Anggun dan Doni sedang mengobrol, tapi kemudian tawa renyah Anggun membuat kening Doni berkerut.
“Kamu kenapa ketawa kayak gitu?” tanyanya dengan penasaran.
“Mas, kalo aku pake baju kayak perempuan itu ke kondangan, kira-kira reaksi kamu bakal kayak mana?” jawab Anggun sambil menunjuk ke salah satu titik yang dilihatnya dengan telunjuk. Mau tak mau Doni pun melihatnya.
Seketika semua dosa yang dilakukannya belakangan ini menyeruak. Mata Doni melebar. Kenapa Diana ada di kondangan ini juga? Batin Doni dengan gelisah.
Dan meskipun benaknya diisi dengan kegelisahan, Doni berusaha tersenyum untuk menatap istrinya. Kemudian dia berujar dengan ringan, “Kalo di rumah buat aku aja nggak masalah, tapi kalo sampe keluar,” Doni menggeleng dramatis yang membuat Anggun semakin melebarkan tawanya. “Awas aja kamu make pakaian kayak gitu. Nggak akan aku izinin kamu ngelewati pintu sejengkal pun.”
Anggun tahu kalau itu bukan hanya sekedar ancaman semu. Itu nyata. Suaminya memang pencemburu yang tak tertolong. Jadi jangan coba-coba melakukannya hanya untuk sekedar membuat Doni cemburu atau dia akan menyesal setelahnya.
“Iya, iya. Nggak bakal juga kok aku pake-pake kayak gitu. Lagian aku juga nggak punya yang modelnya begituan.”
“Meskipun punya, jangan pernah berfikiran make itu di luar rumah.” Ulang Doni dengan tegas.
“Iya, iya...” kata Anggun sambil menoel-noel pipi suaminya yang mulai menunjukkan raut cemberut jengkel. Suaminya mulai merajuk, pikir Anggun.
“Aku ke toilet dulu ya, jangan ke mana-mana kamu.” Kata Doni setelah dirasa aman untuk meninggalkan istrinya untuk mengurusi sesuatu yang lain.
“Oke, Mas. Nanti pas balik jangan ngambek lagi ya.” Kata Anggun dengan kedipan mata yang membuat Doni mau tak mau terkekeh. Pria itu mengusap puncak kepala Anggun dan pergi sesegera mungkin setelahnya.
Doni berjalan pelan, tapi matanya mengawasi sekitar. Dan ketika mengawasi Diana, mata mereka bertemu. Doni memasang ekspresi muram meski Diana di seberang sana menampilkan senyum yang mempesona. Doni harus mengeraskan hatinya agar rumah tangganya tetap utuh.
Di sisi lain, Diana pun menyadari kalau Doni meninggalkan Anggun untuk melakukan sesuatu. Dan sesuatu itu, pasti berhubungan dengannya. Bukan maksud terlalu percaya diri, tapi Diana mampu menilainya dari tatapan mereka yang sempat bertemu beberapa detik. Tidak ada kata-kata yang jelas, tapi Diana tahu kalau Doni ingin bertemu dengannya dan berbicara dengannya.
Dengan sikap elegan yang sempurna dia meninggalkan ruangan resepsi. Tidak ada seorang pun yang sadar kalau dia akan bertemu diam-diam dengan pria yang sudah beristri. Sesampainya di luar, dia melihat Doni bersandar di salah satu dinding. Pria itu langsung beranjak kala melihat dirinya keluar dan dari situ Diana tahu kalau Doni memang menunggunya. Senyum tipis terbit di wajah cantik Diana yang malam ini dipoles dengan make up bold yang sempurna.
Diana mengikuti Doni secara halus. Tidak boleh ada yang menyadari. Siapa tahu mereka akan memadu kasih secara singkat dan bisa berantakan kalau ada yang memergokinya. Diana masih setia mengikuti Doni, sampai akhirnya Doni membuka pintu yang mengarah ke tangga darurat. Dia mengamati keadaan terlebih dahulu dan setelah aman dia langsung masuk.
Doni berdiri tak jauh dari situ. Pria itu memunggunginya dengan, tapi dari caranya berkacak pinggang, Diana tahu kalau Doni sedang sangat marah. Dan ketika pria itu berbalik, terlihatlah ekspresi suram yang menakutkan. Tapi bukan Diana namanya kalau langsung beringsut ketakutan. Alih-alih ketakutan, Diana justru semakin menyunggingkan senyumnya. Di detik inilah Doni tahu kalau lebih dari sekedar berbahaya untuk dirinya.
