"s**l badan gue jadi gatel-gatel begini," gerutu Alan dengan kedua tangannya yang masih fokus menyetir.
"Gapapa kali, sekali-sekali nyetir sambil ada nuansa gatel-gatel."
"Gue alergi s**u Kambing. Kenapa tadi lo nggak bilang itu s**u Kambing? Mau nyiksa gue ya lo?!"
"Dih siapa yang tau kalau lo alergian. Makannya jangan buas jadi orang. Lagian nih yah, gue juga engga nyuruh lo minum s**u nya kan?"
"Tapi tadi lo ledek gue ga doyan s**u kaya gitu."
"Dih! Emang orang kaya pemilih. Apalagi orang kayak lo. Mana doyan s**u murahan yang biasa gue minum."
"a***y ya lo. Udah baik gue jemput. Nyinyir aja jadi perempuan."
Anzela melipat kedua tangannya di depan d**a sambil membuang muka ke arah jendela mobil. Tidak ingin melanjutkan perdebatan yang tidak ada habisnya, gadis itu memilih diam. Berbeda dengan Alan, dengan salah satu tangan tengah sibuk menggaruk badannya yang terasa gatal. Ditambah sebelah tangannya lagi yang ia gunakan untuk memegang setir mobil.
"Gue juga engga minta di jemput sama lo."
Alan menghentikan mobilnya mendadak, membuat Anzela terpekik dengan kening yang hampir terpentok dasbor mobil. Dengan tatapan kesal melirik ke arah Alan. Tanpa memperdulikan tatapan gadis di sebelahnya seolah tidak terjadi apa-apa, padahal tadi Alan memang sengaja menginjak pedal rem kuat- kuat agar Anzela melayangkan protes padanya, dan itu terbukti berhasil.
Lampu lalulintas berwarna merah, garis zebra cross di lewati beberapa orang yang menyebrang jalan. Sedang, Alan menarik napasnya dan membuangnya kesal.
"Turun."
Anzela menatap tak percaya ke arah Alan. Perintah cowok di sampingnya sungguh membuat hatinya terkejut.
Tanpa menoleh ke arah Anzela, Alan masih berusaha meredam emosi akibat gatal dan kesal dengan ucapan-ucapan Anzela pagi ini. Ia hanya berusaha agar Anzela tidak takut dengan emosinya yang sebentar lagi akan lepas.
"Turun,"kata Alan sekali lagi membuat Anzela menganggukan kepalanya paham.
Dari pada ia tetap di sini. Harga dirinya akan semakin terinjak injak oleh cowok yang berubah dingin di dekatnya. Siapa yang berani merendahkan seorang wanita seperti ini. Menyuruh seorang wanita berseragam putih abu-abu turun di tengah jalan. Bahkan mereka belum sampai di tujuan. Tapi, kali ini perintah Alan memang benar-benar harus ia lakukan.
Anzela tidak dapat menahan mata merahnya kali ini. Baginya ini adalah suatu penghinaan yang di lakukan cowok gila di sampingnya. Ia tak mau juga berlama-lama berada satu mobil dengan Alan.
Dengan segera ia turun dari mobil putih itu. Matanya memanas merasakan penghinaan yang dilakukan cowok itu.Sebelum ia benar-benar membuka pintu mobil Anzela menoleh sekilas ke arah Alan sambil berucap,"lain kali lo nggak perlu jemput gue cuma buat basa-basi."
Anzela menyeka matanya yang sudah basah. Hatinya terasa sakit. Cowok yang bersikap manis di hadapan orang tuanya kini tega menelantarkan dia di tengah jalan menuju sekolah.
Mobil Alan melaju dengan kecepatan penuh menyaingi mobil-mobil yang juga berlalu di sana. Anzela berteriak kencang tanpa perduli tatapan aneh di sekitarnya.
"b******k lo Alan!Gue benci lo!"teriak Anzela membuat beberapa orang di sekitarnya menatapnya heran.
Anzela terdiam masih berada pada posisi semula. Ia tak bergerak apalagi berpindah tempat. Ia masih bingung dengan apa yang terjadi beberapa menit yang lalu, apa yang ia lakukan sampai-sampai membuat Alan semarah itu?
Tak lama dari itu lamunannya buyar ketika melihat mobil hitam berhenti di hadapannya.
Anzela agak bergidik ngeri, menoleh ke kanan dan ke kiri. Memastikan banyak orang di sekitarnya. Aman jika nanti ia berteriak meminta bantuan.
Namun, tak lama dari itu pemilik mobil membuka sedikit kaca mobil hingga memperlihatkan celah kecil dengan seorang pengemudi mobil.
"Zelaaaaaaa,"