DIANA DAN KABAR BURUKNYA

1609 Words
Sebulan kemudian. From: 0821-xxxx-xxxx Don, aku hamil. Aku ngga bohong. Pagi ini aku cek dengan 3 testpack yang berbeda dan semua hasilnya positif. –Diana Tangan Doni bergetar saat membaca pesan masuk dari nomor yang tak dikenalnya. Dan meskipun nomornya tak dikenal, tapi nama yang diselipkan di bawahnya cukup untuk menunjukkan identitas pengirimnya. Doni meremas ponselnya kuat-kuat. Cobaan apalagi ini, Tuhan? Doni sadar diri kalau dirinya bukan orang yang sangat baik. Tapi dia juga bukan orang jahat yang suka merusak kehidupan orang lain demi egonya sendiri. Sehingga semua cobaan yang datang ini terasa sangat tidak adil bagi pria itu. Dosa apa yang sudah dia lakukan sampai pantas mendapat karma seperti ini? Benaknya bertanya-tanya. Tanpa memikirkan apapun lagi, Doni langsung menghapus pesan itu. Dia khawatir Anggun akan melihat pesan itu dan menimbulkan kecurigaan nantinya. Anggun memang bukan tipe istri yang suka memeriksa ponsel suaminya, tapi Doni perlu berjaga-jaga karena isi pesannya pun sangat sensitif. Doni tidak rela pernikahannya hancur hanya karena orang-orang yang tidak suka dengan rumah tangga mereka. Tak lama berselang, ada satu pesan masuk lagi. Matanya membulat saat pesan itu datang dari Mamanya dan isinya pun hampir serupa yaitu membahas kehamilan Diana yang tidak terduga ini. From: Mama Diana hamil. Kamu udah tahu kan? Siang in dateng ke rumah Mama. Kita perlu berbicara. Doni langsung menyugar rambutnya dengan kasar. Semuanya semakin runyam. Bagi Doni memang ini berita menjijikkan, tapi bagi mereka yang memang ingin menghancurkan rumah tangganya –ini adalah berita yang luar biasa baik. Mamanya dan Diana pasti sedang bersuka cita dengan berita ini. Lagi-lagi Doni menghapusnya karena nama Diana dan kehamilannya disebut-sebut. Doni benar-benar tidak ingin Anggun tahu tentang semuanya kesialan yang menimpa rumah tangga mereka. “Mas, kenapa kok mukanya bingung gitu?” Doni terlonjak mendengar suara Anggun. Sudah tidak ada pesan tentang Diana dan kehamilannya, tapi spontan saja Doni berusaha menyembunyikan handphone-nya. Ternyata beginilah rasanya menyembunyikan sesuatu. Perasaan gelisah luar biasa akan mendominasi kalau ada hal yang tidak terduga muncul. “Kamu bikin aku kaget aja, sayang.” Kata Doni dengan suara sebiasa mungkin meski wajahnya tampak memerah luar biasa. “Aku tuh daritadi manggilin kamu lho, tapi kamunya aja yang nggak denger.” “Sorry, lagi fokus sama pesan yang dikirim atasan. Kenapa emangnya?” Doni meminta maaf lalu menebar senyum yang sering dia tampilkan saat merasa menyesal. Dia harus terlihat biasa saja agar Anggun tidak mencurigai apapun. “Ayo sarapan, aku udah selesai masak tuh. Aku juga udah siapin bekal yang kamu minta. Nanti kalo kelamaan, makin macet, terus kita sama-sama telat ke kantor.” “Oh iya...” Doni bangkit dan terlihat linglung. Dia ingin meletakkan ponselnya tapi ragu. Dan Anggun menyadarinya. Anggun mengambil ponsel suaminya dengan mudah lalu meletakkannya dengan cepat ke atas ranjang. Doni langsung gelisah, tapi tarikan tangan istrinya yang cepat membuat Doni sadar kalau sikapnya salah. Anggun tidak ingin melihat isi ponselnya. Dia hanya meletakkannya dan segera menarik suaminya agar segera menuju ruang makan dan sarapan bersama. “Udah ayo sarapan dulu. Handphone-nya nggak akan ilang kok kalo ditinggal bentar.” “I-Iya...” *** “Nggun...” Anggun yang sudah memegang gagang pintu mobil langsung mengurungkan niatnya. Dia menatap suaminya dengan bingung. “Iya, Mas?” “Kamu tahu kan kalo aku cinta banget sama kamu?” kata Doni dengan mimik serius. Bukannya ikut memasang ekspresi serius atau tersentuh, Anggun malah tertawa terbahak-bahak. Perempuan itu memukul bahu suaminya sambil lalu. “Nggak