceritakan perasaanku pada mereka. "Kalo itu aman Kak, kita siap bantu kok." Virly dan Tara menyetujui ucapan Milly. "Tapi gimana cara gue baikannya sama Bima, ya?" Aku memutar otak untuk berpikir. "Serahin aja sama gue. Gue punya ide bagus," ucap Milly. "Meyakinkan gak ide lo." "Iya, nih gue jadi ragu." Keraguanku sama seperti Virly dan Tara. Aku jadi tidak yakin dengan rencana yang Milly buat. "Kak Virly sama Kak Tara gak usah khawatir. Percaya aja sama gue." Milly seperti yakin sekali dengan rencananya. "Jadi apa rencana lo?" tanyaku. "Jadi gini ...." *** Ide gila Milly adalah menjebakku dan Bima di gudang bersama. Awalnya aku disuruh oleh Pak Indra untuk mengambil sesuatu di gudang, tiba-tiba dari arah pintu masuk terdengar suara berisik yang membuatku mau tidak mau mengecek keadaan di depan sana. Aku mendapati Bima tersungkur di lantai sambil mengaduh pelan. Ternyata anak-anak sengaja menjebakku dan Bima berdua di dalam gudang. "Lo gak apa-apa, Bim?" Aku berusaha membantu Bima untuk berdiri. Bima bangkit, kemudian duduk bersila di lantai. "Gue gak apa-apa kok." "Ayo coba berdiri dulu, kita duduk di kursi." Aku membantu Bima untuk berdiri dan membawanya ke kursi kosong di pojokan. "Duh, mereka keterlaluan banget deh, masa lo didorong-dorong gitu sampe siku lo lecet gini. Nanti gue marahin mereka, deh." "Gak usah," cegah Bima. "Apa?" "Gak usah marahin mereka. Kayaknya mereka sadar kita saling diem-dieman, makanya mereka sengaja ngunciin kita di sini supaya kita bisa ngobrol." "Lo gak marah?" Bima tersenyum, "Gue mana bisa sih Mel, marah sama lo. Yang ada lo yang diemin gue dari kemarin." "Gue juga gak marah." Aku membantah. "Masa sih?" Aku nyengir. "Kesel dikit sih, ya tapikan itu salah lo." "Iya, iya, emang salah gue, Mel. Maafin gue ya." Aku yang ditatap selembut itu oleh Bima jadi luluh. "Gue juga minta maaf. Malah jadi diemin elo. Tapi, lo juga kenapa malah diemin gue balik! Harusnya elo bisa berusaha bujuk gue dong, biar gue gak kesel lagi." "Gue kira lo butuh waktu. Karena terakhir kali di mobil itu, lo bener-bener keliatan kesel banget." Ya bagaimana aku tidak kesal mendengar percakapan sayang-sayangan Bima dengan pacarnya secara langsung? "Jadi sekarang kita baikan ya?" Aku mengangguk. "Iya." Kami saling tersenyum. Tanpa drama marah-marah, tanpa drama tangis-tangisan. Sesimpel itu pertengkaran kami selesai. "Lo akhir-akhir ini makan siang di mana? Kok gak pernah ikut gabung sama kita-kita?" Bima selalu keluar duluan setiap jam istirahat tiba, sampai-sampai aku tidak sempat bertanya tujuan pria itu karena dia terlihat buru-buru. "Sebenernya kakak gue baru balik dari London beberapa hari lalu. Gue jadi sering diminta nemenin dia makan siang karena dia gak mau keluar sendirian. Katanya kesepian kalo makan siang sendirian, jadinya ngajak gue." "Oh, kakak lo udah berapa tahun kerja di London?" Bima menggeleng. "Bukan, bukan kerja. Dia di London ikut suaminya yang asli orang sana. Ini balik karena kangen aja sama keluarga di Indonesia. Anak sama suaminya malah gak ikut, masih di London." "Oh, kakak lo udah menikah ya?" "Udah." "Gue kira masih single. Cewek kan, ya?" Bima mengangguk. "Dia mirip banget sama lo. Kayaknya kalo kalian berdua ketemu bakal nyambung banget deh obrolannya." "Oh ya?" Aku jadi penasaran seperti apa kakak Bima. Bima mengangguk. "Mau aku kenali, gak?" Aku diam sejenak, ragu. "Pacar lo udah pernah ketemu sama kakak lo atau belum?" Bima berpikir sebentar. "Emmm, kayaknya belum deh, cuma kakak gue udah kenal sama dia. Soalnya gue pernah vidcall pas lagi bareng dia." "Oh gitu. Tapi, emangnya boleh kalo gue ketemu sama kakak lo?" "Loh, kenapa enggak boleh? Justru kakak gue seneng banget kalo dapet temen ngobrol baru." Aku hanya takut nanti akan jadi pertanyaan besar kenapa yang dikenalkan Bima adalah wanita berbeda? Tapi bukannya kami hanya teman ya? Wajar kan, kalau teman dikenalkan ke anggota keluarganya yang lain? Hanya teman. "Emm, Ya udah boleh deh, kapan-kapan gue ketemu sama kakak lo." "Beneran?" Aku mengangguk. "Ya udah nanti gue jadwalin ketemun sama kakak gue ya." "Oke.". ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD