"Eh kak, Tian."Sapa Anzela sambil memaksakan senyum canggungnya. Tangannya melambai ke arah Tian yang tersenyum manis.
Kepalanya menoleh ke belakang mobil. Memastikan tidak ada Bis Umum yang lewat. Tian kembali menoleh ke arah Anzela, membuka lebar kaca mobilnya. Rasa penasaran menghantui pikirannya. Kenapa gadis ini berdiri diam di pinggir jalan. Tanpa basa-basi, dan menuntaskan rasa penasarannya Tian menyuruh Anzela segera masuk ke dalam mobilnya.
Karena ia sadar, bagaimana pun saat ini posisi mobilnya salah. Ia berhenti tepat di lampu merah. Dan saat ini Lampu Lalu Lintas itu sudah berwarna hijau, klakson dari mobil-mobil di belakangnya sudah mulai bersautan.
"Naik, Zel. Cepetan naik mobil gue!"
"Hah?Tapi, kak?"tanya Anzela tak yakin dengan tawaran Tian.
"Cepetan, Anzela. Naik ke mobil gue!"
Tanpa berfikir panjang lagi, Anzela segera masuk ke dalam mobil hitam Tian. Beberapa detik kemudian, Tian melajukan mobilnya melepas kemacetan mendadak yang di buatnya. Menghela napas lega, takut di maki pengemudi lain akhirnya Tian bisa mengatasi kegaduhan yang ia buat sendiri.
"Tapi, kak. Apa enggak ngrepotin?"Tanya Anzela takut-takut sambil memasang sabuk pengaman.
"Nggak, Zel. Udah biasa aja sama gue mah.."
Anzela tersenyum kecil. Tangan yang berada di pangkuannya bergerak saling bertautan dan meremas jari telunjuknya sendiri. Rasanya masih sangat aneh dan Gugun, entah karena Alan atau karena duduk berdua di mobil bersama cowok yang ia suka.
"Lo kenapa di pinggir jalan gitu, Zel? Rumah lo bukan daerah sini kan?"
Pertanyaan itu berhasil mengalihkan fokusnya. Ia sendiri juga tidak tau bagaimana situasi pagi ini? Ada apa dengan Alan? Ada apa dengan dirinya? Dan ada apa dengan mereka saat ini.
Dengan gelengan kepala, ia menjawab pertanyaan Tian. Tidak ingin menjawab lebih, Anzela memalingkan wajahnya ke samping. Melihat bahu jalan di balik kaca mobil sepertinya lebih baik. Sekaligus menghindari pertanyaan Tian yang pastinya semakin menjadi.
"Terus? Kenapa bisa di situ?" sepertinya Tian tidak berhenti di situ. Ia tidak puas dengan jawaban yang di beri Anzela.
"Eheheh Anu, tadi tuh jalan sampe persimpangan. Nyari Bis biar lebih deket ke arah Halte depan lampu merah tadi," dustanya. Untung Anzela cukup lihai dalam hal bohong berbohong, bukan karena ia sering berbohong. Tapi, karena otaknya yang lancar untuk mencari jalan pintas sekaligus jawaban spontan di situasi seperti ini.
Tian terdiam, Anzela menarik napas lega. Pikirnya Tian akan percaya dengan alasannya barusan, padahal cowok itu sedang mencerna jawaban dari Anzela yang menurutnya tidak masuk akal. Dengan mata yang fokus pada jalanan yang padat dan kedua tangan yang sibuk menyetir Tian kembali bertanya pada Anzela.
"Lo serius, Zel?Ngapain lo jalan ke persimpangan?"
Rupanya usaha Anzela sia-sia. Tian bukan Cowok yang gampang di bodohi ternyata. Oke, Anzela akan menjawab pertanyaan itu satu- persatu.
"Tadi mau nunggu bis."
"Nunggu bis?Bukannya sebelum persimpangan ada Halte yang jauh lebih deket dari rumah lo ya?"
Skak matt
Anzela menelan ludahnya susah payah. Tangangnya dengan kuat meremas roknya. Kali ini ia harus kembali memutar otaknya untuk mencari jawaban yang lebih masuk akal supaya Tian lebih percaya padanya.