usah gombal pagi-pagi bisa nggak sih? Nanti aku dikira gila lagi sama karyawan kantor yang lain karena dateng-dateng senyum terus.” Kata Anggun mengeluh. Doni serius karena hatinya begitu diliputi kegundahan, tapi Anggun yang tidak tahu apa-apa sama sekali tidak menyadarinya. Baginya, suaminya gombal. Dan itu adalah sikap wajar yang sering dilakukan suaminya. Doni berusaha tersenyum. Memang sebaiknya Anggun tidak menyadari sesuatu. Kehancuran di depan mata biarlah Doni sendiri yang menghalaunya. “Nggak apa-apa dong. Kan gombalnya sama istri sendiri.” Celetuk Doni yang dihadiahi dengusan Anggun. Doni terkekeh. “Ya udah masuk sana. Katanya bos kamu bossy banget, pasti jengkelin banget kalo kamu telat meskipun cuma sebentar aja.” Anggun mengangguk membenarkan. “Aku pergi ya, Mas. Kamu hati-hati di jalan.” Jangan pergi dari hidup aku ya, Nggun, batin Doni bersuara sendu. Anggun hanya pergi ke kantor, tapi kenapa hatinya segelisah ini? Pasti karena Diana dan rencananya. Anggun melambaikan tangan dan Doni pun membalasnya dengan senyum lebar. Setelah sosok istrinya menghilang, senyum di wajah Doni pun menghilang. Tangannya meremas setir dengan kuat kala teringat nanti siang akan ada pertarungan sengit antara dirinya melawan Mamanya dan Diana yang kekeuh ingin menghancurkan rumah tangganya. Doni tidak akan membiarkan hal itu terjadi, meski pada akhirnya dia akan dicap sebagai anak durhaka atau apapun. Dia memperjuangkan Anggun dengan sepenuh hati, jadi dia pun tidak rela apa yang diperjuangkannya hancur seketika. *** Jam belum menunjukkan waktu makan siang, tapi Doni terlalu tidak tenang untuk menunggu lebih lama lagi. Dia memutuskan meninggalkan pekerjaannya lebih awal dan izin untuk pergi menemui Mamanya sampai jam makan siang. Begitu sampai di rumah Mamanya, jantung Doni berdetak dua kali lebih cepat. Ada perasaan marah dan tidak suka melihat kediaman di mana dirinya pernah dibesarkan di rumah tersebut. Dan perasaan tidak sukanya semakin kentara saat memasuki kediaman rumah Mamanya dan mendengar suara perempuan tertawa dengan bahagia. Itu Mamanya dan Diana, Doni yakin sekali. Dan yang membuat Doni semakin marah adalah kenapa mereka bisa sebahagia itu di saat rumah tangganya terancam hancur karena ulah mereka? Apakah mereka berdua berhati batu? Doni menghormati Mamanya karena perempuan tua itu yang sudah melahirkannya ke dunia dan merawatnya dengan baik selama ini. Begitu juga pada Diana. Dia sangat menghargai perempuan itu karena mereka adalah tetangga dan teman sepermainan. Selain itu juga karena Diana mampu menyenangkan Mamanya dengan sikapnya yang manis karena Mamanya tidak memiliki anak perempuan. Lalu kenapa sikap hormat dan sangat menghargai yang dia lakukan justru dibalas seperti ini? Wajah Doni semakin muram saat kakinya terus melangkah dan mendapati Mamanya dan Diana duduk berhadapan di coffe table. Tidak ada tawa keras, tapi Doni tahu kalau mereka sedang berbahagia sekarang. “Mama pikir kamu nggak akan dateng, tapi ternyata kamu dateng lebih awal, Don.” “Apa yang mau dibicarain? Kita selesaikan dengan cepat karena aku sangat sibuk.” Kata Doni dengan nada muak yang kentara sekali. Bahkan dia tidak sudi menatap Mamanya yang saat ini menatapnya dengan sengit. Dia terlalu lelah untuk menebar kebencian. Sang ibu menghela napas. “Diana hamil.” “Terus?” Jawaban singkat dari anak laki-lakinya itu menyulut emosi sang ibu. “Ya terus kamu harus bertanggungjawab, Don!” “Memang benar itu anak aku, tapi aku nggak meniduri Diana dengan sukarela. Malah dia yang meniduri aku, Ma. Dia yang mau anak itu ada di rahim dia. Jadi ya dia yang harus bertanggungjawab, bukan aku.” Jawab Doni dengan entengnya. Ini bukan sikap gentleman, tapi sikap ini adalah sikap yang tepat kalau tidak