"Cieee yang berangkat bareng Anzela."ledek Bayu sambil menaik turunkan alisnya ke arah Tian yang saat ini tengah mengulum senyum.
"Apa sih lo?! Gaje deh."
"Pagi-pagi udah kenyang ya, Yan. Nggak perlu sarapan, udah lihat yang cantik-cantik bikin belajar tambah semangat."
"Ini lagi. Si Ferguso berkumis lele, "celetuk Tian asal pada Rey yang baru saja meledeknya.
"Hah apaan lo Antonio!"
"Kalian apa-apaan sih malah kaya di film berbie?!"
Tawa mereka terhenti saat Alan kembali melanjutkan langkahnya pergi dari tempat itu mendahului mereka. Dengan mata yang saling menatap bergantian, mereka mengedikkan bahu bersamaan.
"Itu MDK kenapa?"Tanya Tian mengawali pertanyaan setelh kepergian Alan yang mulai menjauh.
"Hah apaan MDK, Yan?"tanya Bayu dengan tatapan penasaran.
"Manusia Drakula Kejam."
Rey dan Bayu sontak tertawa keras. Tawa mereka pecah mengingat memang benar apa yang di katakan Tian. Alan layaknya tokoh-tokoh drakula yang bersikap dingin dan kejam.
"Si Alan kenapa? Tumben bad mood pagi-pagi kaya begini?"
"Biasa, mungkin dia habis debat sama kak Fely."
Tian menganggukan kepalanya mendengar jawaban dari Rey barusan. Kak Fely, kakak kandung Alan. Jika sudah mengenai Kak Fely, Rey, Bayu, maupun Tian tidak akan berani ikut campur.
"Kak Fely kayaknya mulai bertindak lagi sama Alan."
"Kasian itu bocah, yaudah deh biarin. Dia juga udah dewasa."
"Dewasa dari mananya, Yan?Sikap dia kayak anak kecil. Apalagi kalau ketemu sama Anzela. Udah pasti bakal kayak anak TK."
Tian menolehkan kepalanya ke arah Rey dan Bayu, melihat punggung Alan yang sudah tidak terlihat, ia berniat untuk bertemu dengan Alan agar sahabatnya itu tidak merasa kesepian.
"Ngomong- ngomong soal Anzela. Aneh dia barusan."
"Aneh gimana maksut lo, Yan?Lo jemput dia ke rumah dia ya?"
"Hah? Ya enggak lah," jawab Tian dengan cepat.
"Gue ngrasa ada yang aneh sama Anzela. Pagi ini. Soalnya tadi setiap kali gue nanya dia selalu jawab gugub."
"Perasan lo aja kalik, Yan."Celetuk Bayu acuh.
"Gue sebenernya tertarik sama cewek kayak Anzela."
Rey dan Bayu membulatkan mata mereka mendengar ucapan seorang Tian yang terkenal dewasa dan berwibawa ini.
"Gue nggak salah denger kan, Yan?Akhirnya lo jadi cowok normal. Akhirnya lo bisa tertarik ke lawan jenis."
"Aduh.."dengus Rey dengan kepala yang memanas karena di jitak keras oleh Tian.
"Pala lo. Lo kira gue apaan?Nggak tulen? Wah meragukan kejantanan gue lo," kata Tian tak terima.
"Ya kan, gue kaget aja. Untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun lo jomblo ngenes. Akhirnya lo bisa tertarik sama cewek.."kekeh Rey yang di setujui oleh Bayu.
"Gue kira, si Tian sukanya sama gue, kalau enggak ya Alan, bisa jadi lo Rey."
"k*****t lo, Bay. Gini-gini gue normal."
Tian mendengus kesal mendengar ocehan dari kedua sahabatnya ini. Memang benar, ia beberapa tahun terakhir ini tidak pernah menjalin hubungan asmara dengan siapapun. Tian terlihat jarang mengagumi atau tertarik pada seorang perempuan. Terakhir kali, Tian berpacaran dengan Vika. Teman kecil Tian yang saat ini memilih meninggalkan Tian dan pergi mencari masa depannya sendiri ke negri orang. Vika dan Tian menjalin asmara cukup lama. Dua tahun lamanya sebelum Vika menhianati hati Tian. Hal inilah yang mejadi alasan Tian tidak ingin bermain main kembali dengan yang namanya Cinta.
***
karna cinta mengajarkan kita bagaimana cara menciptakan rasa bahagia.
Dan bagaimana cara mengikhlaskan saat hati harus siap terluka.
Cinta mengajarkan bagaimana kita harus siap menghadapi manisnya gula
dan pahitnya rasa ketika cinta kita berakhir menjadi dusta.
Karna jatuh Cinta dan Sakit hati itu satu paket.Kalau nggak mau sakit hati ya jangan jatuh cinta.Tandanya, Harus siap menerima segala konsekuensi saat kita memutuskan menaruh harap dan menaruh perasaan pada orang lain.