"Iya, tadi mau ke halte yang itu cuman tadi bareng sama ibuk yang mau belanja ke pasar, Kak. Trus beda arah makannya Zela turun di persimpangan,"jawab Anzela sambil mengatur nafasnya. Semoga saja alasannya kali ini dapat masuk akal.
"Owalah gitu,"kata Tian sambil memanggutkan kepalanya mendengar penjelasan dari Anzela.
"Anzela,"
"Hah?iya, apa?"jawab Anzela kaget dengan panggilan Tian.
"Kenapa?Lo barusan ngalamun ya?"
Demi apapun hati Anzela saat ini sangat tidak karuan. Desiran aneh membuat jantungnya berdegub tak karuan. Tiba-tiba pasokan udara di dalam mobil Tian semakin berkurang. Seakan tak ingin di hirup oleh gadis cantik berkulit langsat ini. Oh God bagaimana ini? Jatuh Cinta ternyata menambah penyakit dalam tubuhku. Lama-lama aku bisa sakit jantung kalo begini.
"Enggak. Aku enggak ngalamun, Kak."
"Gue kira lo ngalamun. Mikirin sesuatu. Ada masalah ya, Zel?"
"Enggak kok, Kak.."jawab Anzela berbohong.
"Zelaaa,"
"iya?"
"kenapa lo diem aja?Lo nggak nyaman ya di mobil gue?"
"Hah?Enggak lah, Kak. Zela nyaman kok."
"Lo lagi mikirin sesuatu ya?"tanya Tian penuh selidik.
"Enggak kok, Kak.." jawab Anzela lagi.
"Zela, kalau ada masalah apa apa bilang sama gue ya. Ataupun menyangkut masalah sahabat gue."
"Maksutnya, Kak?"
"Gue tau lo sama Alan nggak pernah akur. Gue takut Alan semena mena sama lo. Kalau sampai itu terjadi. Bilang sama gue. Jangan sungkan buat cerita."
Menahan senyum, rasanya sangat menyenangkan sekaligus bahagia. Bahkan perutnya mendadak sakit saat jantungnya berpacu cepat. Jatuh cinta membuat tubuhnya menerima respon yang tidak biasa. Mendengar ucapan Tian, Anzela merasa lega. Cowok itu peduli padanya. Bahkan, berusaha melindunginya dari cowok s****n yang biasa di sebut Alan itu. Oh God Anzela tidak tau harus bagaimana menahan teriak yang sudah berada di ujung tenggorokannya. Andai saat ini ia bersama Ibu, pasti Zela sudah berjoget kegirangan.
Tak berapa lama. Mobil yang mereka tumpangi telah sampai di halaman Sekolah. Tian memarkirkan mobil hitam miliknya sejajar dengan mobil putih milik sahabatnya.
Anzela melepas sabuk pengaman yang ia pakai. Kemudian turun dari mobil Tian, di iringi sang pemilik mobil.
"Thanks ya, Kak. Buat tumpangannya. Maaf udah ngrepotin kakak,"kata Anzela sambil tersenyum ke arah Tian.
"Santai aja, Zel.."jawab Tian tulus sambil memainkan kunci mobilnya.
Anzela melihat tiga orang cowok melangkah ke arahnya di iringi tatapan kagum dari banyak siswa siswi SMA Bhineka. Kali ini nyalinya agak ciut. Dilihat banyak orang dengan tubuh mungilnya di kerumunan cowok-cowok tampan dan populer ini membuatnya takut. Bukan takut karena tubuhnya kecil, tapi ia takut menjadi bahan gosip dan cacian siswi cewek yang ingin berada di posisinya saat ini.
Sebelum ketiga cowok itu benar-benar sampai di hadapannya. Anzela memutuskan untuk segera pamit pada Tian.
"Kak, gue pamit ke kelas dulu ya. Gue lupa ada tugas Matematika yang belom gue kerjain,"kata Anzela sambil menyeringai memperlihatkan gigi putihnya.
Dengan sebelah alis yang terangkat, menatap bingung ke arah Anzela akhirnya ia menganggukan kepalanya juga.
"Iya. Hati-hati Anzela."
"Sekali lagi. Thanks ya kak, Tian."
Anzela tersenyum ke arah Tian sebelum benar-baner pergi dari hadapan cowok itu. Tak berapa lama Rey, Bayu, dan Alan datang.
"Cieee yang berangkat bareng Anzela."
.........