mau rumah tangganya berantakan. “Don, kamu gila?!” sang ibu murka. Tapi Doni mengangkat bahunya dengan cuek. “Dan bukankah aku juga udah bilang, apapun keadaannya, aku nggak peduli sama sekali. Anak itu atau Diana –aku nggak mau peduli. Mau dia pergi ke Singapura lagi dan merawat anak itu, silakan. Atau kalau dia terlanjur malu sudah seperti ini, ya silakan juga kalo mau digugurkan. Aku benar-benar nggak peduli.” “Don, kenapa kamu sejahat ini?! Kenapa anak laki-laki Mama jadi pengecut seperti ini, hah!” “Aku pengecut, Ma?” Doni terkekeh. “Kalau aku memang meniduri Diana secara sukarela, aku nggak akan berpaling dari tanggung jawab aku. Tapi ini semua rencana kalian! Kalian yang menjebak aku ada di posisi ini! Lalu kenapa kalian menuntut tanggung jawab dari korban? Kalian jangan konyol.” Doni menyindir. “Dan kalau kalian bilang aku jadi orang yang jahat, maka dengan tegas aku katakan kalau kalianlah yang membuat aku jadi seperti ini. Dari kalian aku belajar bahwa menjadi jahat ternyata nggak buruk-buruk amat.” “Katakanlah kamu memang membenci Diana dan Mama, tapi anak yang ada di perut Diana adalah anak kamu. Darah daging kamu!” Ibu Doni membentak. “Dan anak itu nggak bersalah, Don. Kamu tega membiarkan anak itu menanggung semua dosa kami?” tambah sang ibu sambil menyentuh perut Diana yang masih datar. Penglihatan Doni mengikuti arah tangan Mamanya, dan sejenak dadanya berdesir. Benarkah anaknya sedang bertumbuh di perut Diana? Kenapa bukan di perut Anggun, ya Tuhan? Seandainya dia datang dan tumbuh di rahim yang tepat, aku pasti akan sangat senang menerimanya. Batin Doni bersuara. Tapi kemudian Doni kembali mengeraskan rahangnya. Dia memalingkan wajahnya ke sisi lain. “Kalau kamu membiarkan anak ini lewat begitu saja, apa kamu pikir kamu akan segera dapet kesempatan mendapatkan anak lagi? Anggun belum tentu hamil dalam waktu dekat, dan kamu mau merelakan anak yang benar-benar ada untuk pergi begitu saja? Sekali lagi Mama tekankan, ini anak kamu, Don.” “Tapi bukan Anggun ibunya, Ma!” Doni membentak dengan keras. “Apa Mama pikir Anggun akan menerimanya dengan sukarela? Yang ada Anggun akan meninggalkan aku tanpa pikir panjang!” “....” “... Dan aku nggak mau Anggun sampai meninggalkan aku. Aku nggak bisa.” Tambah Doni dengan suara sendu. Diana mengamati dan terluka diam-diam. Kenapa Doni harus sampai seperti ini untuk perempuan yang penuh kekurangan seperti Anggun, batinnya bertanya-tanya. “Kalau begitu Anggun nggak perlu tahu ini anak kamu, Don!” Sang Mama balas membentak. “Ada banyak cara untuk mendapatkan anak. Adopsi, misalnya. Kamu cukup tahu kalo ini anak kamu dan kamu berpura-pura mengadopsinya. Masalah beres detik itu juga.” Doni terdiam. Jiwanya mulai gelisah karena sadar kalau ini salah, tapi ada desir-desir senang yang melingkupinya. Bahkan hatinya pun mulai bertanya-tanya apakah rencana Mamanya bisa terlaksana atau tidak. “Daripada kamu mengadopsi anak yang nggak jelas, Don, jadi lebih baik kamu mengakui ini saja.” Mamanya masih meyakinkan dan Doni semakin tak tenang. “Mama dan Diana juga nggak akan sebodoh itu membocorkan tentang anak ini ke Anggun.” “Mama... Mama bercanda kan?” Doni terbata. Dia sendiri pun tidak tahu bagian mana yang dianggapnya bercanda. “Mama hanya mau cucu, Don. Terlepas siapa perempuannya, Mama hanya mau cucu. Kamu denger apa kata Mama?” Sang ibu menegaskan. “Dan Mama akan sangat bersyukur kalo itu bener-bener cucu Mama meski bukan dari istri sah kamu alih-alih kamu egois dan memilih mengadopsi anak kecil yang nggak jelas.” Doni tahu ini salah, tapi entah kenapa ada celah kecil dalam dirinya yang berhasil dimasuki saran Mamanya yang tidak masuk akal. Seketika perasaan dilema muncul. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD