DIANA DAN SIKAP KERAS KEPALANYA

1640 Words
“Apa? Kamu beneran berhubungan badan dengan Doni, Di?” Inggrid terkejut mendengar pengakuan Diana. Jadi ini yang dimaksud Diana melebihi ekspektasi mereka? Inggrid tidak menyangka Diana akan seberani ini. Tadinya rencana mereka hanya sebatas membuat Doni tidak sadarkan diri dan bilang bahwa mereka tidur bersama. Mereka akan menjerat Doni agar mau menikahi Diana karena kondisi itu. Tadinya obat yang mereka rencanakan untuk di gunakan adalah obat bius biasa, tapi siapa sangka Diana malah mengubahnya menjadi obat perangsang yang membuat rencana mereka berhasil melebihi ekspektasi. Diana mengangguk malu-malu sebagai bentuk pembenaran. “Aku melakukan ini demi rencana kita, Tan. Doni nggak sebodoh itu sampai bisa ditipu hanya dengan pura-pura tidur bersama. Apalagi dengan cintanya yang sebesar itu ke Anggun, Doni hanya akan mengabaikan aku kalau nggak ada bukti real-nya.” “Dan kalo kamu hamil gimana? Kamu perempuan yang belum menikah. Apa kata orang kalo tahu kamu hamil di luar nikah? Nama baik kamu pasti tercoreng.” “Tante nggak suka kalo aku hamil anak Doni?” Diana bertanya dengan memasang ekspresi terluka. “Tentu saja Tante akan senang, Di. Punya cucu adalah keinginan terbesar Tante. Tapi Tante memikirkan kamu, Di. Kamu mungkin akan dihujat karena ini.” Diana menggenggam tangan Tante Inggrid dan meremasnya agak kuat untuk meyakinkan. “Aku nggak apa-apa, Tan. Beneran. Kita hanya perlu mengatur agar Doni bersedia bertanggungjawab ketika aku hamil. Orang-orang nggak akan menghujat aku karena pada akhirnya aku punya suami.” “....” “Aku melakukan ini supaya kita nggak perlu khawatir kalau-kalau ada sesuatu yang nggak sesuai rencana. Kami benar-benar tidur bersama dan aku bisa saja hamil. Itu fakta. Doni nggak akan bisa mengelak lagi kalau kita menuntut tanggung jawab dia.” Dalam benaknya Inggrid membenarkan perkataan Diana. Anaknya bukan orang bodoh. Dia pasti curiga karena belakangan ini ada banyak orang yang mendesaknya agar menikah lagi. Dan kejadian ini bisa dia anggap sebagai jebakan agar perintah menikah lagi segera dilaksanakan. Mereka sudah sejauh ini, jadi Inggrid tidak mau rencananya gagal. “Terus, gimana reaksi Doni pas dia bangun dan sadar keadaannya?” “Doni marah, Tan. Marah luar biasa. Tapi Tante tenang aja karena intinya aku berhasil. Kemarahan Doni bisa diurus belakangan.” Seketika perasaan tidak nyaman menyeruak. Bagaimana jadinya kalau Doni tahu dirinya yang merupakan ibunya ikut campur dalam urusan ini? “Doni... Dia nggak tahu kan kalo ini salah satu rencana Tante?” “Aku minta maaf, Tan.” Dan wajah Inggrid langsung muram mendengar permintaan maaf Diana. Dia sudah tahu jawabannya. Terlintas wajah anak laki-lakinya yang memancarkan raut kemarahan yang luar biasa ke arahnya. Kenapa Diana tidak bisa berhati-hati sih? Pikir Inggrid dengan muram. “.... Doni marah dan memprovokasi aku, Tan. Dan akhirnya ya begitu aja. Aku nggak sengaja menyebut nama Tante. Jadi aku pastikan Doni sudah tahu kalau ini rencana kita berdua.” Diana melihat ekspresi masam di wajah Tante Inggrid, tapi buru-buru dia menggenggam tangannya dan memasang ekspresi memohon. “Tante, maafin aku karena ceroboh, tapi aku juga terluka. Doni memaki aku terus-terusan, dan aku juga sempat hilang kesabaran.” Inggrid menghela napas. Ditatapnya Diana dengan tatapan yang mencoba untuk memahami situasi ini. “Ya udah, nggak masalah. Toh pada akhirnya Doni juga akan tahu semuanya. Ini cuma masalah waktu.” Jawab Inggrid dengan nada bijak. “Makasih ya, Tante,” ujar Diana lalu memeluk perempuan yang sebentar lagi akan menjadi mertuanya. “Tapi... Tante akan bantuin aku kan? Tante nggak akan meninggalkan aku hanya karena mengubah rencana ini di detik-detik terakhir tanpa berdiskusi dengan Tante kan?” “Tentu saja, Diana. Tante nggak akan meninggalkan kamu karena kamu melakukannya untuk rencana kita. Kamu tenang saja, Tante akan memastikan Doni tahu perasaan kamu dan kalian bisa bersama setelah semua hal buruk yang menimpa kamu.” Toh semuanya juga sudah terjadi, pikir Inggrid. “Makasih, Tante...” “Tentu saja, sayang...” “Kalian bener-bener menjijikkan.” Suara itu membuat dua perempuan beda usia itu menatap ke sumber suara. Mata mereka berdua kompak membulat saat melihat pria yang mereka jebak kemarin ada di rumah ini dan mendengar rencana mereka. “Doni, kapan kamu dateng? Dan sejak kapan kamu mendengar obrolan Mama dan Diana?” Doni mendekat ke arah Mamanya dengan tubuh lunglai. Dia masih tak percaya kalau pendengarannya mendengar rencana menjijikkan yang disusun Mamanya dan Diana. “Kenapa aku nggak boleh denger? Karena kalian ingin lebih mudah menipu aku?” Doni menyeringai. “Sekali lagi aku katakan, kalian benar-benar menjijikkan.” Kata Doni dengan penuh penekanan. “Doni, jaga ucapan kamu!” Doni mendongakkan dagunya. “Kenapa? Mama tersinggung karena aku berbicara seperti ini ke Mama? Kalau Mama tersinggung hanya karena ini, apalagi aku yang hidupnya akan kalian hancurkan! Aku berhak memaki kalian sesukaku!!” bentak Doni. “....” “Kemaren aku memaki Mama sialan. Aku menyesal setelahnya karena Mama adalah Mama aku. Mama adalah perempuan yang melahirkan aku. Karena itu aku datang ke sini hari ini. Aku yakin ada kesalahpahaman di sini. Tapi sepertinya tidak ada kesalahpahaman. Semuanya nyata. Rencana Mama yang ingin memisahkan aku dan Anggun nyata. Dan aku benar-benar nggak menyangka Mama bisa melakukan ini ke aku –anak laki-laki Mama sendiri!” Doni melupakan emosinya detik itu juga. Niatnya datang ke sini adalah untuk kebaikan. Dia ingin mengklarifikasi semuanya. Tapi siapa sangka dia malah mendengar rencana busuk yang akan mengorbankan rumah tangganya. Persetan dengan semua etika pada Mamanya yang sudah hilang tak berbekas. Yang ada hanya kemarahan. “Kenapa Mama tega mau memanipulasi aku seperti ini, Ma? Aku dan Anggun baik-baik saja. Kami saling mencintai. Kenapa Mama mengganggunya?” kata Doni dengan frustasi. “Mama nggak memanipulasi apapun, Doni. Kamu benar-benar tidur dengan Diana dan dia punya kesempatan untuk hamil anak kamu. Semua itu nyata.” Inggrid masih berusaha berkilah. Doni muak mendengarnya. “Dan semua itu terjadi karena Mama!” bentak Doni. “Mama juga yang sudah mengubah perempuan sebaik Diana menjadi perempuan yang sangat menjijikkan. Mama menghancurkan semua orang. Bahkan anak laki-laki Mama sekali pun.” Merasa tak rela disudutkan seperti ini, Inggrid berujar dengan lantang, “Diana setuju melakukan ini karena dia mencintai kamu. Kenapa kamu nggak bisa melihat sisi itu dengan kepala dingin?” “Mana bisa aku berfikir dengan dingin di saat kalian bertindak sejauh ini? Dan berapa kali sih harus kukatakan kalau aku hanya mencintai Anggun aja? Kalian seharusnya menghargai keputusan aku!” “....” “Cinta Diana itu salah! Mama sebagai orang yang lebih berpengalaman dalam biduk rumah tangga pasti memahaminya, tapi kenapa Mama masih mendukungnya? Mama menghancurkan Anggun dan juga Diana. Nurani Mama sebagai perempuan dan seorang istri itu di mana?!” “Kenapa kamu nggak bisa membuka mata kamu sih, Don? Anggun itu nggak bisa ngasih kamu anak! Kamu seharusnya menerima Diana karena dia yang sesempurna ini mencintai kamu.” Doni memijat pelipisnya karena berdenyut dengan nyeri. Membicarakan tentang cinta dan anak dengan Mamanya tidak akan pernah ada akhirnya. Akan selalu ada jawaban yang membuat kepala Doni serasa mendidih. Intinya Mamanya memang sudah tidak ingin Anggun menjadi menantunya. Dan dia sudah menemukan perempuan pengganti Anggun, yaitu Diana. Tapi Doni tidak menemukan apapun dalam diri Diana yang bisa menggantikan posisi Anggun sebagai istrinya. Anggun tak akan tergantikan, yakin Doni dalam hatinya. Lelah berbicara dengan Mamanya karena tahu tidak akan ada akhirnya, Doni menatap Diana. Siapa tahu perempuan