“Kamu bener-bener nggak punya rasa malu, Diana.” Kata Doni sambil mendengus keras-keras. Dia berbalik dan enggan menatap perempuan itu lagi. “Bisa-bisanya kamu dateng ke resepsi pernikahan yang aku dan Anggun datengin?”
“Kenapa aku harus malu, Don? Aku juga diundang ke resepsi ini lho.” Kata Diana tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Doni memalingkan wajahnya karena muak mendengar jawaban Diana. “Kamu bener-bener udah berubah, Di. Kamu bukan Diana yang aku kenal lagi. Dan sejujurnya aku sangat-sangat menyesal karena sudah bertemu kamu lagi.” Doni tercekat. Perasaan sesak langsung melingkupi dadanya. “Seharusnya aku nggak perlu manggil kamu di hotel. Bahkan seharusnya kita nggak usah kenal aja. Itu awal mula dari semua kekacauan ini.”
“Don, bukan kalimat ini yang pengen aku dengar dari bibir kamu. Aku menjadi seperti ini tuh karena kamu. Demi kamu aku berubah menjadi perempuan b******k, jadi setidaknya jangan berbicara seperti itu ke aku.”
“Terus kamu pengen denger kalimat yang kayak mana, Di? Kalimat manis? Jangan mimpi, Diana.” Kata Doni berujar sinis. “Sampai kapanpun hanya kata-kata kasar yang pantas untuk kamu.”
Diana terkekeh miris karena sikap Doni yang tidak berubah sedikit pun padanya. Dia tahu kalau tindakannya sangatlah buruk. Oleh karena itu dia sudah mempersiapkan dirinya untuk menerima semua hujatan. Tidak masalah, selama Doni akan berakhir dalam pelukannya.
“Kenapa kamu seperti ini ke aku, Don? Aku tuh mencintai kamu dari dulu sampe sekarang. Aku udah berjuang untuk melupakan kamu di Singapura, tapi sulit. Dan ini satu-satunya perjuangan yang bisa aku lakukan—”
“Dan apa aku meminta untuk kamu perjuangkan, Diana? Nggak pernah.” Potong Doni dengan cepat.
Diana menggigit bibirnya kuat-kuat untuk menekan luka yang menggores hatinya dengan cepat.
“... Yang kamu perjuangkan itu diri kamu sendiri. Bukan aku atau cinta yang kamu agung-agungkan. Kamu egois.”
“Kamu menganggap aku egois, tapi aku merasa ini semua pantas untuk aku, Don. Aku nggak punya apa-apa atau siapa pun, tapi aku kehilangan banyak hal. Lalu kamu pikir ini adil untuk aku?” Diana menjeda dengan emosi. “Nenek selalu bilang kalau akan ada waktunya keadilan datang ke aku. Dan aku rasa inilah waktunya. Ini hidup aku, jadi aku harus bahagia. Dan hanya bersama kamu maka aku akan bahagia. Inilah adil yang aku mau, Don.”
“Kalau kamu bilang karena ini hidup kamu, lalu apa kamu pikir aku nggak hidup? Aku juga hidup, Di. Dan aku cuma mau bahagianya sama Anggun. Aku nggak menginginkan kamu sama sekali.” Doni menyuarakan pendapatnya dengan emosi. “Dan sekali lagi aku tegaskan, hidup kamu mungkin bahagia, tapi kamu menghancurkan hidup orang lain. Kamu nggak boleh hidup seperti ini, Diana.”
“Diem, Don. Aku nggak mau denger kalimat kamu.” Diana berujar dengan menutupi kedua telinganya. Dia memalingkan wajahnya karena tidak mau menatap wajah pria yang baru saja menasehatinya. Doni persis seperti neneknya dan dia membenci fakta itu. Mereka berdua tidak bisa membiarkan hidup Diana bahagia.
Doni memijat pelipisnya yang berdenyut. Diana sudah bukan orang baik yang dikenalnya, jadi apapun yang dia katakan, entah itu untuk tujuan baik atau penghinaan, semua itu tidak akan tersampaikan dengan baik.
“Aku nggak ngerti dengan jalan pikiran kamu, Di. Bahkan sampai kapan pun aku nggak akan mau mengerti.” Doni berujar. “Faktanya, kamu ingin menghancurkan rumah tangga aku dengan Anggun dan itu mengecewakan. Aku jijik sama kamu.”
Doni akan meninggalkan Diana begitu saja, tapi perempuan itu mencengkeram pergelangan tangannya. Tanpa izin atau rasa risih sedikit pun Diana langsung memeluk Doni. Dia menyandarkan kepalanya ke punggung lebar Doni yang sangat hangat. Doni berusaha menepis secara halus, tapi Diana terlalu keras kepala.
Puas dengan punggung Doni, Diana berjalan ke depan pria itu. Dia menatap Doni lekat-lekat dalam jarak yang dia buat sedekat mungkin.
“Don, jangan seperti ini ke aku. Lihat aku! Apa kurangnya aku? Ngomong dan aku akan menjadi seperti yang kamu mau.” Diana mendongak untuk menatap mata kelam pria yang dicintainya. Kemudian dia melanjutkan, “Aku nggak buruk-buruk banget kan? Bahkan hari itu pas kita having s*x, kamu pun menikmatinya. Kamu nyaman sama aku, Don.”
“Apa kamu pikir aku nggak tahu? Kamu pakai obat yang menjijikkan, Diana. Semuanya palsu. Bahkan cinta kamu ke aku pun palsu!” kata Doni sambil menepis Diana dengan kasar.
“Cinta aku ke kamu nggak palsu, Don! Semua itu nyata!” jawab Diana dengan tangan terkepal emosi.
“Itu bukan cinta, Diana! Itu keegoisan kamu!!”
Keduanya bertatapan dengan emosi yang menyala-nyala.
“Bagi kamu itu keegoisan semata, tapi bagi aku, itu cinta, Don. Aku mencintai kamu dengan sepenuh hati. Dari dulu sampai sekarang,” Diana berujar dengan mata yang mulai berair. Tubuhnya tidak tergores sedikit pun, tapi hatinya terluka luar biasa. “Terserah apa kata kamu, tapi nyatanya kita sudah berhubungan intim. Aku bisa hamil tanpa bisa kamu cegah.”
“Dan aku nggak peduli, Diana. Entah kamu mau pergi ke Singapura untuk merawat bayi itu atau tetap di sini tapi menggugurkannya –aku sama sekali nggak peduli.” Doni menjawab dan hendak pergi. Tapi Diana kembali memeluk Doni dari depan untuk menahan kepergiannya.
“Don, jangan seperti ini. Ini anak kamu, Don. Kenapa kamu mau merelakan anak ini cuma demi Anggun yang mandul?!” Diana berteriak frustasi. Sudah tak dipedulikan lagi kalau di luar ada orang yang mendengarnya. “Dari aku, kamu bisa mendapatkan anak. Sebanyak apapun yang kamu mau. Sedangkan dari Anggun? Kamu nggak akan mendapatkan apapun!”
“Dan bukankah aku sudah sering sekali bilang kalo ini bukan tentang anak? Sekali lagi aku tegaskan, aku mencintai Anggun dengan sepenuh hati. Bukan karena dia bisa atau nggak bisa memberikan aku anak, tapi karena dia Anggun. Aku cuma mau Anggun, bukan kamu atau pun anak kamu itu!”
Diana berdiri di depan Doni. Dari matanya terpancar sebuah kekecewaan. Perempuan itu mengusap pipi Doni lalu merambat ke dadanya. Diana sudah kehabisan ide untuk memprovokasi Doni. Keteguhan hati Doni begitu luar biasa ke Anggun dan seketika perasaan cemburu menyerangnya. Dia merasa lebih pantas dari Anggun untuk memiliki pria sesetia Doni. Dia jauh lebih baik dari Anggun, dari sudut pandang mana pun.
Doni melihat ekspresi sedih di wajah Diana, tapi Doni menegaskan egonya karena tidak mau tersentuh sedikit pun. Diana sudah berubah menjadi orang jahat sehingga dia yakin ekspresi sedih apapun yang dia tampilkan bukanlah bentuk kesedihan yang sebenarnya. Perempuan itu sedang berpura-pura, yakin Doni dalam hati.
“Don, jadikan aku wanita kamu. Dan sebagai gantinya, manfaatkan aku sesuka kamu.”
Doni menatap Diana dengan ekspresi tak percaya. Dia bertanya-tanya sekeras apa kepala Diana sampai bisa begitu kekeuh dengan niatannya. Bahkan permintaannya semakin konyol saja.
“... manfaatkan aku, Don, aku nggak masalah. Kamu bisa ambil anak ini dan jadikan dia anak kamu dengan Anggun. Aku nggak akan membocorkannya pada Anggun, aku janji itu. Tapi sebagai gantinya, jadikan aku wanita kamu.”
“....”
“Nikahi aku secara siri dan ambil anak ini. Manfaatkan aku sesuka kamu, Don. Aku rela.”
Dan detik itu juga Doni tahu kalau Diana memang sudah gila.