itu masih punya sisi baiknya sebelum diracuni Mamanya dengan ide konyol ini. “Diana, kenapa kamu melakukan ini? Kamu perempuan baik, Di. Aku percaya kamu nggak sejahat ini. Berhenti, oke? Aku bahagia dengan Anggun.” Doni memberitahu dengan suara yang berubah sedikit halus. Dia tidak bisa membujuk Diana dengan emosi yang meluap-luap. Bagaimana pun Diana juga dihasut oleh Mamanya. Pikirannya mungkin akan semakin kacau kalau Doni terus menyudutkannya sebagai penjahat. “Kenapa, Don? Bilang ke aku apa kurangnya aku di mata kamu. Aku akan berubah. Aku mencintai kamu, Don.” Ini lagi.... Doni memejamkan matanya. “Ini bukan masalah kekurangan kamu apa, tapi karena kamu nggak pernah keliatan di mata aku, Di. Aku hanya mampu melihat Anggun, baik itu kelebihan dan kekurangannya. Dan aku menerima apapun itu tentang Anggun.” “Bilang sama aku, aku harus gimana supaya kamu mau menerima aku, Don? Aku janji kalo aku mau berubah. Aku akan berubah.” “Kamu seharusnya nggak berubah hanya karena laki-laki, Diana. Ini salah. Kamu nggak akan mendapatkan apapun kalau menurunkan standar kamu hanya demi laki-laki. Cari laki-laki yang memang menghargai dan menerima standar kamu. Aku nggak bisa. Bahkan lebih tepatnya aku nggak mau melakukannya. Aku hanya mencintai Anggun, Di.” “....” “Kamu cantik, Di. Kamu bisa cari pria yang lebih baik dari aku. Dan tentunya yang single. Jangan jadi orang yang menghancurkan kebahagiaan orang lain hanya karena kamu pengen bahagia juga. Itu mungkin adil buat kamu, tapi itu jahat banget bagi orang lain.” “Tapi aku cuma mau kamu, Don.” Sekarang Doni tahu kalau ini bukan hanya Mamanya yang sudah berubah. Diana juga sudah berubah. Bukan Mamanya yang terlalu pintar untuk mempengaruhi Diana menjadi orang jahat, tapi memang Diana sudah berniat menjadi orang jahat. Diana dan Mamanya sama saja. Dan Doni kecewa karena dua orang yang dulunya begitu dia hargai sudah berubah menjadi orang yang sangat rendah di matanya. “Dengarkan aku baik-baik...” Doni berujar dengan pelan namun mantap. “Sebaiknya kalian berhenti dari semua rencana jahat kalian karena aku bener-bener nggak akan membiarkannya. Jangan pernah menggunakan ini untuk mengancam rumah tangga aku dan Anggun. Kalau kalian melakukannya, aku benar-benar akan melakukan hal yang nggak akan kalian duga.” “....” “... Jangan pernah berfikir aku hanya menggertak, karena aku benat-benar akan melakukannya. Untuk orang jahat seperti kalian, kenapa aku harus takut mengotori tangan aku?” “....” “.... dan untuk kamu, Di, pergilah sebelum terluka. Kamu hanya akan kecewa karena sampai kapan pun hanya Anggun yang akan menempati hati aku.” “Tapi Diana bisa hamil, Don!” Mamanya membentak, dan Doni mengangkat tangannya tanda tak peduli. “Diana bisa tinggal di Singapura kalau bersikeras dengan janinnya, atau dia bisa tinggal di Indonesia dengan menggugurkan janinnya. Dia perlu melakukan itu agar nggak dihujat warga karena kelakuan buruknya. Dan aku?” Doni mengangkat bahunya. “Apapun yang terjadi pada Diana, aku tetap nggak akan peduli.” “Doni, kamu benar-benar—” Doni menyela perkataan Mamanya dengan mengangkat tangannya dengan tegas. Dia tidak mau mendengar apapun yang Mamanya katakan lagi. “Mama bilang di pernikahan kami bukan hanya tentang aku dan Anggun aja. Tapi dengan berat hati aku katakan kalau Mama salah,” Doni menatap Mamanya dengan miris. “Di pernikahan kami memang hanya ada aku dan Anggun aja. Mama aja yang kurang kerjaan dan berusaha masuk. Keluarga Anggun nggak ada yang merusuhi kami meski pun kami nggak punya anak. Mereka mendukung kami. Mereka sadar karena kami sudah menikah, dan itu urusan kami. Nggak kayak Mama.” “....” “Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, aku malu punya Mama seperti Mama.” Doni pergi dengan ekpsresi terluka. Begitu juga dengan Sang Ibu yang mengepalkan tangannya karena marah. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD